Investasi Batam Melaju, Lapangan Kerja Bertambah

Kepala BP Batam Amsakar Achmad saat mengikuti RDP dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra menghadiri Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Gedung Nusantara I, Jakarta, Rabu (17/6/2026). Dalam rapat tersebut, Komisi VI mengapresiasi kinerja BP Batam dan mendukung penguatan program strategis tahun 2027. Foto: BP Batam

Investasi Semester I meningkat, penyerapan tenaga kerja ikut menguat. BP Batam mengejar target Rp70 triliun.

BATAM (gokepri) – Investasi Batam hingga Semester I 2026 mencapai Rp29,89 triliun dan menyerap 40.943 tenaga kerja. Capaian itu menjadi pijakan BP Batam mengejar target investasi Rp70 triliun tahun ini.

Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi refleksi atas perjalanan Batam yang terus bergerak maju. Di bawah kepemimpinan Kepala BP Batam Amsakar Achmad dan Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra, penguatan investasi, pembangunan infrastruktur, konektivitas logistik, serta kemudahan berusaha terus diarahkan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.

Baca Juga: Bagaimana Singapura Menyiapkan Energi Masa Depan

Kinerja investasi Batam menunjukkan tren positif sepanjang 2026. Pada Triwulan I, realisasi investasi mencapai Rp17,48 triliun atau tumbuh 102,85 persen secara tahunan.

Pertumbuhan itu hampir 14 kali lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan investasi nasional yang tercatat 7,2 persen. Pada periode tersebut, Batam juga berkontribusi sekitar 26,5 persen terhadap tambahan investasi nasional.

Memasuki Semester I 2026, realisasi investasi berdasarkan Laporan Kegiatan Penanaman Modal atau LKPM mencapai Rp29,89 triliun. Angka itu berasal dari realisasi Rp17,48 triliun pada Triwulan I dan tambahan Rp12,41 triliun pada Triwulan II.

investasi batam 2026
Foto: BP Batam

Komposisinya terdiri atas Penanaman Modal Asing sebesar Rp17,80 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri Rp12,09 triliun. Dibandingkan Semester I 2025, capaian tersebut tumbuh 27,31 persen secara tahunan dan 62,75 persen secara kumulatif.

Selain angka LKPM, BP Batam mencatat realisasi investasi dengan metode bottom-up. Berdasarkan pemantauan tersebut, investasi hingga Semester I 2026 mencapai Rp38,97 triliun.

Nilai itu terdiri atas Rp36,58 triliun modal tetap dan Rp2,39 triliun modal lancar. Capaian tersebut tumbuh 36,03 persen secara tahunan dan 57,01 persen secara kumulatif.

Perbedaan angka Rp29,89 triliun dan Rp38,97 triliun berasal dari perbedaan basis pengukuran. Keduanya digunakan BP Batam sebagai instrumen untuk memperoleh gambaran lebih komprehensif mengenai perkembangan dan realisasi aktivitas investasi di Batam.

Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya kepercayaan investor sekaligus konsistensi BP Batam membangun iklim investasi yang kompetitif.

“Kepercayaan dunia usaha terhadap Batam terus menguat,” ujar Amsakar.

Menurut Amsakar, investasi tidak semata diukur dari besarnya nilai modal yang masuk. Kepastian, percepatan proses, realisasi proyek, penciptaan lapangan kerja, perkembangan industri, dan dampak berantai bagi ekonomi Batam menjadi ukuran berikutnya.

Target investasi Batam pada 2026 ditetapkan sebesar Rp70 triliun. Dengan target tersebut, realisasi Semester I berdasarkan LKPM sebesar Rp29,89 triliun telah mencapai 42,70 persen.

Sementara berdasarkan metode bottom-up BP Batam, realisasi Rp38,97 triliun telah mencapai 55,67 persen dari target tahunan. Capaian ini menjadi modal bagi BP Batam untuk menjaga momentum investasi hingga akhir 2026.

Investasi Mulai Terlihat di Lapangan Kerja

investasi batam 2026
Grafis: BP Batam

Pertumbuhan investasi tersebut beriringan dengan peningkatan jumlah tenaga kerja. Pada Semester I 2025, tenaga kerja yang tercatat sebanyak 30.979 orang.

Jumlah itu meningkat menjadi 40.943 orang pada Semester I 2026. Artinya, terdapat penambahan sekitar 9.964 tenaga kerja dengan pertumbuhan mencapai 32,16 persen.

Kenaikan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa investasi yang masuk mulai terhubung dengan aktivitas ekonomi riil. Ketika proyek berkembang, industri memasuki tahap produksi, dan kegiatan usaha meningkat, kebutuhan tenaga kerja ikut bertambah.

Amsakar mengatakan BP Batam tidak ingin berhenti pada pencapaian angka investasi. Proyek yang masuk harus bergerak hingga tahap realisasi dan memberi multiplier effect bagi perekonomian Batam.

“Kita tidak boleh berhenti pada angka,” kata Amsakar.

Karena itu, BP Batam akan terus memperkuat kemudahan berusaha, kepastian regulasi, percepatan pelayanan, dan pembangunan infrastruktur. Infrastruktur tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan investor sekaligus mempertahankan daya saing Batam sebagai kawasan investasi strategis.

Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra menilai peningkatan realisasi investasi harus diikuti dengan kualitas pelayanan kepada dunia usaha. Investor membutuhkan ekosistem yang memberi kepastian sejak tahap awal investasi hingga proyek beroperasi.

“Pelayanan publik harus cepat, kolaborasi lintas instansi juga semakin kuat,” ujar Li Claudia.

Menurut dia, hambatan investasi perlu diselesaikan secara cepat dan terukur. BP Batam bersama seluruh pemangku kepentingan akan memperkuat koordinasi agar berbagai kebutuhan investor dapat direspons lebih cepat.

Li Claudia juga menekankan bahwa tujuan investasi bukan sekadar mendatangkan modal ke Batam. Investor diharapkan merasa nyaman untuk mengembangkan usaha dan melakukan ekspansi.

“Kami ingin investor tidak hanya datang ke Batam, tetapi juga merasa nyaman untuk berkembang dan melakukan ekspansi di Batam,” katanya.

Menurut Li Claudia, keberhasilan investasi pada akhirnya harus tercermin dalam manfaat bagi masyarakat. Indikatornya mencakup penciptaan lapangan kerja, penguatan industri lokal, peningkatan aktivitas ekonomi, serta peningkatan daya saing Batam.

Mengincar Investasi Bernilai Tambah

Pertumbuhan investasi juga mendorong BP Batam menggeser perhatian dari sekadar mengejar nilai modal menuju kualitas investasi. Anggota/Deputi Bidang Investasi BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan investasi ke depan diarahkan pada sektor dengan nilai tambah lebih tinggi.

Batam memiliki peluang mengembangkan manufaktur berteknologi tinggi, pusat data, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), energi, logistik, serta industri hilir. Sektor-sektor tersebut dipandang dapat memperkuat posisi Batam dalam rantai investasi strategis.

“Batam bukan hanya kawasan industri, tetapi telah berkembang menjadi pusat eksekusi investasi strategis Indonesia,” kata Fary.

BP Batam akan mengawal implementasi berbagai proyek strategis agar investasi yang telah masuk segera memberi dampak terhadap perekonomian. Arah tersebut melengkapi upaya memperkuat pelayanan, regulasi, infrastruktur, dan koordinasi lintas instansi.

Dengan realisasi Semester I yang telah mencapai lebih dari separuh target berdasarkan metode bottom-up, BP Batam optimistis pertumbuhan investasi dapat dipertahankan hingga akhir 2026.

Bagi Amsakar, capaian tersebut bukan sekadar indikator kinerja investasi, tetapi juga sinyal bagi masa depan ekonomi Batam. Tantangannya adalah menjaga kepercayaan investor sekaligus mempercepat realisasi proyek yang telah masuk.

“Batam harus terus tumbuh sebagai kota investasi yang kompetitif, produktif dan memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujar Amsakar.

Target Rp70 triliun masih harus dikejar pada Semester II. BP Batam mengandalkan kemudahan berusaha, kepastian regulasi, pelayanan, infrastruktur, serta kolaborasi pemerintah dan dunia usaha untuk mempertahankan momentum tersebut.

Baca Juga: Batam Makin Menarik bagi Investasi Digital

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait