Proyek PLTU Setokok, Ekspansi Energi Grup Salim di Batam

Proyek pembangkit listrik tenaga uap dan tenaga surya yang direncanakan Grup Salim di Pulau Setokok, Batam.
Presiden Direktur dan CEO PT Indofood CBP Sukses Makmur, Anthoni Salim. (Yuriko Nakao/Bloomberg)

BIC mengunci pendanaan US$1,58 miliar untuk proyek pembangkit di Setokok. Ekspansi ini menyasar kebutuhan listrik Batam dan Bintan.

BATAM (gokepri) – Kebutuhan listrik kawasan industri Batam menjadi salah satu alasan Grup Salim memperluas bisnis pembangkit. Perusahaan mengunci pendanaan sekitar Rp28,6 triliun untuk tahap awal proyek PLTU dan menyiapkan investasi lanjutan hingga US$3 miliar.

Pendanaan tersebut menjadi bagian dari rencana pembangunan kompleks pembangkit berkapasitas sekitar 2 gigawatt (GW) di Pulau Setokok, Kecamatan Bulang, Batam. Proyek ini menggabungkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara dan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

PT Batamindo Investment Cakrawala (BIC), perusahaan yang berada dalam jaringan bisnis Anthoni Salim, memperoleh komitmen pendanaan dari dua sumber. Pertama, pinjaman perbankan sebesar US$900 juta. Kedua, obligasi konversi dengan nilai pokok maksimal US$683,6 juta.

Baca Juga: Investasi Gallant Venture, Harapan Baru Energi Industri Batam-Bintan

Dengan demikian, total komitmen pendanaan mencapai sekitar US$1,58 miliar. Nilai tersebut setara Rp28,6 triliun berdasarkan asumsi kurs Rp18.151 per dolar AS.

BIC menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman bersama PT Bank Central Asia Tbk, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. Ketiganya bertindak sebagai original mandated lead arrangers dan bookrunner, bersama sejumlah kreditur lain.

Pinjaman tersebut memiliki nilai pokok US$900 juta. Gallant Venture Ltd, perusahaan induk BIC, bertindak sebagai penjamin perusahaan.

Fasilitas pinjaman terbagi menjadi dua bagian. Tranche A berupa pinjaman berjangka maksimal US$450 juta. Sementara itu, Tranche B berupa pinjaman berjangka maksimal Rp7,65 triliun.

Sekretaris Perusahaan sekaligus Direktur Eksekutif Gallant Venture Ltd Choo Kok Kiong mengonfirmasi penandatanganan perjanjian tersebut. Pengumuman itu disampaikan melalui keterbukaan informasi perusahaan yang dikutip Selasa (3/11/2026).

Ads bp batam 2026 baru

“PT Batamindo Investment Cakrawala, anak perusahaan yang dimiliki sepenuhnya oleh perseroan, telah menandatangani perjanjian fasilitas,” kata Choo, dikutip dari Bloomberg Technoz, Selasa 3 November 2026.

BIC menjaminkan sejumlah aset proyek untuk memperoleh fasilitas pinjaman tersebut. Jaminan mencakup mesin, peralatan, aset bergerak, dan tanah milik proyek.

Perusahaan juga menjaminkan piutang proyek dan klaim asuransi. Pengikatan rekening transaksi, jaminan korporasi, serta surat pernyataan kesanggupan dari pihak penjamin turut masuk dalam skema jaminan.

Selain pinjaman bank, BIC menandatangani perjanjian obligasi konversi dengan Broadwood Holding Limited. Perusahaan tersebut berkomitmen memesan obligasi dengan nilai pokok maksimal US$683,6 juta.

Obligasi itu memiliki masa jatuh tempo empat tahun sejak penerbitan. Pemegang obligasi dapat mengonversinya menjadi saham apabila terjadi peristiwa konversi atau conversion event.

Saham hasil konversi berupa saham biasa BIC dengan nilai nominal US$1.000 per saham. Harga konversi mengacu pada jumlah pokok obligasi yang masih terutang dan akan dikonversi.

