NATUNA (gokepri) – Cuaca buruk yang melanda Natuna sejak akhir tahun lalu berdampak tidak baik terhadap beberapa aspek kehidupan masyarakat. Salah satu yang terdampak adalah sektor usaha.
Setidaknya ada tiga dampak cuaca yang dialami dan sering dikeluhkan para pelaku usaha. Diantaranya pasokan barang yang tidak stabil, jumlah pembeli kurang dan yang terparah mereka tidak bisa menjalankan usahanya karena faktor cuaca yang sangat buruk.
Ketiga dampak cuaca diatas paling parah melanda usaha masyarakat yang beroperasi di pinggir pantai. Saking parahnya keadaan, mereka tidak banyak yang sanggup membuka warungnya.
Man, seorang pelaku usaha pinggir pantai di Natuna mengaku sudah sekitar dua minggu ini usahanya kacau. Warungnya yang berada di pinggir pantai itu selalu sepi pengunjung.
“Memang parah, kemarin cuma dapat jualan Rp50 ribu dalam sehari. Tak ada orang datang belanja, mungkin karena ujan dan angin yang kencang ini,” katanya, di Ranai, Rabu 1 Februari 2023.
Namun begitu, ia mengaku bersyukur karena masih bisa membuka warungnya dalam keadaan seperti ini meskipun jumlah pembeli menurun drastis.
“Tapi untungnya kami masih bisa buka karena warung kami masih agak kuat menahan angin dan lebih aman sikit dari gempuran ombak besar. Warung-warung yang lain banyak juga yang tak sanggup buka,” terangnya.
Ia mencontohkan warung-warung Pantai Piwang yang berada di pelataran Jalan Soekarno-Hatta, Ranai.
Di lokasi tersebut terdapat puluhan warung siap saji yang saban hari beroperasi melayani pembeli mulai sore hari sampai menjelang dini hari.
Warung-warung tersebut beroperasi menggunakan fasilitas bongkar pasang atau tidak permanen, sehingga keberadaannya mudah terganggu dengan angin kencang dan ombak besar. Akhirnya mereka terpaksa tutup untuk sementara waktu.
“Itu karena warung-warungnya pakai rombong dorong, pakai kursi plastik, tenda payung dan terpal. Jadi kalau disapu angin, melayang semua benda-benda itu, belum lagi mereka dekat sekali dengan hempasan ombak. Jadi mereka tak sanggup buka dan pembeli pun mungkin juga malas ke sana,” Papar Man.
Ia memperkirakan kondisi ini akan mulai membaik setelah lima hari awal bulan Februari ini, karena secara tradisional masyarakat Natuna meyakini pancaroba cuaca musim utara di Natuna mulai berangsur surut setelah upacara Cap Go Meh selesai dilaksanakan.
“Biasanya kalau udah Sembahyang Cina, cuaca mulai berangsur membaik, ni Sembahyang Cina tanggal lima. Berarti mulai tanggal lima perkiraan saya itu cuacanya lebih bagus, tapi keadaan cuaca akan bagus secara total nanti setelah masuk bulan tiga. Di bulan puasa nanti, cuaca bagus betul tu,” jelasnya.
Berdasarkan rilis BMKG terkait cucaca di Natuna menyatakan bahwa tinggi gelombang di laut Natuna dan perairan Selatan Kepulauan Natuna-Midai sekitar 1,25 meter – 2,5 meter.
Sedangkan tinggi gelombang di wilayah laut Natuna Utara, perairan utara Kepulauan Natuna, perairan Barat Kepulauan Natuna, Perairan Kepulauan Subi dan Serasan setinggi 2,5 meter-5 meter.
Sementara kecepatan angin diperkirakan secara rata-rata di wilayah Natuna berkisar antara 15 knot sampai 27 knot.
Kondisi ini juga diperkirakan dapat menimbulkan puting beliung, hujan lebat disertai kilat dan petir, hujan es dan lain-lain.
Seluruh kondisi di atas diperkirakan terjadi mulai tanggal 1 sampai tanggal 4 Februari 2023.
Dengan demikian BMKG menghimbau kepada masyarakat yang tinggal dan berkatifitas di pesisir sekitar area yang berpeluang terjadinya gelombang tinggi agar tetap selalu waspada.
Baca Juga: Angin Kencang, Listrik di 3 Kecamatan di Natuna Padam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Penulis: Usman









