Batam (gokepri.com) – Perusahaan tambang emas PT Archi Indonesia berencana melantai di bursa saham pada Juni 2021. Dana dari Initial Public Offering atau IPO akan digunakan untuk membayar pinjaman dan sisanya operasional tambang.
Archi Indonesia menambang emas di dua lokasi di Sulawesi. Perseroan unit bisnis dari Indonesia Rajawali Corp, yang bergerak di sektor usaha pertambangan, perkebunan, perhotelan dan transportasi.
Aktivitas tambang mulai beroperasi sejak 2011 dan telah memproduksi total 1,9 juta ons (setara dengan 58 ton) emas hingga 2020 dan memiliki cadangan bijih emas sebanyak 3,9 juta ons (setara dengan 121 ton) per akhir Desember 2020.
Wakil Direktur Utama PT Archi Indonesia Rudy Suhendra mengatakan pencatatan saham bertujuan untuk mempercepat rencana pertumbuhan dan meningkatkan tata kelola perseroan melalui pengawasan langsung dari regulator dan masyarakat.
Archi membidik dana dari penawaran umum perdana saham atau IPO sebesar Rp3,974 triliun. Perseroan akan melepas sebanyak-banyaknya 4,968 miliar lembar saham yang mewakili sebanyak-banyaknya 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor setelah IPO dengan harga penawaran di kisaran Rp750 per saham hingga Rp800 per saham.
“Dengan mencatatkan saham perusahaan kami di BEI, Archi bermaksud untuk mempercepat rencana pertumbuhan kinerja perusahaan, dan lebih meningkatkan praktik tata kelola perusahaan yang baik dengan adanya pengawasan secara langsung dari Otoritas Jasa Keuangan OJK dan BEI sebagai regulator, serta masyarakat secara umum,” ujar Rudy dalam jumpa pers virtual di Jakarta, Senin (1/6).
Rudy mengajak masyarakat untuk berinvestasi di saham Archi karena perseroan merupakan salah satu saham yang tercatat di BEI yang memiliki eksposur penuh terhadap bisnis pertambangan emas, di mana emas merupakan komoditas dengan nilai yang stabil dan sangat menarik bagi investor.
“Emas sering dianggap sebagai salah satu komoditas teraman, dengan nilai investasi yang terpercaya serta sustain dari waktu ke waktu,” kata Rudy.
Direktur Keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) Archi Adam Jaya Putra mengatakan dari dana hasil IPO, 90% akan digunakan untuk pembayaran pokok pinjaman Archi Indonesia dan anak perusahaannya, sedangkan sisanya untuk membiayai operasional mereka dan modal kerja.
Archi Indonesia juga telah menunjuk PT Citigroup Sekuritas Indonesia, PT Credit Suisse Sekuritas Indonesia, PT Mandiri Sekuritas, PT BNI Sekuritas, dan PT UOB Kay Hian Sekuritas sebagai penjamin emisi IPO.
Archi Indonesia mengatakan telah memproduksi lebih dari 6,2 ton emas per tahun sejak 2016.
Pada tahun 2020, perusahaan membukukan laba bersih USD123,3 juta. Harga emas telah reli dalam beberapa bulan terakhir dan akan mencatat lompatan bulanan terbesar sejak Juli 2020. (Can/Reuters)
|Baca Juga: Ojek Online Singapura di Bursa Amerika









