Batam Aero Engine Dorong Batam Jadi Pusat MRO Pesawat Asia
BATAM (gokepri.com) — Batam Aero Engine (BAE), fasilitas Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) untuk mesin pesawat jet, propeller/turboprop, dan Auxiliary Power Unit (APU), resmi diluncurkan di Hangar F Batam Aero Technic, Kota Batam, Kepulauan Riau, Rabu (19/8/2026).
Kehadiran BAE dinilai memperkuat kemampuan Indonesia dalam melakukan perawatan mesin pesawat di dalam negeri sekaligus membuka peluang pengembangan lapangan kerja, tenaga terampil, serta pendidikan dan pelatihan di bidang aviasi.
President Director Lion Group Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi mengatakan, Indonesia masih memiliki keterbatasan dalam menangani perawatan mesin pesawat. Karena itu, keberadaan BAE di Batam menjadi langkah penting untuk meningkatkan kemampuan industri penerbangan nasional.
“Di Batam, Kepulauan Riau, kita bisa membuat satu teknologi yang merawat mesin-mesin pesawat,” katanya saat peluncuran BAE.
Menurut dia, BAE tidak hanya melayani kebutuhan pesawat yang dioperasikan Lion Group, tetapi juga telah memperoleh sertifikasi dari sejumlah negara, seperti Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam dan India.
Dengan sertifikasi tersebut, maskapai dari negara-negara tersebut berpeluang membawa mesinnya ke Batam untuk menjalani perawatan.

Daniel mengatakan, BAE memiliki spesifikasi yang disetujui Kementerian Perhubungan untuk menangani mesin dari sejumlah tipe pesawat, termasuk Airbus dan Boeing.
“Harapannya, semakin banyak kemampuan yang dapat dibangun di Indonesia, khususnya Batam Aero Engine, sehingga semakin kuat industri penerbangan nasional,” ujarnya.
Ia menyebut Batam Aero Technic saat ini memiliki sekitar 5.761 pegawai secara kumulatif, dengan sekitar 2.000 orang bekerja di Batam.
Pertumbuhan fasilitas MRO tersebut juga mendorong kebutuhan akan kawasan pendukung, termasuk hunian bagi tenaga kerja.
Daniel mengataka, pihaknya telah mengajukan penambahan lahan sekitar 19 hektare kepada BP Batam untuk mendukung pengembangan usaha. Sebelumnya, perusahaan juga telah mengajukan kebutuhan lahan sekitar 30 hektare.
“Kami intens berkomunikasi dengan BP Batam supaya paling tidak 19 hektare yang kami rencanakan bisa didapatkan,” katanya.
Sementara itu, Direktur Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Kementerian Perhubungan Sokhib Al Rokhman mengatakan, penerbitan sertifikat AMO 145 bagi PT Batam Aero Engine menunjukkan perusahaan tersebut telah memenuhi persyaratan keselamatan, kualitas dan standar kelaikudaraan sesuai regulasi penerbangan sipil.
Menurut dia, kemandirian MRO menjadi bagian penting dalam memperkuat industri penerbangan nasional.
“Semangat Kemerdekaan ke-81 tahun ini kita canangkan Indonesia harus merdeka melakukan maintenance airframe 100 persen dalam negeri,” katanya.
Ia menilai langkah berikutnya adalah mendorong kemandirian perawatan mesin pesawat atau engine maintenance di Indonesia.
Sokhib menyebut, saat ini kebutuhan perawatan mesin pesawat masih menghadapi antrean panjang. Untuk pekerjaan overhaul mesin tertentu, antreannya bahkan dapat mencapai hampir dua tahun.
Karena itu, keberadaan Batam Aero Engine dinilai dapat menjadi salah satu solusi sekaligus mendorong Batam berkembang sebagai hub MRO regional yang efisien, responsif dan kompetitif di pasar Asia.
“Kompetisi Batam Aero Engine ini menjadi hal yang mandatory untuk kita kerjakan di dalam negeri,” ujarnya.
Ia mengatakan penguatan industri MRO domestik juga dapat mengurangi biaya modal dan devisa yang selama ini dikeluarkan ketika pekerjaan perawatan mesin harus dilakukan di luar negeri.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengapresiasi kehadiran Batam Aero Engine yang dinilainya memberikan efek berganda bagi perekonomian Batam dan Kepulauan Riau.
Menurut Amsakar, dari empat kawasan ekonomi khusus yang ada di Batam, Batam Aero Technic menjadi salah satu kawasan yang paling aktif dan memberikan dampak besar terhadap pergerakan ekonomi daerah.
“Ketika Batam Aero Technic kemudian akan melahirkan lagi Batam Aero Engine, ini sesuatu yang patut kita dukung dan apresiasi,” katanya.
Ia menilai pengembangan industri tersebut tidak hanya berdampak terhadap investasi, tetapi juga membuka lapangan kerja dengan kebutuhan tenaga kerja terampil.
Amsakar menyoroti rencana penyediaan hunian bagi pekerja sebagai bagian dari pengembangan ekosistem industri.
Ia mengatakan pola tersebut berbeda dengan pertumbuhan penduduk yang tidak diikuti peningkatan keterampilan dan lapangan kerja.
“Yang dilakukan Lion Air ini terbalik. Tenaga kerjanya dipersiapkan, perumahan diberikan, gaji yang layak, dan tentu saja menjadi warga yang produktif di Kota Batam,” ujarnya.
Amsakar berharap pola pengembangan ekosistem seperti yang dilakukan Lion Group dapat menjadi referensi bagi pelaku usaha lain yang ingin berinvestasi di Batam.
Di sisi lain, ia menyampaikan kinerja ekonomi Batam terus menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi Batam pada 2025 tercatat 6,76 persen, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 6,69 persen.
Untuk investasi, realisasi sepanjang 2025 mencapai Rp69,3 triliun atau sekitar 115,3 persen dari target yang ditetapkan.
Sementara itu, realisasi investasi Batam pada semester I 2026 mencapai Rp29,89 triliun, meningkat sekitar 62,75 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp18,37 triliun.
“Ini semua karena didukung oleh pelaku usaha yang produktif seperti yang hari ini Batam Aero Engine tunjukkan kepada kita,” kata Amsakar.
Kehadiran BAE diharapkan tidak hanya memperkuat posisi Batam sebagai pusat industri dan investasi, tetapi juga mendorong Indonesia menjadi pemain MRO regional sehingga semakin banyak kebutuhan perawatan pesawat dapat dikerjakan di dalam negeri.
Penulis: Engesti









