BATAM (gokepri.com) – Wakil Menteri Ketenagakerjaan RI, Afriansyah Noor, menegaskan pentingnya penguatan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) serta peningkatan penyerapan tenaga kerja lokal seiring pertumbuhan investasi dan industri di Batam, Kepulauan Riau.
Hal itu dia ungkap dalam dalam kunjungan kerjanya ke kawasan industri Kabil Batam Kepulauan Riau, Rabu 3 Juni 2026.
Kata Afriansyah, penguatan K3 harus menjadi perhatian seluruh perusahaan agar kecelakaan kerja tidak kembali terjadi.
Selain itu, ia menilai investasi yang terus meningkat di Batam harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja.
“Investasi yang masuk harus berdampak pada kesejahteraan masyarakat dan membuka kesempatan kerja yang lebih luas,” katanya.
Afriansyah menyebut tingkat pengangguran di Batam masih berada di kisaran 6,8 persen. Karena itu, pemerintah mendorong peningkatan kompetensi tenaga kerja melalui program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri.
Menurutnya, Batam kini tidak hanya berkembang sebagai kawasan industri manufaktur, tetapi juga sektor pariwisata yang membutuhkan tenaga kerja terampil di bidang hospitality.
Pemerintah, kata dia, siap berkolaborasi dengan dunia usaha, pemerintah daerah, serta lembaga pendidikan dan pelatihan untuk menciptakan program vokasi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Ia juga menegaskan pentingnya pengawasan ketenagakerjaan, termasuk penggunaan tenaga kerja asing (TKA).
“Meski TKA memberikan kontribusi terhadap penerimaan negara bukan pajak (PNBP), perusahaan tetap didorong untuk memprioritaskan pekerja lokal,” kata dia.
Afriansyah turut memaparkan pengembangan ekosistem digital ketenagakerjaan nasional yang akan mengintegrasikan berbagai layanan ketenagakerjaan dalam satu platform.
Sistem tersebut didukung sejumlah program, termasuk Skill Hub untuk pelatihan kompetensi dan Serti Hub sebagai pusat sertifikasi tenaga kerja.
“Dunia kerja saat ini membutuhkan kompetensi yang terukur dan kemampuan beradaptasi terhadap perkembangan teknologi,” ujarnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Investasi BP Batam, Djemi Francis, mengatakan Batam terus menunjukkan kinerja ekonomi yang positif dengan pertumbuhan sekitar 7,5 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Pada triwulan pertama tahun ini, realisasi investasi Batam mencapai Rp17,4 triliun. Menurut Djemi, Batam mengandalkan teknologi dan kualitas sumber daya manusia sebagai kekuatan utama karena tidak memiliki sumber daya alam yang besar.
“Transformasi industri di Batam kini bergerak ke sektor berteknologi tinggi seperti manufaktur modern dan data center,” katanya.
Ia menambahkan, Batam memiliki 31 kawasan industri yang menampung ratusan perusahaan dengan kebutuhan tenaga kerja yang terus meningkat. Setiap tahun, sekitar 50 ribu pekerja direkrut untuk memenuhi kebutuhan industri tersebut.
“Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah telah mengembangkan sistem link and match serta aplikasi pencarian kerja yang mempermudah masyarakat memperoleh informasi lowongan pekerjaan,” kata dia.
Di sisi lain, Direktur Utama PT Semoe Batam, Cai Yixiang, mengatakan perusahaannya terus mengembangkan bisnis di sektor energi berkelanjutan, khususnya energi angin lepas pantai.
Menurutnya, pengembangan industri tersebut berpotensi menciptakan lapangan kerja baru sekaligus mendukung transisi energi global.
Cai mengatakan mayoritas pekerja di PT Semoe Batam merupakan tenaga kerja lokal. Perusahaan juga bekerja sama dengan perguruan tinggi dan sekolah vokasi untuk menyiapkan tenaga kerja sesuai kebutuhan industri masa depan.
“Kami percaya kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan industri menjadi kunci dalam membangun SDM yang kompeten dan berdaya saing,” ujarnya. *
Penulis: Engesti







