PAD Batam mencapai Rp2,58 triliun. Pemerintah kota mengejar potensi pajak tanpa menaikkan tarif.
BATAM (gokepri) – Batam punya ruang untuk memperkuat kas daerah dari aktivitas ekonomi yang terus bergerak tanpa menambah beban lewat kenaikan tarif pajak. Strateginya bertumpu pada memperluas basis penerimaan, memperbaiki data wajib pajak, dan mengejar potensi yang selama ini belum optimal.
Dalam data APBD 2026 yang tercantum dalam dokumen Finalisasi Rancangan Kebijakan Umum Anggaran dan Prioritas Plafon Anggaran Sementara (KUA-PPAS) 2027, PAD Batam mencapai Rp2,58 triliun. Angka tersebut berada dalam struktur total pendapatan dan belanja daerah sebesar Rp4,18 triliun.
Baca Juga: PAD Batam Diproyeksi Tembus Rp3 Triliun, Kemandirian Fiskal Menguat
Besarnya PAD memperlihatkan betapa pentingnya aktivitas ekonomi Batam bagi kemampuan pemerintah membiayai pembangunan. Pajak daerah menjadi sumber terbesar dengan penerimaan mencapai Rp2,099 triliun.
Sumber pajak itu datang dari berbagai aktivitas yang dekat dengan kehidupan ekonomi kota. Di antaranya hotel, restoran, hiburan, reklame, penerangan jalan, parkir, mineral bukan logam dan batuan, PBB-P2, serta BPHTB.
Retribusi daerah menjadi sumber PAD berikutnya dengan penerimaan Rp305,19 miliar. Penerimaan tersebut berasal dari retribusi jasa umum, jasa usaha, dan perizinan tertentu.
Komposisi itu membuat pajak daerah menjadi tumpuan utama PAD Batam. Ketika aktivitas perdagangan, jasa, pariwisata, properti, dan industri bergerak, ada penerimaan daerah yang ikut mengalir melalui berbagai jenis pajak.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan PAD menjadi salah satu kekuatan penting bagi pendapatan daerah. “Aktivitas ekonomi di Batam memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan,” kata Amsakar, Selasa, 8 September 2026.
Namun, memperbesar PAD tidak sesederhana menaikkan tarif pajak. Batam juga harus menjaga daya tarik investasi karena perdagangan, jasa, pariwisata, dan industri merupakan bagian penting dari perekonomian kota.
Karena itu, Pemko Batam memilih mengejar penerimaan dari potensi yang sudah tersedia. Digitalisasi perpajakan, pemutakhiran data objek pajak, intensifikasi penerimaan, penagihan piutang BPHTB, dan optimalisasi pajak reklame menjadi sejumlah cara yang disiapkan.
Pendekatan tersebut mengubah fokus dari sekadar mencari sumber pajak baru menjadi memastikan potensi yang sudah ada benar-benar tercatat dan tertagih. Data yang lebih akurat juga membantu pemerintah mengetahui objek pajak yang berkembang seiring pertumbuhan kota.
Reklame menjadi salah satu contoh potensi yang ingin dioptimalkan. Pemko Batam menyoroti penataan reklame, termasuk pemanfaatan videotron, sebagai bagian dari upaya memperkuat penerimaan dari sektor tersebut.
BPHTB juga menjadi perhatian karena berkaitan dengan peralihan hak atas tanah dan bangunan. Optimalisasi piutang dari sektor ini dapat menambah penerimaan tanpa harus mengubah tarif yang menjadi beban baru bagi masyarakat atau dunia usaha.
Amsakar mengatakan pemerintah ingin meningkatkan penerimaan sekaligus mempertahankan iklim usaha. “Yang kami dorong adalah optimalisasi potensi ekonomi daerah,” ujarnya.
Pilihan itu penting bagi Batam karena kemampuan fiskal daerah tidak berdiri sendiri dari kondisi ekonomi kota. Semakin luas aktivitas usaha dan semakin tertib pencatatannya, semakin besar pula ruang pemerintah memperoleh penerimaan untuk membiayai pelayanan publik dan pembangunan.
Bapenda dan BPKAD Batam menjadi bagian penting dalam strategi tersebut. Keduanya perlu memastikan penerimaan dari pajak dan retribusi tercatat dengan baik, potensi baru teridentifikasi, serta kewajiban yang belum tertagih dapat ditindaklanjuti.
Pemerintah juga menghadapi persoalan kepatuhan wajib pajak. Memperluas basis penerimaan tidak hanya berarti menemukan objek pajak baru, tetapi juga memastikan pelaku usaha dan masyarakat memenuhi kewajibannya sesuai aturan.
“Pemerintah terus memperluas basis penerimaan dan mengoptimalkan potensi pendapatan daerah,” kata Amsakar. Ia menegaskan upaya itu tetap diarahkan untuk menjaga iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi Batam.
Baca Juga: Setahun Amsakar–Li Claudia, PAD Batam Tumbuh 32 Persen
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









