BATAM (gokepri.com) – Tingkat pengangguran terbuka di Kepulauan Riau (Kepri) yang mencapai 6,8 persen menjadi perhatian pemerintah pusat. Padahal, daerah tersebut mencatat pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dan menjadi salah satu tujuan utama investasi nasional.
Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) RI Afriansyah Noor mengatakan, perkembangan kawasan industri di Kepri, khususnya Batam, terus menunjukkan tren positif dengan masuknya berbagai investasi besar yang berkontribusi terhadap perekonomian nasional.
Namun, manfaat investasi tersebut harus dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja.
“Investasi yang baik harus berdampak terhadap masyarakat. Saat ini tingkat pengangguran di Kepri masih sekitar 6,8 persen dan itu masih cukup tinggi,” kata Afriansyah di Batam, Rabu (3/6).
Menurut dia, Batam tidak hanya berkembang sebagai kawasan industri manufaktur, tetapi juga mulai bertumbuh sebagai kawasan industri pariwisata.
“Kondisi ini membuka peluang kerja baru yang perlu direspons dengan penyediaan tenaga kerja yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan industri,” jelasnya.
Pemerintah, kata dia, telah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Kepri untuk memperkuat program pelatihan vokasi, termasuk di sektor hospitality dan pariwisata.
Langkah itu dilakukan agar masyarakat lokal dapat mengisi peluang kerja yang muncul seiring meningkatnya kunjungan wisatawan dan investasi di daerah tersebut.
“Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan balai pelatihan kerja yang ada di Kepri untuk memastikan pelatihan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan industri sehingga terjadi link and match,” ujarnya.
Selain pengembangan kompetensi tenaga kerja, Wamenaker juga menekankan pentingnya penguatan pengawasan ketenagakerjaan, termasuk penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) guna mencegah terulangnya kecelakaan kerja di kawasan industri.
Afriansyah juga mengingatkan perusahaan-perusahaan di Batam agar memprioritaskan perekrutan tenaga kerja lokal. Menurut dia, masih terdapat sejumlah peluang kerja yang belum mampu diisi oleh tenaga kerja daerah karena keterbatasan kompetensi yang dibutuhkan industri.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kepri Diki Wijaya mengungkapkan bahwa tingginya angka pengangguran menjadi paradoks di tengah pertumbuhan ekonomi Kepri yang termasuk tertinggi secara nasional.
Berdasarkan data yang diterimanya dari Badan Pusat Statistik (BPS), tingkat pengangguran terbuka di Kepri mencapai sekitar 6,8 persen atau setara dengan hampir 75 ribu orang dari total 1,2 juta angkatan kerja.
“Ini menjadi anomali. Pertumbuhan ekonomi kita tinggi, kawasan industri terus berkembang, ada kawasan ekonomi khusus dan proyek strategis nasional, tetapi angka pengangguran masih tinggi,” kata Diki.
Menurut dia, persoalan utama yang dihadapi Kepri adalah belum optimalnya kesiapan kompetensi tenaga kerja lokal untuk memenuhi kebutuhan industri yang berkembang pesat di daerah tersebut.
Karena itu, pihaknya berharap program vokasi yang akan diperkuat pemerintah pusat dapat diarahkan pada kebutuhan riil dunia usaha dan industri sehingga tenaga kerja lokal memiliki peluang lebih besar untuk terserap.
“Kami ingin tenaga kerja lokal bisa mengisi kebutuhan industri yang ada di Kepri. Kuncinya adalah peningkatan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja,” ujarnya. *
Penulis: Engesti








