Perjalanan Cadangan Gas Raksasa Natuna-D Alpha

arsari tambang
Hashim Djojohadikusumo, komisaris utama Arsari Tambang saat groundbreaking pabrik tin solder di Kabil, Batam, 10 Mei. Foto: gokepri/Muhammad Ravi

BATAM (gokepri) – Sejak ditemukan pada 1973, cadangan gas raksasa Natuna D-Alpha belum menghasilkan produksi komersial. Setelah lebih dari lima dekade, blok migas di Kepulauan Riau itu kembali memasuki babak baru melalui penetapan PT Nations Petroleum sebagai pemenang lelang wilayah kerja migas 2026.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan perusahaan tersebut dengan bonus tanda tangan US$200.000 dan komitmen pasti US$103,309 juta untuk tiga tahun pertama masa eksplorasi. Nations Petroleum diketahui merupakan bagian dari Arsari Group, kelompok usaha milik Hashim Djojohadikusumo, adik Presiden Prabowo Subianto.

Komitmen tersebut mencakup kajian geologi dan geofisika (geology and geophysics study atau G&G), pengolahan data seismik 3D seluas 591 kilometer persegi, serta satu sumur appraisal dan satu sumur eksplorasi. Pemenang lelang juga harus menyiapkan kajian terpadu CO₂, desain unit percontohan, pekerjaan konstruksi, rancangan biaya EPC, serta pengujian dan pemantauan operasi.

Baca Juga: Pertamina Kembali Kelola Blok East Natuna, Kucurkan Investasi Rp194,5 Miliar

Tahap awal pengembangan Natuna D-Alpha tidak hanya berfokus pada pencarian cadangan gas. Operator baru juga perlu mengkaji cara menangani kandungan karbon dioksida (CO₂) yang tinggi, termasuk melalui rancangan teknologi dan fasilitas pendukung.

Natuna D-Alpha berada di wilayah kerja migas di Kepulauan Riau, berhadapan dengan kawasan Laut China Selatan. Kementerian ESDM mencatat potensi kandungan gas mencapai 222 triliun kaki kubik (TCF), sedangkan potensi minyaknya sekitar 2.865 juta barel (MMBO).

Angka cadangan gas tersebut tidak serta-merta menggambarkan jumlah gas yang bisa diproduksi dan dijual. Kandungan CO₂ yang tinggi menjadi salah satu persoalan utama, sehingga perkiraan gas yang dapat dieksploitasi berada di sekitar 46 TCF.

Perbedaan antara potensi gas dan gas yang bisa dieksploitasi berkaitan dengan karakteristik reservoir, teknologi pengolahan, biaya pengembangan, serta kelayakan komersial. Karena itu, besarnya cadangan tidak otomatis menjamin proyek segera menghasilkan gas untuk pasar.

Komitmen Nations Petroleum mencantumkan tiga paket kajian terpadu CO₂ dan satu unit percontohan desain serta rekayasa (Pilot Unit Design and Engineering). Dokumen lelang juga menyebut satu paket manufaktur, pengadaan, dan konstruksi (Manufacturing, Procurement and Construction), serta dua paket rancangan biaya EPC.

Menunggu Lebih dari Setengah Abad

Ads bp batam 2026 baru

Penemuan Natuna D-Alpha pada 1973 membuka peluang pengembangan sumber gas besar di wilayah Natuna. Namun, proyek tersebut menghadapi rangkaian perubahan operator, persoalan kelayakan bisnis, dan kebutuhan investasi yang besar.

ExxonMobil memperoleh hak partisipasi (participating interest atau PI) pada 1980 melalui anak usahanya, Esso Natuna, dengan kepemilikan 50 persen. Pertamina memegang 50 persen sisanya pada saat itu.

Pada 1996, sebanyak 26 persen PI Natuna D-Alpha beralih ke Mobil Natuna, yang juga merupakan anak perusahaan ExxonMobil. Perubahan tersebut membuat ExxonMobil menguasai 76 persen PI, sementara Pertamina memegang 24 persen.

Pertamina dan Esso Natuna menandatangani kesepakatan pada Januari 1995 yang menetapkan batas waktu pengajuan komitmen pengembangan struktur hingga 9 Januari 2005. Namun, surat komitmen Esso Natuna yang masuk sebelum batas waktu tersebut tidak disertai studi kelayakan (feasibility study atau FS) untuk memastikan kelayakan komersial.

Pemerintah kemudian mencabut hak ExxonMobil pada 2007 karena perusahaan tersebut tidak kunjung mengembangkan blok. Setahun berikutnya, pemerintah menyerahkan pengelolaan Natuna D-Alpha kepada Pertamina.

Pertamina membentuk konsorsium untuk mengembangkan lapangan gas tersebut bersama ExxonMobil, Total Exploration and Production (E&P), Petronas, dan PTT Exploration and Production (PTT EP) Thailand. Konsorsium itu kemudian bubar setelah para anggotanya menghadapi pertimbangan pengembangan dan kelayakan bisnis.

ExxonMobil keluar pada 2017, disusul PTT EP tidak lama kemudian. Pada periode tersebut, Kementerian ESDM memperkirakan kebutuhan investasi untuk mengembangkan Natuna D-Alpha mencapai sekitar US$52 miliar.

Pertamina Hulu Energi (PHE) mengembalikan Blok Natuna D-Alpha kepada pemerintah pada 2022. Perusahaan tersebut memilih memusatkan pengembangan pada Lapangan Arwana dan Barakuda, yang berada di sebelah utara Natuna D-Alpha.

Perjalanan blok itu kembali berlanjut pada 2024 melalui joint study yang melibatkan Kufpec. Perusahaan migas tersebut kemudian dikabarkan menjajaki kerja sama dengan Shell untuk mengembangkan struktur gas Natuna D-Alpha.

Dikutip dari Bloomberg Technoz, Kufpec dan Shell masih membahas kemungkinan kerja sama pada Desember 2025. Setelah joint study rampung, Kufpec juga mengundang sejumlah kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) potensial untuk bergabung dalam proyek tersebut.

Sejumlah KKKS dengan portofolio di lepas pantai Natuna disebut sempat didekati, termasuk PHE dan PT Medco Energi Internasional Tbk. Namun, Direktur Utama Medco Energi Hilmi Panigoro membantah keterlibatan perusahaannya dalam proyek itu.

“Tidak ikut,” kata Hilmi di sela-sela IPA Convex di ICE BSD, Mei 2025.

Sumber Bloomberg Technoz menyebut PHE menarik diri dari tawaran Kufpec karena ingin berfokus pada pengembangan Blok East Natuna. Portofolio PHE tersebut berada di sebelah struktur gas Natuna D-Alpha.

Perwakilan manajemen Kufpec Indonesia, Ichsan Samiron, tidak memberikan komentar mengenai penjajakan dengan Shell. “Untuk sementara ini kami belum bisa berkomentar mengenai hal tersebut,” ujarnya saat dihubungi.

Sementara itu, Vice President Corporate Relations Shell Indonesia Susi Hutapea menyatakan grupnya tengah menjajaki peluang investasi di sektor hulu migas Indonesia. Ia menyebut penjajakan tersebut sejalan dengan evaluasi eksplorasi Shell Global, termasuk melalui proses kesepakatan studi bersama hulu migas.

Susi tidak memberikan komentar khusus mengenai pembicaraan dengan Kufpec terkait pengembangan Natuna D-Alpha. Keterangan Shell tersebut tidak memastikan keterlibatan perusahaan dalam proyek Natuna D-Alpha.

Nations Petroleum Masuk melalui Lelang 2026

Kementerian ESDM memasukkan Natuna D-Alpha ke dalam putaran lelang wilayah kerja migas tahap I 2026. Dari enam wilayah kerja yang diumumkan pemenangnya, Natuna D-Alpha menjadi blok dengan komitmen pasti terbesar.

Enam wilayah kerja tersebut adalah Sapukala, Natuna D-Alpha, Bengara II, Pesut Mahakam, Puri, dan Rupat. Sapukala serta Natuna D-Alpha mengikuti mekanisme penawaran langsung, sedangkan empat blok lainnya menggunakan sistem lelang reguler.

Total komitmen pasti untuk enam wilayah kerja mencapai US$141,512 juta. Pemerintah juga mencatat total bonus tanda tangan sebesar US$1,6 juta.

Rincian Pemenang Lelang WK Migas Putaran I 2026

1. WK Sapukala

Eni Indonesia Limited

Penawaran langsung

Bonus tanda tangan

US$200.000

Komitmen pasti (3 tahun)

US$8 juta

Komitmen: dua paket G&G Study serta akuisisi dan pengolahan data seismik 3D seluas 1.500 km².

2. WK Natuna D-Alpha

PT Nations Petroleum

Penawaran langsung

Bonus tanda tangan

US$200.000

Komitmen pasti (3 tahun)

US$103,309 juta

Komitmen: tiga paket G&G Study, seismik 3D 591 km², satu unit percontohan desain dan rekayasa, tiga paket kajian terpadu CO₂, satu paket manufaktur, pengadaan dan konstruksi, dua paket rancangan biaya EPC, satu sumur appraisal, satu sumur eksplorasi, serta satu paket operasi, pengujian multimode, dan pemantauan.

3. WK Bengara II

Sinopec International Energy Investment (HK) Holdings Limited

Lelang reguler

Bonus tanda tangan

US$300.000

Komitmen pasti (3 tahun)

US$16,5 juta

Komitmen: tiga paket G&G Study, akuisisi dan pengolahan data seismik 3D seluas 100 km², serta satu sumur eksplorasi.

4. WK Pesut Mahakam

PT Timur Hijau Investama

Lelang reguler

Bonus tanda tangan

US$300.000

Komitmen pasti (3 tahun)

US$7,4 juta

Komitmen: tiga paket G&G Study serta akuisisi dan pengolahan data seismik 3D seluas 235,1 km².

5. WK Puri

PT Timur Hijau Investama

Lelang reguler

Bonus tanda tangan

US$300.000

Komitmen pasti (3 tahun)

US$3,35 juta

Komitmen: tiga paket G&G Study serta akuisisi dan pengolahan data seismik 2D sepanjang 200 km.

6. WK Rupat

Cinda Energy (Hong Kong) Limited

Lelang reguler

Bonus tanda tangan

US$300.000

Komitmen pasti (3 tahun)

US$2,95 juta

Komitmen: tiga paket G&G Study dan satu sumur eksplorasi.

BLOOMBERG TECHNOZ

Baca Juga: Produksi Migas Medco Naik 73 Persen, Didorong Lapangan Belida di Natuna

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait