Prabowo Targetkan PLTS 100 GW dalam Dua Tahun, Mampukah Terealisasi?

proyek PLTS di Batam
Operator PLTS melakukan pengecekan terhadap panel surya PLTS PT PLN Batam. GOKEPRI/Engesti Fedro

JAKARTA (gokepri) — Percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) menjadi salah satu ambisi pemerintah dalam transisi energi. Pemerintah menargetkan kapasitas PLTS mencapai 100 gigawatt (GW) dalam dua tahun, dimulai dengan pembangunan 17 GW pada tahun ini.

Target tersebut diumumkan Presiden Prabowo Subianto saat meluncurkan program mandatori biodiesel B50 di Karawang, Jawa Barat, Kamis (9/7/2026). Target itu sekaligus menjadi ujian atas kesiapan industri, jaringan kelistrikan, serta investasi energi terbarukan di Indonesia.

Di hadapan jajaran Kabinet Merah Putih, Prabowo meminta kepastian bahwa sasaran tersebut dapat diwujudkan. Ia menanyakan langsung kesiapan Menteri Investasi sekaligus CEO Danantara Rosan Roeslani, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, dan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia.

Baca Juga: Singapura Garap PLTS di Morowali

“Bagaimana nanti kalau kita akan bangun 100 GW tenaga surya, 100 GW dalam dua tahun bisa?” tanya Presiden Prabowo Subianto saat peluncuran B50 di Karawang, Kamis (9/7/2026).

Bahlil menjawab singkat bahwa pemerintah siap menjalankan target tersebut. Rosan dan Airlangga juga menyatakan kesanggupan mendukung pelaksanaannya.

Prabowo mengakui sasaran itu akan memunculkan keraguan. Menurut dia, target tersebut kemungkinan akan dikritik karena dinilai terlalu ambisius. Namun, pemerintah memilih menetapkan target tinggi sebagai pendorong percepatan transisi energi.

Rencana pembangunan PLTS 100 GW bukan kebijakan yang muncul tiba-tiba. Pemerintah sebelumnya telah menyiapkan tahapan pengembangannya dengan menjadikan proyek berkapasitas 17 GW sebagai fase awal.

Staf Ahli Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bidang Perencanaan Strategis Jisman P. Hutajulu mengatakan, proyek tahap pertama diprioritaskan untuk memperluas akses energi terbarukan, termasuk di wilayah terpencil.

“Tahap awal adalah 17 GW,” ujar Jisman dalam acara Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

Menurut Jisman, PLTS memiliki tingkat kompleksitas teknologi yang lebih rendah dibandingkan sejumlah pembangkit listrik lain. Karena itu, pemerintah menilai target tahap awal masih realistis untuk dikerjakan.

Pemerintah juga membuka peluang investasi bagi pelaku usaha nasional agar pengembangan PLTS tidak hanya bergantung pada investor besar atau pendanaan pemerintah.

Sementara itu, Direktur Manajemen Pembangkitan PLN Rizal Calvary menjelaskan, pembangunan tahap pertama ditargetkan rampung paling lambat pada 2028. Namun, PLN berupaya mempercepat penyelesaiannya apabila kesiapan proyek dan investasi memungkinkan.

Rizal menambahkan, seluruh listrik yang dihasilkan dari proyek PLTS tersebut direncanakan terserap ke dalam sistem kelistrikan nasional. Menurut dia, harga pembelian listrik yang telah dibahas berada pada kisaran 6 sen dollar Amerika Serikat per kilowatt-hour (kWh). BLOOMBERG TECHNOZ

Baca Juga: TBS Energi Selesaikan Pembiayaan PLTS Terapung Tembesi Batam

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait