Apa Kabar Proyek Interkoneksi Listrik Sumatera-Jawa?

PLTS Pulau Sembur berkapasitas 1 MWp untuk memasok listrik dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat pesisir Batam.
Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Pulau Sembur di Batam, Kepulauan Riau. Foto: Pertamina NRE

Pemerintah mengebut pembangunan interkoneksi listrik Sumatera-Jawa. Proyek ini menyalurkan energi hijau ke pusat industri.

JAKARTA (gokepri) – Kebutuhan mendesak kawasan industri terhadap energi bersih mendorong pemerintah mengebut proyek interkoneksi listrik Sumatera-Jawa. Pemerintah merancang transmisi green super grid demi menyalurkan pasokan energi baru terbarukan (EBT) secara utuh pada rentang 2032 hingga 2035 mendatang.

Proyek penyambungan transmisi antarpulau ini membentang sepanjang 70.000 kilometer dengan target perampungan pada 2040. Saat ini Indonesia baru berhasil menyelesaikan satu jaringan kelistrikan interkoneksi secara penuh yakni antara wilayah Jawa dan Bali.

Baca Juga: RUPTL PLN Batam 2023-2032: Pembangkit EBT Menyala 2025, Interkoneksi Sumatra 2030

Pemerintah segera merentangkan kabel serupa menuju Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Riau, serta Bangka Belitung setelah jalur Sumatera-Jawa terhubung. Integrasi sumber energi dari Sumatera ini bernilai krusial bagi pengembangan kawasan ekonomi, pusat pertumbuhan baru, hingga pabrik pemurnian mineral (smelter).

Pemerintah menetapkan penyambungan setrum dari Sumatera menuju Jawa sebagai sasaran prioritas utama saat ini. “Yang kami targetkan segera adalah bagaimana terhubungnya antara Sumatera dengan Jawa terutama,” kata Deputi Bidang Koordinasi Energi dan Sumber Daya Mineral Kemenko Perekonomian Elen Setiadi dalam seminar WRI Indonesia di Jakarta, Rabu 30 September 2026.

Perluasan suplai listrik menuju Kepulauan Riau juga berperan krusial untuk menyokong ekosistem teknologi tinggi yang menuntut energi ramah lingkungan. “Kepulauan Riau, termasuk Batam, itu salah satu tujuan untuk pengembangan data center tidak hanya di Nongsa tetapi di sekitaran Batam, itu sudah sangat berkembang sekali data center-nya,” ujar Elen.

PLN Batam menerbitkan peta jalan kelistrikan 2023-2032 dalam dokumen Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL). Perusahaan mematok penyelesaian infrastruktur interkoneksi Batam-Bintan-Sumatera pada 2030 untuk menyedot pasokan daya sebesar 400 Megawatt (MW).

Dokumen RUPTL tersebut memproyeksikan lonjakan kebutuhan setrum masyarakat Batam dengan rata-rata pertumbuhan enam persen setiap tahun. Perusahaan merespons tren kenaikan permintaan ini lewat rencana penambahan daya total 860 MW hingga tahun 2030.

Ads bp batam 2026 baru

Pasokan baru ini berasal dari kerja sama PT PLN (Persero) 400 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) 50 MW, PLTGU 159 MW, PLTMG 125 MW, serta EBT 126 MW. Pengembangan fasilitas energi surya (PLTS) ini berpusat di wilayah Tembesi dengan suntikan daya awal 42 MW pada 2025. Kapasitas panel surya ini bisa terus bertambah 39 MW menjadi total 81 MW, menyusul kehadiran PLTS Batam 4 berkapasitas 25 MW pada 2026.

PLN Batam terus mematangkan koordinasi bersama berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan keandalan sistem lintas wilayah ini. Langkah transisi menuju emisi nol bersih (Net Zero Emission) ini siap mengevakuasi kelimpahan setrum terbarukan dari Sumatera agar bauran listrik Batam makin hijau.

Baca Juga: Integrasi Pipa Gas Bumi dari Sumatera ke Jawa Kembali Mengemuka

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait