Harap Waspada, Ada Penyakit Kulit Berbenjol Menyerang Sapi

Contoh penyakit kulit berbenjol pada ternak sapi di Indonesia. Foto: ANTARA

BINTAN (gokepri.com) – Warga Bintan harap waspada, saat ini ada penyakit kulit berbenjol pada sapi yang sedang menjadi ancaman para peternak.

Hal itu diungkapkan oleh Pejabat Otoritas Veteriner Bintan drh Iwan Berri Prima. Ia mengatakan penyakit kulit berbenjol itu disebut juga Lumpy Skin Disease (LSD).

“Selain penyakit mulut dan kuku, saat ini yang jadi ancaman bagi peternak sapi adalah penyakit kulit berbenjol,” katanya di Bintan, Minggu 12 Februari 2023.

HBRL

Saat ini penyakit tersebut menyerang di beberapa wilayah di Indonesia. Iwan meminta pihak-pihak terkait seperti Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, UPTD Rumah Potong Hewan (RPH) serta Puskeswan di Bintan lebih waspada.

Memang diakuinya di Bintan saat ini belum ada laporan atau temuan kasus LSD. Tapi para peternak diminta cepat tanggap, salah satunya menghubungi petugas paramedik veteriner atau dokter hewan jika ternaknya sakit.

Beberapa gejala penyakit LSD ini di antaranya adanya lesi kulit berupa nodul atau benjolan berukuran 1-7 centimeter yang biasanya ditemukan pada daerah leher, kepala, kaki, dan ekor.

Sementara itu untuk LSD kategori berat, nodul dapat ditemukan pada hampir seluruh tubuh. Biasanya nodul muncul dengan diawali demam hingga lebih dari 40,5 derajat celcius. Nodul pada kulit ini jika dibiarkan akan menjadi lesi nekrotik dan ulseratif.

“Sapi akan lemah, adanya leleran hidung dan mata, pembengkakan limfonodus subscapula dan prefemoralis, serta dapat terjadi oedema pada kaki,” ungkapnya.

LSD juga dapat meyebabkan abortus, penurunan produksi susu pada sapi perah, infertilitas dan demam berkepanjangan. Namun, gejala klinis LSD dipengaruhi oleh umur, ras dan status imun ternak.

Iwan mengatakan penularan LSD ini terjadi karena dua cara. Pertama, penularan secara langsung, yakni melalui kontak dengan lesi kulit, namun virus LSD juga diekskresikan melalui darah, leleran hidung dan mata, air liur, semen dan susu. Penularan juga dapat terjadi secara intrauterine.

Kedua, penularan secara tidak langsung, misalnya terjadi melalui peralatan dan perlengkapan yang terkontaminasi virus LSD seperti pakaian kandang, peralatan kandang, dan jarum suntik.

“Bahkan, penularan secara mekanis juga dapat terjadi, yakni melalui vektor nyamuk (genus aedes dan culex), lalat (stomoxys sp, haematopota spp, hematobia irritans), migas penggigit dan caplak (riphicephalus appendiculatus dan Ambyomma heberaeum),” ujarnya.

Penyakit LSD ini disebakan oleh virus yang bernama Lumpy Skin Disease Virus (LSDV). Pencegahannya  dapat dilakukan melalui biosecurity yang ketat dan pembatasan lalu lintas orang atau barang keluar masuk kandang.

Meski demikian kata Iwan penyakit ini tidak menular ke manusia.

Baca Juga: Wabah PMK, Ini Bagian Sapi yang Sebaiknya Jangan Dikonsumsi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: Antara

Pos terkait