Menantang Angin Utara demi Dapat Ikan atau Jadi Kuli agar Bisa Makan

Angin Utara
Nelayan sedang mengantar penumpang untuk menyeberang antar pulau. Jasa antar penumpang marak ketika nelayan di pesisir Batam tak bisa melaut karena musim Angin Utara yang biasanya datang akhir hingga awal tahun. (foto: gokepri/Engesti)

Kehidupan nelayan di pesisir Pulau Batam berubah saat musim Angin Utara. Sebagian memilih beradu nasib di darat agar tetap berpenghasilan. Sebagian nekat melaut demi sekotak ikan.

Batam, Engesti

Ketika Angin Utara masih berhembus pada bulan Februari 2022, menjadi momok yang menakutkan bagi nelayan. Seperti yang dirasakan oleh para nelayan di Punggur, Batam, Kepulauan Riau.

Ketika angin kencang begini, biasanya mereka lebih memilih untuk bekerja di darat, sebagai kuli panggul atau mengantar orang untuk menyeberang antar pulau, istilah lainnya nambang.

Namun, tak jarang demi mengisi kantung dan perut, gelombang tinggi dan angin kencang pun tak membuat nyali mereka ciut untuk melaut.

Rahmad, 48 tahun dan beberapa temannya yang menggantungkan hidup dari laut selalu tak menghiraukan Angin Utara itu. Di pikiranya hanya bagaimana boks kosong sterofom itu berisi ikan.

“Kalau tak melaut mau makan apa, biaya sekolah anak bagaimana,” kata Rahmad yang sudah puluhan tahun menjadi nelayan.

Pagi itu, satu persatu dari mereka meniti jembatan kayu panjang. Jembatan yang menjadi saksi sejarah perjuangan Rahmad dan temannya Muhammad Saleh mencari nafkah. Mereka siap untuk mengarungi gelombang tinggi demi anak istri. Tak lupa perlengkapan tradisional untuk perjuangan mereka seperti; jaring angkat, tombak, bubu, dan pancing masuk masuk kedalam perahu.

Perahu yang panjangnya 6-8 meter dan lebar 1,5 meter itu juga harus dicek dan dipastikan tidak ada yang rusak. Itu penting bagi mereka sebelum menyisir lautan melawan angin kencang. Mereka juga harus menyiapkan solar (bahan bakar) lebih sebelum melaut.

“Musim angin ini kalau tidak kuat modal jangan coba-coba lah turun laut. Terok,” katanya.

Menurut Rahmad, kehidupan sebagai nelayan tradisional tidaklah mudah. Saat berlayar mereka harus menghadapi ombak dan badai laut yang tak bersahabat.

Rahmad berkisah, dahulu sebelum adanya perahu bermesin motor, mereka melaut hanya bisa pada malam hari. Sebab perahu sederhana milik mereka, dapat bergerak hanya karena adanya bantuan angin.

“Sekarang lebih mudah ada mesin. Tapi, boros di uang, musim angin harus lebih beli solar,” katanya.

Baginya, kegiatan mencari ikan sangat tergantung pada cuaca. Jika, cuaca mendukung nelayan hampir setiap hari pergi melaut.

Tapi, meski cuaca bulan ini tidak bersahabat sebagai nelayan dirinya tetap berani melaut. Hanya saja jangkauannya diperkecil dan waktu mencari ikan diperpendek, misal yang biasa 14 hari bisa jadi 7 hari atau kurang dari itu.

“Penghasilan jelas menurun biasanya bisa bawa pula 8 boks ikan sekarang cuma 2 boks atau bahkan 1 boks,” katanya.

Rahmad mengatakan tak semua ikan mereka perjualbelikan di pasar. Sebab sebagai pemasok paling utama, mereka juga bekerja sama dengan juragan ikan alias tauke ikan. Tentunya sesuai dengan sistem jual beli yang disepakati.

“Biasanya tauke sudah disini mau beli ikan kami,” katanya.

Tergantung Cuaca

Rekan Rahmad, Muhammad Saleh, menyatakan, perkerjaaan sebagai nelayan tidaklah mudah. Semua tergantung cuaca. Bahkan tak jarang dirinya melaut hanya cukup untuk kebutuhan makan untuk anak dan istri.

Ini seakan menepis anggapan bahwa pekerjaan sebagai nelayan merupakan perkara mudah.

“Semua tergantung cuaca. Kadang kalau cuaca bagus bisa lah turun pagi besok atau lusa baru pulang. Tapi kalau cuaca tak bagus macam sekarang ini pergi pagi sore balek,” katanya.

Saat mencari ikan yang menjadi incaran nelayan ikan Kurau. Saat ini Kurau sudah temasuk ke dalam kategori jenis ikan langka. Dagingnya yang bertekstur lunak merupakan favorit negara tetangga, Malaysia dan Singapura. Mengingat tingginya angka permintaan pasokan dari kedua negara tersebut. Sebulan sekali para tauke akan mengekspor ikan-ikan itu dengan harga yang lebih tinggi.

“Ikan Kurau memiliki nilai ekonomis yang tinggi di pasaran sehingga menjadi sasaran tangkap utama bagi nelayan. Harga perkilogram Kurau yaitu rata-rata Rp100.000. Tetapi harga ikan Kurau dapat berbeda-beda tergantung musimnya,” katanya.

***

Baca Juga Artikel Feature yang Lain:

Pos terkait