Saat Sampah Menjadi Salah Satu Sumber Pendapatan Ibu-Ibu Permata Bandara

Perameliya dan ibu-ibu lainnya memamerkan produk hasil pengolahan sampah kepada awak media. (foto: engesti/gokepri.com)
  • Dari Sampah Menjadi Rupiah

BATAM (gokepri.com) – Matahari sedang terik-teriknya ketika Perameliya (36) membungkuk diantara tumpukan sampah di kawasan Permata Bandara, Kota Batam. Keringat membasahi wajahnya. Di hadapannya, botol-botol plastik bercampur kemasan bekas, kulit buah, dan sisa makanan yang baru dikumpulkan. Satu per satu ia pilah, memastikan setiap jenis sampah masuk ke wadah yang tepat.

“Dipisahkan ya, Ibu-ibu. Sampah plastik sama sisa makanan jangan dijadikan satu,” ujarnya mengingatkan rekan-rekannya.

Tangannya kembali bergerak. Botol plastik disisihkan, kulit buah dikumpulkan, sementara minyak goreng bekas ditampung untuk diolah menjadi lilin aromaterapi. Gerakan itu terlihat sederhana, tetapi Perameliya tahu, dari sampah-sampah itulah ia bisa membawa pulang sedikit tambahan uang untuk keluarganya.

Bagi orang lain, minyak jelantah mungkin tak lebih dari sisa menggoreng yang harus dibuang. Botol plastik bekas pun dianggap tak lagi berguna. Namun, bagi perempuan itu, barang-barang yang kerap berakhir di tempat pembuangan tersebut menyimpan kesempatan yang tak ingin ia sia-siakan.

“Alhamdulillah, bisa menambah penghasilan buat bantu-bantu keluarga. Apalagi suami sedang sakit,” katanya.

Ada alasan mengapa kegiatan itu begitu berarti baginya. Di rumah, kebutuhan terus berjalan, sementara suaminya sedang sakit. Dua anaknya masih menempuh pendidikan, seorang di bangku SMA dan seorang lagi di perguruan tinggi. Biaya sekolah, kebutuhan sehari-hari, dan berbagai pengeluaran rumah tangga tak bisa menunggu keadaan membaik.

Perameliya menyadari, mengandalkan satu sumber penghasilan di tengah situasi seperti itu bukan perkara mudah. Ia ingin membantu, tetapi mencari pekerjaan baru juga bukan hal sederhana. Usia yang bertambah membuat pilihannya terasa semakin terbatas.

“Kebutuhan banyak. Apa-apa butuh uang. Mau kerja, kan umur sudah jauh. Alhamdulillah ada program ini dari Pertamina,” tuturnya.

Kalimat itu meluncur sederhana, tanpa keluhan panjang. Namun, di baliknya tersimpan pergulatan banyak keluarga yang harus mencari cara agar kebutuhan hari esok tetap terpenuhi.

Program pengolahan sampah atau Kampung Inovasi Plastik Permata Bandara (KIMARA) yang diikutinya memberi Perameliya kesempatan untuk tetap produktif dari lingkungan tempat tinggalnya. Ia belajar memilah limbah, mengenal cara mengolahnya, hingga memahami bahwa barang yang selama ini dibuang ternyata bisa menghasilkan pendapatan.

Ads bp batam 2026 baru

Hasilnya mungkin belum membuat hidupnya berlebih. Namun, tambahan uang dari kegiatan tersebut berarti ada sedikit ruang untuk bernapas di tengah kebutuhan keluarga yang tak pernah berhenti. Ia pun tak sekadar memperoleh penghasilan, tetapi juga keterampilan yang sebelumnya tidak dimiliki.

Kini, ketika memilah botol plastik atau mengumpulkan minyak jelantah, Perameliya melihat sesuatu yang berbeda. Di antara barang-barang yang dibuang orang, ada peluang yang bisa dikerjakan dengan tangannya sendiri.

Di bawah matahari yang kian meninggi, ia kembali memilah sampah bersama ibu-ibu lainnya. Tak ada yang bisa memastikan berapa banyak uang yang akan mereka hasilkan hari itu. Namun, bagi Perameliya, setiap sampah yang berhasil diolah adalah satu kesempatan lagi untuk membantu keluarga.

Di Permata Bandara, sampah yang kehilangan nilai bagi sebagian orang justru menjadi jalan bagi Perameliya untuk menjaga harapan tetap hidup demi suami yang sedang sakit dan dua anak yang masih mengejar pendidikan.

Perameliya tidak sendirian. Di RT 01 RW 14, kompleks Permata Bandara, puluhan ibu rumah tangga mengembangkan kegiatan serupa melalui Unit Bank Sampah (UBS) RT One Berseri. Mereka mengumpulkan, memilah, dan mengolah sampah menjadi beragam produk, mulai dari lilin aromaterapi hingga pupuk kompos.

Di antara tumpukan botol plastik dan sisa bahan organik, mereka perlahan membangun usaha berbasis lingkungan. Produk yang dihasilkan bahkan mulai menembus pasar hotel dan perusahaan di Batam.

Kulit buah dari kedai jus, misalnya, tidak langsung dibuang. Bahan tersebut difermentasi menjadi eco enzyme. Sisa makanan dan dapur diolah menjadi kompos maupun pakan maggot, sedangkan minyak jelantah diproses menjadi lilin aromaterapi.

“Ada limbah minyak goreng, sampah kulit buah, dan plastik yang kami olah. Jadi, sampah-sampah itu tidak langsung dibuang tanpa hasil, tetapi kami olah agar menjadi sesuatu,” kata pengelola UBS RT One Berseri, Nella Nelfia.

Produk yang paling menarik perhatian pasar adalah lilin aromaterapi berbahan minyak jelantah. Lilin buatan kelompok tersebut kini menerima pesanan hingga sekitar 100 batang per bulan, dengan harga berkisar Rp38.000 hingga Rp105.000 per batang, bergantung pada ukuran.
Pasarnya bukan hanya warga sekitar. Sejumlah hotel dan perusahaan mulai melirik produk hasil olahan para ibu itu.

“Alhamdulillah, laku. Haris Hotel Batam Center dan Hotel Grand Mercure pernah borong,” ujar Nella.

Pesanan dari sektor perhotelan menjadi bukti bahwa produk hasil pengolahan sampah memiliki peluang untuk berkembang melampaui lingkup usaha rumah tangga. Bagi para ibu, hal itu sekaligus membuka harapan agar usaha yang mereka rintis dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

*Dari 14 nasabah menjadi hampir 200 orang

Perjalanan menuju pasar hotel tidak berlangsung dalam semalam. Pada 2022, UBS RT One Berseri baru dirintis dengan 14 nasabah dan sampah terkumpul sekitar 20 kilogram. Keterbatasan tenaga serta pengetahuan membuat jumlah sampah yang bisa diolah masih sedikit.

Kini, jumlah nasabahnya berkembang menjadi hampir 200 orang. Para anggota tidak hanya belajar memilah sampah, tetapi juga mengikuti pelatihan untuk mengolahnya menjadi produk yang layak digunakan dan dipasarkan.

Perubahan tersebut berjalan seiring pendampingan Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara melalui Aviation Fuel Terminal (AFT) Hang Nadim. Pendampingan itu diwujudkan melalui program Kampung Inovasi Sampah Permata Bandara atau KIMARA, yang menjadi bagian dari tanggung jawab sosial perusahaan serta upaya penerapan prinsip lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG).

Melalui program tersebut, para ibu mendapatkan pelatihan, peralatan pengolahan, serta kendaraan roda tiga untuk mendukung pengangkutan sampah dari warga.

“Pertamina sudah membina kami selama empat tahun. Sekarang kami semakin mandiri dalam mengelola sampah dan pendapatan kami semakin meningkat,” kata Nella.

Menurut dia, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada para ibu untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Sebagian anggota bahkan bisa memperoleh tambahan pendapatan hingga Rp2 juta per bulan, meskipun hasilnya bergantung pada kegiatan dan produk yang dikerjakan.

Bagi keluarga berpenghasilan terbatas, tambahan tersebut cukup berarti untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pengolahan sampah juga memberikan ruang bagi para ibu untuk mengembangkan keterampilan dan kegiatan produktif tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggal mereka.

Usaha itu masih berskala usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Namun, pengalaman memasok produk kepada hotel menunjukkan bahwa kegiatan berbasis komunitas pun berpeluang memasuki pasar komersial jika kualitas dan kontinuitas produksinya terjaga.

*Mengolah sampah di tengah kota yang kewalahan

Apa yang dilakukan para ibu di Permata Bandara berlangsung di tengah persoalan sampah Batam yang semakin mendesak.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam Dohar menyebut timbulan sampah di kota berpenduduk sekitar 1,3 juta jiwa tersebut mencapai 1.185 hingga 1.300 ton per hari. Artinya, setiap orang menghasilkan hampir satu kilogram sampah setiap hari.

“TPA kita itu penuh. Kami tengah berupaya melakukan pengolahan limbah karena sudah terlalu padat,” kata Dohar.

Sampah yang masuk ke tempat pembuangan akhir (TPA) berkisar 800 hingga 1.200 ton per hari. Sementara itu, kebutuhan pengelolaan sampah mencakup penyediaan armada, pemeliharaan sarana, hingga kesejahteraan petugas.

Dohar menilai, persoalan sampah tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Selain dukungan anggaran dan regulasi, keterlibatan masyarakat dalam mengurangi sampah sejak dari sumbernya menjadi bagian penting dari penanganan persoalan tersebut.

“Kesadaran masyarakat itu perlu. Pemerintah pasti melakukan upaya, tetapi masyarakatnya juga harus sadar akan sampahnya sendiri,” ujarnya.

Kegiatan UBS RT One Berseri menjadi salah satu contoh upaya pengurangan sampah dari lingkungan permukiman. Sampah yang masih dapat dimanfaatkan dipisahkan sebelum berakhir di TPA, kemudian diolah sesuai karakteristiknya.

