Inggris-Argentina, Rivalitas yang Tak Pernah Padam

Inggris vs argentina 2026
David Beckham mendapat kartu merah saat laga Argentina vs Inggris di Piala Dunia 1998. Foto: REUTERS

Inggris dan Argentina berebut tiket final Piala Dunia. Sejarah panjang membuat duel melampaui urusan sepak bola.

NEW YORK (gokepri) — Pertemuan Inggris dan Argentina di semifinal Piala Dunia, Rabu (15/7), bukan sekadar perebutan tiket menuju final. Laga itu membawa beban sejarah, mulai dari perseteruan di lapangan hingga konflik Kepulauan Falkland atau Malvinas yang terus membentuk rivalitas kedua negara.

Semifinal ini menjadi pertemuan pertama kedua tim pada fase empat besar Piala Dunia. Selama puluhan tahun, setiap duel Inggris dan Argentina selalu menyisakan cerita yang melampaui hasil pertandingan.

Baca Juga: Mengapa Duel Argentina-Inggris Selalu Istimewa?

Nuansa sejarah itu kembali mengemuka setelah wafatnya mantan kapten Argentina, Antonio Rattin, pada pekan ini. Namanya lekat dengan salah satu pertandingan paling kontroversial dalam sejarah Piala Dunia.

Pada perempat final Piala Dunia 1966 di Inggris, Rattin diusir wasit dari lapangan. Saat meninggalkan arena, ia menarik tiang bendera sudut yang bergambar Union Jack, lalu duduk di karpet merah yang disiapkan bagi Ratu Elizabeth II sebagai bentuk protes.

Laga tersebut berlangsung keras dan dimenangkan Inggris 1-0. Seusai pertandingan, pelatih Inggris Alf Ramsey menyebut pemain Argentina sebagai “binatang”. Ucapan itu menjadi salah satu sumber luka yang terus dikenang publik Argentina.

Dua puluh tahun kemudian, kedua negara kembali bertemu pada perempat final Piala Dunia 1986 di Stadion Azteca, Meksiko. Pertandingan itu berlangsung hanya empat tahun setelah Perang Falkland atau Malvinas pada 1982 yang menewaskan 649 prajurit Argentina dan 255 personel militer Inggris.

Di tengah luka perang yang belum sepenuhnya pulih, Diego Maradona mencetak dua gol yang mengantar Argentina menang atas Inggris. Gol pertamanya lahir melalui sentuhan tangan yang kemudian dikenal sebagai Hand of God, sedangkan gol kedua dianggap sebagai salah satu gol terbaik dalam sejarah Piala Dunia setelah Maradona menggiring bola melewati sejumlah pemain lawan.

Bagi banyak warga Argentina, kemenangan itu memiliki makna yang lebih besar daripada sekadar hasil pertandingan.

Dalam autobiografinya El Diego, Maradona menulis, “Lebih dari mengalahkan tim sepak bola, itu adalah mengalahkan sebuah negara.”

Maradona kemudian menjelaskan bahwa meski sebelum pertandingan kedua tim berusaha memisahkan sepak bola dari Perang Malvinas, banyak warga Argentina tetap mengaitkan kemenangan itu dengan gugurnya para prajurit dalam konflik tersebut.

Sepak bola dan sejarah kolonial

Menurut penulis Angels With Dirty Faces: The Footballing History of Argentina, Jonathan Wilson, akar rivalitas kedua negara bahkan telah terbentuk jauh sebelum konflik Falkland.

Sepak bola diperkenalkan di Argentina oleh para pendatang Inggris, terutama pekerja kereta api, pada abad ke-19. Pengaruh itu masih terlihat dari nama sejumlah klub, seperti River Plate dan Newell’s Old Boys, klub masa muda Lionel Messi.

Namun, gaya bermain Argentina berkembang di jalanan dan lapangan tanah, bukan di lingkungan sekolah seperti di Inggris. Dari situlah muncul identitas sepak bola Argentina yang menonjolkan kreativitas, kecerdikan, dan improvisasi.

Wilson menilai perbedaan itu membentuk cara pandang yang berbeda terhadap sepak bola. Argentina mengembangkan identitas yang kontras dengan tradisi Inggris yang identik dengan permainan langsung dan semangat fair play.

Hubungan kedua negara juga dipengaruhi sejarah ekonomi. Inggris pernah berperan besar membangun jaringan kereta api, perbankan, dan investasi di Argentina untuk mendukung ekspor hasil pertanian. Hubungan tersebut kemudian dipandang sebagian kalangan sebagai bentuk ketergantungan yang menyerupai pola kolonial.

Rivalitas yang terus hidup

Setelah duel 1986, Inggris dan Argentina kembali bertemu pada babak 16 besar Piala Dunia 1998. Pertandingan itu dikenang karena kartu merah David Beckham, sedangkan Argentina akhirnya menang melalui adu penalti.

Empat tahun kemudian, Inggris membalas dengan kemenangan 1-0 pada fase grup Piala Dunia 2002 lewat gol Beckham dari titik penalti. Itulah pertemuan terakhir kedua negara di Piala Dunia sebelum semifinal kali ini.

Menjelang pertandingan, pelatih Argentina Lionel Scaloni berusaha meredam narasi rivalitas sejarah.

“Ini pertandingan sepak bola. Tidak lebih dari itu,” ujar Scaloni seusai Argentina memastikan tiket semifinal.

Meski demikian, euforia para pemain Argentina menunjukkan bahwa sejarah tetap menjadi bagian dari atmosfer pertandingan. Seusai laga perempat final, mereka ikut menyanyikan lagu yang kerap bergema di stadion-stadion Buenos Aires dan menyindir Inggris.

Gelandang Argentina Rodrigo De Paul mengakui duel melawan Inggris memiliki makna emosional bagi banyak pihak. Namun, ia menegaskan fokus tim tetap tertuju pada pertandingan.

“Kami ingin memenangkan pertandingan ini dan mencapai final,” kata De Paul. REUTERS

Baca Juga: Kane Selamatkan Inggris dari Kejutan Kongo

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait