NATUNA (gokepri) – Natuna tak hanya dikenal karena ikannya. Kini, puluhan ribu benih kelapa dari daerah perbatasan itu dikirim ke luar daerah. Apa keunggulannya?
Permintaan benih kelapa asal Natuna terus meningkat seiring minat sejumlah daerah mengembangkan perkebunan. Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan (BKHIT) Kepulauan Riau memperketat pemeriksaan agar pengiriman bibit tidak menjadi jalur penyebaran hama dan penyakit tanaman.
Hingga pekan pertama Agustus 2026, benih kelapa dari Natuna telah tiga kali dikirim ke luar daerah. Setiap pengiriman harus melalui pemeriksaan kesehatan tanaman sebelum memperoleh izin untuk dilalulintaskan.
Baca Juga: Arang Kelapa Indragiri Tembus China, Nilai Kontrak Hampir Rp200 Miliar
Kepala BKHIT Kepulauan Riau Hasim mengatakan pengiriman terbaru berlangsung pada Senin, 3 Agustus 2026. Sebanyak 80 ribu butir benih kelapa diberangkatkan dari Pulau Midai menuju Kabupaten Bintan melalui jalur laut.
“Berdasarkan data aplikasi Best Trust, terdapat permohonan pengiriman sebanyak 80.000 butir,” kata Hasim, Selasa, 4 Agustus 2026.
Menurut Hasim, kelapa asal Natuna diminati karena memiliki daging buah yang tebal dan produktivitas tinggi. Karakteristik tersebut membuat pelaku usaha menjadikannya sebagai sumber bibit untuk pengembangan perkebunan di berbagai daerah.
Meningkatnya arus pengiriman membuat pengawasan karantina menjadi tahapan yang tidak bisa dilewati. Benih kelapa termasuk media pembawa berisiko tinggi karena merupakan tanaman tahunan yang berpotensi membawa organisme pengganggu tumbuhan.
Petugas Karantina Kepulauan Riau melalui Satuan Pelayanan Natuna memeriksa seluruh benih sesuai Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Pemeriksaan difokuskan untuk memastikan bibit bebas dari hama maupun penyakit sebelum dikirim ke daerah tujuan.
Salah satu organisme yang menjadi perhatian ialah Sexava nubila, organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) kategori A2 yang dapat menyebar melalui media pembawa tanaman. Selain itu, petugas juga memastikan benih terbebas dari penyakit layu kelapa yang disebabkan cendawan maupun bakteri.
“Kami memastikan seluruh tahapan pemeriksaan berjalan sesuai prosedur agar kelapa yang dikirim aman dan sehat,” ujar Hasim.
Hasil pemeriksaan menunjukkan seluruh benih memenuhi persyaratan karantina sehingga dapat diberangkatkan ke Kabupaten Bintan.
Peluang Ekonomi Baru
Hasim menilai meningkatnya permintaan bibit menunjukkan Natuna tidak hanya memiliki potensi di sektor perikanan. Komoditas perkebunan mulai membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Namun, pengembangan kelapa memerlukan proses panjang. Pembibitan hingga siap tanam membutuhkan waktu sekitar sembilan hingga 12 bulan, sedangkan tanaman baru menghasilkan buah setelah beberapa tahun.
Karena itu, mutu bibit menjadi faktor penting sejak awal pengiriman. “Dari bibit siap tanam hingga menghasilkan buah memerlukan waktu yang panjang. Karena itu kami mengawal setiap proses pengiriman agar bibit yang diterima di daerah tujuan dapat tumbuh dengan baik dan tidak membawa penyakit tanaman,” kata Hasim.
Hingga awal Agustus 2026, Karantina Kepulauan Riau masih mengawasi setiap pengiriman benih kelapa dari Natuna untuk memastikan meningkatnya permintaan tidak diikuti risiko penyebaran hama dan penyakit ke daerah lain. ANTARA
Baca Juga: Produk Olahan Kelapa Batam Tembus Pasar China
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