Pengamat lingkungan Batam Hendrik juga mendukung inisiatif tersebut. Menurut dia, persoalan sampah di Batam membutuhkan penanganan yang lebih serius serta inovasi yang melibatkan berbagai pihak.

Ia menilai pola konsumsi masyarakat turut berkontribusi terhadap meningkatnya timbulan sampah. Sekitar 70 persen sampah, menurut dia, merupakan sampah organik sehingga perlu ada kebijakan dan teknologi pengolahan yang sesuai agar volumenya dapat ditekan.

“Pemerintah tidak bisa bergerak sendiri perlu adanya kesadaran. Kesadaran itu bermula dari masyarakatnya,” kata dia.

Pengolahan sampah oleh masyarakat, lanjutnya, perlu didukung kebijakan pemerintah dan penerapan teknologi yang lebih modern. Dengan begitu, upaya pengurangan sampah tidak hanya bergantung pada pengangkutan dan pembuangan ke TPA.

“Kalau dari masyarkatnya sudah sadar akan sampahnya sendiri. Personal sampah menumpuk sudah tidak ada lagi di Batam,” jelas dia.

*Dari lingkungan permukiman menuju pasar yang lebih luas

Di Permata Bandara, pengolahan sampah tidak berhenti pada pembuatan lilin aromaterapi. Sisa bahan organik juga dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian warga.
Pada lahan kosong berukuran sekitar 6 x 12 meter, kompos hasil pengolahan sisa dapur digunakan untuk menyuburkan tanaman kangkung dan jagung. Melalui kelompok wanita tani Siji Sembada, para ibu turut membudidayakan pakcoy dan kangkung secara hidroponik.

Produksinya mencapai sekitar 20 kilogram per bulan. Sebagian hasil panen dijual, sedangkan sisanya dibagikan kepada anggota kelompok. Harga kangkung berkisar Rp2.000 hingga Rp5.000 per ikat.

Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana sampah dari rumah tangga dapat kembali dimanfaatkan untuk menghasilkan produk lain. Sampah organik diolah menjadi kompos, kompos menyuburkan tanaman, sementara sampah anorganik tertentu menjadi bahan baku produk kerajinan dan kebutuhan rumah tangga.

Area Manager Communication, Relations and CSR Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, KIMARA dikembangkan dengan pendekatan ekonomi sirkular, yakni memanfaatkan kembali material yang masih memiliki nilai guna agar tidak langsung berakhir di tempat pembuangan.

“Melalui pembinaan UBS RT One Berseri, kami mendorong masyarakat untuk mengolah sampah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai jual. Program KIMARA ini memberikan dampak lingkungan yang positif, membuka peluang usaha, dan meningkatkan pendapatan masyarakat, khususnya kelompok ibu rumah tangga,” katanya.

Berdasarkan data pengelola program, kelompok tersebut mengelola sekitar tiga ton sampah anorganik setiap bulan, dengan sekitar dua ton di antaranya diolah menjadi produk jadi. Mereka juga mengolah sekitar 41 kilogram limbah buah menjadi eco enzyme, 231 kilogram sampah organik rumah tangga menjadi pakan maggot, serta 39 kilogram menjadi kompos setiap bulan.
Upaya itu turut mengantarkan KIMARA meraih penghargaan dalam lomba bank sampah tingkat Kota Batam dan apresiasi di ajang keberlanjutan tingkat nasional.

Meski demikian, memperluas pasar masih menjadi pekerjaan rumah. Kelompok tersebut perlu menjaga ketersediaan bahan baku, konsistensi kualitas, kapasitas produksi, serta kesinambungan pesanan agar dapat memenuhi kebutuhan konsumen komersial.

Dukungan pemerintah dan pelaku usaha diperlukan untuk mempertemukan produk komunitas dengan pasar yang lebih besar. Hotel dan perusahaan dapat menjadi pelanggan tetap, sementara pembinaan kualitas, pengemasan, sertifikasi yang relevan, dan akses pemasaran dapat membantu meningkatkan daya saing produk.

Jika peluang tersebut berkembang, pasar produk olahan sampah tidak harus berhenti di Batam. Peluang memasok konsumen di daerah lain, bahkan pasar lintas negara, dapat dijajaki secara bertahap sesuai kemampuan produksi dan persyaratan pasar.

Bagi Perameliya dan ibu-ibu lainnya, perjalanan itu bermula dari sesuatu yang sederhana: memilah sampah yang sebelumnya dibuang begitu saja. Kini, di antara botol plastik, kulit buah, dan minyak jelantah, mereka menemukan kesempatan untuk membantu keluarga sekaligus menjaga lingkungan. Sampah yang dahulu dianggap tidak bernilai mulai menghasilkan pendapatan, sementara produk olahannya menemukan tempat di pasar yang lebih luas.

Langkah mereka memang belum menyelesaikan persoalan sampah Batam. Namun, dari satu lingkungan permukiman, mereka menunjukkan bahwa pengurangan sampah dan pemberdayaan ekonomi dapat berjalan beriringan—dengan peluang yang terbuka dari rumah sendiri hingga ke hotel dan korporasi.

Penulis: Engesti

 

 

 

Pos terkait