BATAM (gokepri) – Masuknya PT Altiva Identity Data Center ke Batam diawali dengan kepastian pasokan listrik dari PT PLN Batam. Pemerintah Kota Batam menilai infrastruktur energi menjadi syarat utama yang membuat investasi pusat data mulai berdatangan ke daerah tersebut.
Kepastian itu ditandai melalui penandatanganan Perjanjian Jual Beli Tenaga Listrik (PJBTL) antara PT PLN Batam dan PT Altiva Identity Data Center di Auditorium Tanjung Kasam, Kantor PLN Batam, Selasa, 28 Juli 2026. Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra menghadiri penandatanganan tersebut sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap investasi berbasis teknologi.
Menurut Amsakar, kesepakatan itu menunjukkan kesiapan ekosistem investasi yang selama ini dibutuhkan industri pusat data. Pemerintah daerah melihat kepastian pasokan listrik sebagai fondasi agar investor berani merealisasikan proyeknya di Batam.
Baca Juga: Investasi Pusat Data Belum Cukup, Batam Perlu Mencetak Talenta Teknologi
“Kolaborasi ini meningkatkan daya saing investasi Batam,” kata Amsakar.
Perkembangan tersebut sekaligus menandai perubahan arah investasi di Batam. Selama ini kawasan industri itu dikenal sebagai basis manufaktur dan perakitan, namun kini mulai menjadi tujuan investasi teknologi informasi, termasuk industri pusat data.
Perubahan itu mendorong Pemerintah Kota Batam bersama BP Batam menyiapkan infrastruktur pendukung. Selain listrik yang menjadi kebutuhan utama operasional pusat data, pemerintah juga memastikan ketersediaan air bersih serta mempercepat proses perizinan agar proyek dapat segera berjalan.
“Kebutuhan listrik dan air bersih harus terpenuhi,” ujar Amsakar.
Menurut dia, keputusan PT Altiva Identity Data Center berinvestasi di Batam didukung sejumlah keunggulan yang dimiliki daerah tersebut. Selain berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka dan berbatasan langsung dengan Singapura, Batam juga memperoleh dukungan regulasi dari pemerintah pusat yang memperkuat daya tarik investasi.
Masuknya Altiva juga dinilai sejalan dengan meningkatnya perhatian pelaku industri teknologi global terhadap Batam. Salah satu proyek yang telah diumumkan ialah kemitraan Firmus Technologies Australia bersama Nvidia untuk membangun fasilitas pusat data AI atau AI Factory di Batam yang ditargetkan mulai beroperasi pada triwulan I 2027.
Melihat perkembangan itu, Pemerintah Kota Batam mengajak seluruh pemangku kepentingan menjaga iklim investasi agar tetap kondusif. Pemerintah menilai citra daerah yang aman dan ramah investasi menjadi faktor penting untuk mempertahankan minat investor.
Optimisme tersebut turut ditopang sejumlah indikator ekonomi daerah. Indeks Pembangunan Manusia Batam telah mencapai 83,8, tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau dan masuk lima besar di Sumatra.
Di sisi lain, sektor manufaktur masih menjadi tulang punggung perekonomian Batam dengan kontribusi sekitar 52-56 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto Kota Batam. Kontribusi Batam terhadap perekonomian Provinsi Kepulauan Riau juga mencapai sekitar 62-68 persen sehingga pemerintah menilai transformasi menuju industri digital dibangun di atas fondasi ekonomi yang telah kuat.
“Kami ingin Batam semakin maju dan berdaya saing,” kata Amsakar.
Penandatanganan PJBTL antara PT PLN Batam dan PT Altiva Identity Data Center menjadi langkah awal penyediaan infrastruktur energi bagi investasi pusat data. Pemerintah Kota Batam menyatakan akan melanjutkan dukungan melalui percepatan perizinan dan penyediaan infrastruktur dasar untuk menarik lebih banyak investasi teknologi.
Baca Juga: Topang Investasi Pusat Data dan Industri, PLN Batam Tambah Pasokan Listrik 300 MW
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









