Singapura Tawarkan Transfer Pengetahuan di Sektor Kesehatan

Pemandangan gedung-gedung pencakar langit di Singapura pada siang hari, Mei 2026. iSTOCK via CNA
Pemandangan gedung-gedung pencakar langit di Singapura pada siang hari, Mei 2026. iSTOCK via CNA

Layanan kesehatan menjadi ruang kolaborasi baru. Transfer pengetahuan dinilai lebih penting daripada wisata medis.

SINGAPURA (gokepri) – Pemerintah Singapura melihat peluang memperluas kerja sama sektor kesehatan dengan Indonesia di tengah tingginya jumlah warga Indonesia yang berobat ke negeri itu. Kolaborasi tidak hanya diarahkan pada layanan medis, tetapi juga pengembangan sumber daya manusia dan transfer pengetahuan di bidang kesehatan.

Pandangan tersebut disampaikan Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga Zhulkarnain Abdul Rahim saat berdialog dengan peserta Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu, 16 Juli 2026.

Investor singapura indonesia
Menteri Negara Singapura untuk Luar Negeri sekaligus Kementerian Pembangunan Sosial dan Keluarga, Zhulkarnain Abdul Rahim, bersama wartawan dalam Indonesian Journalists’ Visit Programme (IJVP) di Kementerian Luar Negeri Singapura, Rabu, 16 Juli 2026. Foto: MDDI Singapora

Baca Juga: Bagaimana Singapura Melihat Program MBG Indonesia?

Isu tersebut mengemuka ketika jurnalis menanyakan bagaimana tren warga Indonesia yang berobat ke Singapura dapat diubah menjadi kerja sama yang lebih luas, termasuk peningkatan kapasitas tenaga kesehatan di Indonesia.

Zhulkarnain mengatakan banyaknya pasien asal Indonesia yang datang ke Singapura mencerminkan perkembangan layanan kesehatan di negara tersebut. Namun ia menilai hubungan kedua negara tidak seharusnya berhenti pada aktivitas wisata medis.

“Ada peluang untuk memperluas kerja sama melalui pelatihan dan alih pengetahuan,” kata dia.

Ia bercerita pernah menjalani operasi lutut di sebuah rumah sakit di Orchard Road. Saat datang mengenakan batik, petugas rumah sakit langsung menyapanya dalam bahasa Indonesia dan memberikan brosur layanan bagi pasien Indonesia.

Pengalaman itu memperlihatkan besarnya jumlah pasien Indonesia yang datang berobat ke Singapura. Rumah sakit bahkan menyiapkan layanan dan informasi dalam bahasa Indonesia untuk memudahkan pasien.

Zhulkarnain mengatakan Singapura masih menghadapi kebutuhan tenaga kesehatan di sejumlah bidang. Kondisi tersebut membuka peluang kerja sama yang saling menguntungkan dengan Indonesia.

Transfer pengetahuan, pelatihan tenaga medis, hingga peningkatan kompetensi profesional dipandang menjadi bidang yang dapat dikembangkan bersama. Kerja sama itu diharapkan tidak hanya meningkatkan kualitas layanan kesehatan, tetapi juga memperkuat kapasitas sumber daya manusia di kawasan.

“Kami membutuhkan tenaga kesehatan di beberapa bidang, dan itu membuka ruang kerja sama,” ujar Zhulkarnain.

Selain pelatihan, perkembangan teknologi kesehatan juga dinilai membuka peluang kolaborasi baru. Penggunaan teknologi medis, sistem digital kesehatan, hingga peningkatan kompetensi tenaga kesehatan menjadi kebutuhan yang dihadapi banyak negara di ASEAN.

Zhulkarnain menilai hubungan Indonesia dan Singapura memiliki modal kuat untuk memperluas kerja sama tersebut. Kedekatan geografis, intensitas mobilitas masyarakat, serta hubungan ekonomi yang erat menjadi faktor pendukung.

Kerja sama kesehatan juga dipandang sejalan dengan upaya memperkuat hubungan antarmasyarakat yang menjadi salah satu prioritas Singapura menjelang Keketuaan ASEAN pada 2027.

Pengembangan kapasitas tenaga kesehatan, kata Zhulkarnain, dapat menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan yang memberi manfaat bagi kedua negara.

Ia berharap pembahasan mengenai kesehatan tidak hanya berfokus pada perpindahan pasien dari Indonesia ke Singapura. Kolaborasi di bidang pendidikan, pelatihan, riset, dan pengembangan kompetensi dinilai akan memberikan dampak yang lebih berkelanjutan bagi sistem kesehatan kedua negara.

Baca Juga: Mengapa Investor Singapura Tetap Melirik Indonesia

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Andi
Editor: Candra Gunawan

Pos terkait