Tanjungpinang – Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kepulauan Riau (Dinkes Kepri) Yosei Susanti menyebutkan hasil skrining Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang dilakukan terhadap masyarakat setempat sejauh ini didominasi penyakit hipertensi dan diabetes.
“Kedua jenis penyakit ini, memang masih menjadi permasalahan kesehatan terbesar di Kepri,” kata Yosei di Tanjungpinang, Rabu 1 Juli 2026.
Ia menyampaikan risiko hipertensi dan diabetes di Kepri rata-rata dialami warga dewasa hingga pra-lanjut usia (Lansia).
Oleh karena itu, Dinkes Kepri gencar melakukan upaya intervensi melalui penyuluhan pola hidup sehat kepada masyarakat guna mencegah risiko diabetes maupun hipertensi, seperti makan buah dan sayur, ikan, lalu olahraga teratur, perbanyak minum air putih, aktivitas fisik rutin, serta tidak merokok.
“Penyebab hipertensi dan diabetes, 90 persennya dipicu pola hidup tidak sehat, salah satunya merokok,” ungkapnya.
Intervensi lainnya, kata Yosei, bagi warga yang terdeteksi hipertensi dan diabetes saat melakukan CKG, akan langsung diarahkan berobat ke puskesmas, bahkan bisa dirujuk ke rumah sakit kalau diperlukan tindakan medis lebih lanjut.
Menurutnya beban penyakit di Kepri ke depannya akan sangat tinggi, jika kondisi hipertensi dan diabetes masyarakat tidak bisa dikendalikan dengan ketat.
“Penyakit hipertensi dan diabetes bisa berdampak pada komplikasi serius bagi organ tubuh seseorang apabila tidak terkontrol dengan baik, termasuk penyakit jantung, stroke, kerusakan ginjal, masalah mata, hingga saraf,” ungkapnya.
Lebih lanjut Yosei memaparkan, capaian program CKG hingga Juni 2026 tercatat sebesar 11 persen dari target 46 persen jumlah penduduk Kepri yang sebanyak 1.031.862 jiwa. Adapun proyeksi target CKG Kepri untuk pertengahan tahun ini ditetapkan sebesar 20 persen.
Kepala Dinkes mengutarakan beberapa tantangan dalam menjalankan program CKG di Kepri, di antaranya proses penginputan data pelaksanaan CKG secara online yang dilakukan puskesmas memerlukan stabilitas sinyal, terutama di pulau-pulau terluar.
Kondisi geografis tersebut memengaruhi proses pelaporan hasil CKG agar dapat berjalan lebih maksimal.
Tantangan lainnya ialah tingkat partisipasi masyarakat untuk memeriksakan kesehatan ke puskesmas, sehingga diperlukan strategi jemput bola melayani CKG di titik-titik tertentu guna mempermudah akses masyarakat.
“Program CKG sangat penting untuk tindakan skrining kesehatan supaya pemerintah lebih mudah melakukan upaya pencegahan sekaligus deteksi ini penyakit di masyarakat,” demikian Yosei. ANTARA
Baca Juga: Lansia Rentan Hipertensi, Apa Solusinya?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