Perhitungannya menggunakan nilai tukar yang disepakati. Harga konversi juga memperoleh diskon 31,88 persen terhadap valuasi ekuitas BIC setelah memperhitungkan seluruh potensi dilusi.

Meski dapat berubah menjadi saham, obligasi tersebut tetap menjadi kewajiban langsung BIC. Kewajiban itu bersifat tanpa syarat, tidak subordinasi, dan tanpa jaminan.

Konversi dapat terjadi apabila BIC mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, Singapore Exchange (SGX), atau bursa lainnya. Peristiwa konversi juga dapat terjadi jika Gallant Venture menjual saham BIC.

Penjualan saham tersebut harus memperoleh persetujuan tertulis dari pemegang obligasi.

Ekspansi pembangkit untuk kebutuhan industri

Pendanaan awal itu menopang sebagian kebutuhan ekspansi pembangkit di Pulau Setokok. BIC merencanakan investasi keseluruhan sebesar US$2,7 miliar hingga US$3 miliar.

Menurut Choo, investasi tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang perusahaan. Tujuannya menjawab kebutuhan energi yang terus meningkat di kawasan industri Batam dan Bintan.

Aktivitas industri yang meningkat, terutama sektor digital dan pusat data, turut menambah tekanan terhadap infrastruktur energi Batam. Perusahaan menilai keterbatasan cadangan listrik dapat menghambat masuknya investasi baru.

“Margin cadangan listrik di Batam saat ini tidak mencukupi,” kata Choo.

Ia mengatakan kondisi tersebut menyebabkan keterlambatan penyediaan energi bagi investor baru.

BIC membagi rencana pembangunan pembangkit menjadi dua fase. Tahap pertama mencakup tiga unit PLTU superkritis dengan kapasitas masing-masing 350 MW.

Ketiga unit itu memiliki kapasitas gabungan 1.050 MW. BIC juga akan membangun infrastruktur pendukung sebagai bagian dari kompleks pembangkit berkapasitas sekitar 2 GW.

Perusahaan memperkirakan investasi fase pertama mencapai US$1,5 miliar.

Tahap kedua mencakup dua unit tambahan pembangkit batu bara berkapasitas 600 MW. BIC juga merencanakan PLTS berkapasitas 400 MW.

Selain pembangkit, fase kedua mencakup pembangunan kabel bawah laut. Infrastruktur itu akan menghubungkan pasokan listrik ke fasilitas grup di Batam, Bintan, dan Bulan.

BIC memperkirakan investasi fase kedua berkisar US$1,2 miliar hingga US$1,5 miliar.

Jejak kepemilikan Anthoni Salim

Proyek pembangkit di Setokok juga menandai ekspansi Grup Salim ke sektor ketenagalistrikan. Keterlibatan Anthoni Salim berlangsung melalui kepemilikannya di Gallant Venture.

Anthoni Salim menggenggam 73,11 persen saham Gallant Venture melalui sejumlah entitas, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Salah satu entitas tersebut adalah Parallax Holdings Limited (PHL). Perusahaan ini tercatat memiliki 53,76 persen saham Gallant Venture secara langsung.

River Point Venture Limited memiliki 12,3 persen saham secara langsung. Sementara itu, Dornier Profits Limited tercatat memiliki total 53,76 persen saham, termasuk kepemilikan langsung dan tidak langsung.

Selain itu, Parallax Venture Partners XXX Ltd (PVP) memiliki 12,03 persen saham secara tidak langsung. River Point juga tercatat memiliki 7,27 persen saham secara tidak langsung.

Manajemen Gallant Venture menyebut Anthoni Salim memiliki kepentingan atas saham yang dimiliki PHL, PVP, River Point, dan Dornier. Kepentingan tersebut juga mencakup 3.106.688 saham milik PT Elitindo Cintralestari. BLOOMBERG TECHNOZ

Baca Juga: Bersiap Terangi Industri di Batamindo, Gallant Investasi USD3 Miliar Bangun Pembangkit Jumbo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait