Selisih Harga Makin Lebar dengan Elpiji Nonsubsidi, Gas Melon Makin Dicari?

Harga LPG nonsubsidi
Petugas menyusun LPG nonsubsidi yang dikeluarkan Pertamina. - Istimewa

Batam (gokepri.com) – Kenaikan harga elpiji nonsubsidi berpotensi mendorong terjadinya migrasi konsumen yang akan lebih memilih elpiji 3 kilogram atau gas melon. Pengendalian distribusi oleh Pertamina dan pemerintah memegang kunci agar pasokan gas subsidi sampai ke dapur warga miskin.

Sejak awal 2022, harga elpiji nonsubsidi naik. Di Batam, ukuran 12 kilogram yang biasanya seharga Rp142.000 di minimarket kini melonjak jadi Rp175.000 per tabung. Sedangkan ukuran 5,5 kilogram menjadi Rp79.000 per tabung dari biasanya Rp69 ribu. Gas melon atau elpiji subsidi 3 kilogram harganya tetap sesuai harga eceran Rp20.000 per tabung.

Selisih harga elpiji tersebut bertambah lebar setelah kenaikan harga baru. Harga elpiji 3 kilogram misalnya yang ditetapkan pemerintah Rp4.750 per kilogram dengan harga ritel bisa mencapai Rp20.000 per tabung, atau bisa sampai Rp22.000 di pengecer di Batam.

HBRL

Pada elpiji 12 kilogam nonsubsidi, dengan harga Rp163.000 per tabung, per kilogramnya sebesar Rp13.500. Dengan perhitungan di tingkat pengecer, ada selisih Rp83.000 atau Rp6.900 per kilogram dari elpiji bersubsidi dengan nonsubsidi.

Maka, dengan kenaikan harga elpiji nonsubsidi patut diwaspadai penambahan konsumsi elpiji subsidi karena tabungnya sendiri mudah diperoleh di warung-warung.

“Mulai hitung-hitung ini soalnya naiknya tinggi juga elpiji 12 kilogram,” ujar Aris Setiawan, 37 tahun, warga Batam Center, Rabu 5 Januari 2022.

Bukan hanya Aris yang tergoda memakai gas melon, beberapa ibu-ibu rumah tangga mengaku kenaikan harga elpiji nonsubsidi akan menambah pengeluaran dapurnya. “Lumayan juga naiknya Rp30 ribuan,” sambung Putri Larasati, 30 tahun.

Pemilik rumah makan juga mengeluh. Fikri yang punya kedai kuliner di bilangan Batam Center berencana menaikan harga makanannya karena ia memakai elpiji 12 kilogram yang dianggap kenaikan harganya kurang tepat waktunya. Tapi ia tak berencana beralih ke gas melon meski mengeluh kenaikan harga elpiji 12 kilogram. “Kalau naik ya jangan jauh begitu,” kata dia.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan kenaikan harga LPG nonsubsidi tidak berdampak terhadap konsumsi LPG secara keseluruhan.

Namun, kondisi itu akan membuat terjadinya peralihan pola konsumsi masyarakat dari yang sebelumnya menggunakan nonsubsidi menjadi ke LPG yang disubsidi pemerintah.

Ia berharap kenaikan harga LPG nonsubsidi tidak berdampak secara signifikan terhadap migrasi, mengingat pengguna produk tersebut adalah masyarakat kelas menengah ke atas.

“Hal ini sepertinya akan berdampak terhadap kuota LPG subsidi. Harapannya kenaikan ini tidak berdampak secara signifikan terhadap migrasi, mengingat pengguna LPG nonsubsidi adalah masyarakat menengah ke atas,” katanya dilansir dari Bisnis.com.

Sedangkan PT Pertamina (Persero) menyatakan akan mengantispasi migrasi konsumen ke elpiji subsidi dengan sebatas edukasi dan pengawasan distribusi.

Section Head Communication and Relation PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Agustiawan mengungkapkan perseroan meminta pengguna gas nonsubsidi untuk tak beralih ke gas subsidi.

Dia menegaskan pengguna gas subsidi hanya diperuntukkan masyarakat miskin. Pertamina akan memastikan stok dan distribusi LPG berjalan dengan maksimal.

“Kepada masyarakat untuk dapat menggunakan LPG sesuai dengan peruntukannya, sehingga subsidi bisa lebih tepat sasaran. Karena LPG subsidi (3 kg) hanya untuk keluarga miskin,” kata dia.

Pihaknya juga akan melakukan edukasi kepada masyarakat agar penyaluran gas LPG lebih tepat sasaran. “Agar tepat sasaran,” katanya.

Agustiawan juga menjelaskan kenaikan Harga LPG Pertamina masih kompetitif yakni sekitar Rp11.500/Kg per 3 November dibandingkan Vietnam sekitar Rp 23.000/Kg, Filipina sekitar Rp 26.000/Kg, dan Singapura sekitar Rp 31.000/Kg.

Terkait data konsumsi gas LPG di Kepri pihaknya belum dapat memberikan dengan alasan bisnis. Namun, kenaikan Harga LPG Pertamina masih kompetitif yakni sekitar Rp11.500/Kg per 3 November dibandingkan Vietnam sekitar Rp23.000/Kg, Filipina sekitar Rp26.000/Kg, dan Singapura sekitar Rp31.000/Kg.

Hanya saja Agustiawan enggan merinci data konsumsi elpiji nonsubsidi di Batam dan Kepri. “Berhubung data tersebut terkait dengan bisnis kami, kami belum bisa memberikan data tersebut,” katanya.

Secara nasional, konsumsi elpiji subsidi mencapai 92,5 persen, sisanya adalah elpiji nonsubsidi. Sedangkan di Batam, konsumsi elpiji subsidi mencapai 116,4 ton per tahun pada 2020 atau sekitar 35 ribuan tabung per hari.

Seperti diketahui, pada Sabtu (25/12/2021), PT Pertamina (Persero) telah secara resmi menyesuaikan harga jual LPG nonsubsidi yang didorong oleh kenaikan Contract Price Aramco (CPA) LPG di sepanjang 2021 hingga mencapai US$847 per metrik ton pada November 2021. CPA LPG pada November 2021 naik 57 persen dibandingkan dengan Januari 2021, dan menjadi harga tertinggi sejak 2014, sehingga Pertamina harus melakukan penyesuaian harga jual LPG nonsubsidi.

Adapun, besaran penyesuaian harga LPG nonsubsidi yang porsi konsumsi nasionalnya sebesar 7,5 persen itu berkisar Rp1.600–Rp2.600 per kilogram. Pertamina terakhir kali menyesuaikan harga LPG nonsubsidi pada 2017. Padahal, kenaikan harga CPA November 2021 tercatat 74 kali lebih tinggi jika dibandingkan dengan harga LPG nonsubsidi yang belum disesuaikan sejak 4 tahun lalu.

(Penulis: Engesti)

 

Pos terkait