Singapura memperkuat fondasi infrastruktur AI. Keamanan dan kedaulatan data menjadi fokus.
JAKARTA (gokepri) — Lonjakan adopsi kecerdasan artifisial (AI) di Asia Pasifik memunculkan tantangan baru bagi dunia usaha. Tantangannya yakni kesiapan infrastruktur digital yang mampu menjamin keamanan data, kecepatan pemrosesan, dan kepatuhan terhadap aturan kedaulatan data.
Kebutuhan itulah yang mendorong Equinix dan Cisco memperluas kolaborasi untuk menghadirkan infrastruktur AI di Singapura.
Baca Juga: Equinix Bangun Pusat Data HK6, Hong Kong Kian Agresif Kembangkan Ekosistem AI
Kolaborasi tersebut memungkinkan perusahaan mengoperasikan Cisco Secure AI Factory with NVIDIA di pusat data Equinix di Singapura. Solusi itu dirancang untuk membantu organisasi membangun dan memperluas pemanfaatan AI dengan standar keamanan dan tata kelola data yang ketat.
Langkah tersebut muncul ketika adopsi AI di kawasan Asia-Pasifik meningkat pesat. Namun, banyak organisasi masih terkendala infrastruktur lama, keterbatasan jaringan, latensi, dan aturan kedaulatan data.
Berdasarkan Cisco AI Readiness Index 2025, sebanyak 83 persen organisasi di Singapura berencana mengoperasikan agen AI. Akan tetapi, hanya satu dari 10 organisasi yang menilai jaringan mereka cukup fleksibel dan mampu berkembang sesuai kebutuhan secara cepat.
Kesenjangan itu menunjukkan bahwa investasi AI tidak cukup berhenti pada perangkat lunak. Infrastruktur jaringan, pusat data, dan tata kelola data menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi digital.
Menurut Equinix, arsitektur yang dikembangkan bersama Cisco menawarkan ekosistem terpadu yang memungkinkan perusahaan mengelola beban kerja AI di pusat data, komputasi awan, maupun lokasi tepi jaringan atau edge.
Konsep edge merujuk pada pemrosesan data yang lebih dekat dengan lokasi pengguna atau perangkat. Pendekatan ini dapat mengurangi jeda waktu pengiriman data dan mempercepat pengambilan keputusan.
Direktur Pelaksana Equinix Singapura Yee May Leong mengatakan ekonomi digital tetap menjadi salah satu prioritas utama strategi pertumbuhan Singapura.
“Ketika AI semakin terintegrasi dalam strategi bisnis, organisasi perlu terhubung dengan ekosistem digital mereka dan memperluas kapasitas secara lebih percaya diri,” ujar Yee May Leong dalam keterangan resmi, Rabu (24/6/2026).
Melalui kolaborasi tersebut, perusahaan dapat mengakses lebih dari 2.000 mitra teknologi yang berada dalam ekosistem Equinix. Fasilitas itu memungkinkan pengujian konfigurasi AI, kebutuhan konektivitas, serta integrasi sistem sebelum diterapkan dalam skala besar.
Di sisi lain, Cisco menilai kebutuhan utama pelaku usaha saat ini adalah menyederhanakan proses pembangunan infrastruktur AI yang kerap kompleks dan mahal.
“Organisasi yang ingin memperluas pemanfaatan AI membutuhkan fondasi yang sederhana, aman, dan mudah dikembangkan,” kata Presiden Cisco ASEAN Bee Kheng Tay.
Cisco Secure AI Factory with NVIDIA dirancang untuk mendukung pemrosesan AI di berbagai lokasi, termasuk pusat data, rumah sakit, gudang logistik, hingga jaringan ritel. Infrastruktur tersebut juga mengadopsi pendekatan zero trust, yakni model keamanan yang mengharuskan setiap akses dan pengguna diverifikasi secara berlapis.
Selain keamanan, sistem itu menjanjikan pengelolaan proyek AI yang lebih efisien. Menurut Cisco, waktu pengambilan data dapat dipangkas dari hitungan menit menjadi detik sehingga mendukung kebutuhan analisis secara real time.
Kolaborasi Equinix dan Cisco juga sejalan dengan National AI Missions Singapura. Program nasional tersebut bertujuan mempercepat pemanfaatan AI pada sektor strategis, termasuk keuangan dan manufaktur.
Baca Juga: Pusat Data Raksasa Telekomunikasi, Energi Hijau Medco
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








