Inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19 persen secara tahunan. Tekanan terbesar datang dari harga pangan yang bergejolak.
JAKARTA (gokepri) — Tekanan harga pangan kembali mengerek inflasi nasional pada Agustus 2026, ketika inflasi tahunan naik menjadi 3,19 persen dari 2,88 persen pada Juli. Kenaikan itu terjadi seiring menguatnya inflasi pangan bergejolak atau volatile food hingga 4,06 persen secara tahunan.
Secara bulanan, Indonesia mencatat inflasi 0,21 persen pada Agustus. Angka tersebut berbalik dari kondisi Juli ketika harga-harga secara umum mengalami deflasi 0,14 persen.
Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia Destry Damayanti mengatakan kenaikan inflasi terutama berasal dari kelompok pangan bergejolak. Kondisi tersebut membuat pengendalian harga pangan kembali menjadi perhatian pemerintah dan BI. “Volatile food inflation-nya lagi naik,” kata Destry kepada awak media di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Baca Juga: Inflasi Masih Mengintai, Pemko Batam Pastikan Harga Pangan Terkendali
Inflasi volatile food pada Agustus tercatat 4,06 persen secara tahunan, jauh lebih tinggi dibandingkan 2,52 persen pada Juli. Komponen ini mencakup komoditas pangan yang harganya mudah berubah, antara lain karena pasokan dan permintaan.
Destry mengatakan BI bersama pemerintah pusat dan pemerintah daerah terus menjaga stabilitas harga pangan. Menurut dia, tekanan pada harga pangan menjadi pekerjaan bersama di tengah kenaikan inflasi.
Sementara itu, inflasi inti masih relatif terkendali meski meningkat dari 2,76 persen pada Juli menjadi 2,92 persen pada Agustus secara tahunan. Destry menilai perkembangan inflasi inti menunjukkan aktivitas ekonomi tetap berjalan.
“PR kita bersama-sama menjaga stabilitas di harga pangan,” ujarnya.
Data Badan Pusat Statistik memperlihatkan tekanan inflasi juga terlihat dari sejumlah kelompok pengeluaran. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar.
Kelompok tersebut mengalami inflasi 3,86 persen dan memberikan andil 1,13 persen terhadap inflasi tahunan Agustus.
Sejumlah komoditas pangan menjadi sumber tekanan terbesar dalam kelompok ini. Di antaranya daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, cabai rawit, dan daging sapi.
“Komoditas dengan andil inflasi terbesar terutama daging ayam ras, ikan segar, minyak goreng, beras, dan cabai rawit,” kata Ateng dalam konferensi pers, Selasa (1/9/2026).
Selain pangan, tekanan inflasi datang dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya. Kelompok ini mengalami inflasi 9,25 persen dengan andil 0,63 persen, terutama akibat kenaikan harga emas dan perhiasan.
Kelompok transportasi juga memberikan tekanan dengan inflasi 4,79 persen dan andil 0,58 persen. Kenaikan terutama berasal dari harga bensin, tarif angkutan udara, pelumas, sepeda motor, dan mobil. BLOOMBERG TECHNOZ
Baca Juga: Kendalikan Harga, Inflasi Karimun Terendah se Kepri Sepanjang Juli 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









