Batam masuk radar investor pusat data di Asia Pasifik. Indonesia di posisi menguntungkan.
BATAM (gokepri) — Lonjakan kebutuhan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan layanan komputasi awan mendorong investasi pusat data di Asia Pasifik mencapai US$ 4,1 miliar atau sekitar Rp 73,2 triliun sepanjang kuartal I-2026. Di tengah keterbatasan pasokan energi di sejumlah negara maju, Batam muncul sebagai salah satu lokasi baru yang dilirik investor untuk menopang pertumbuhan ekonomi digital kawasan.
Perubahan peta investasi itu menunjukkan bahwa persaingan industri pusat data tidak lagi ditentukan oleh lokasi semata. Ketersediaan listrik, regulasi data, dan dukungan pemerintah kini menjadi faktor utama yang menentukan arah aliran modal.
Baca Juga:
- Deretan Investasi Data Centre Ratusan Triliun di Batam
- PLN Batam dan DayOne Wujudkan Data Center Terbesar di Indonesia
Laporan perusahaan konsultan properti global JLL mencatat, investasi pusat data menjadi salah satu motor pertumbuhan sektor properti komersial Asia Pasifik. Sepanjang kuartal I-2026, total investasi properti komersial kawasan mencapai US$ 47 miliar atau sekitar Rp 839 triliun, meningkat 31 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
CEO Asia Pacific Capital Markets JLL Stuart Crow mengatakan keterbatasan pasokan listrik di pasar utama mendorong pengembang mencari lokasi alternatif untuk ekspansi.
“Di tengah keterbatasan pasokan daya listrik di pasar utama, pengembang mulai mengalihkan ekspansi ke lokasi baru yang potensial seperti Batam di Indonesia, Johor Bahru di Malaysia, dan Bangkok di Thailand,” ujar Stuart dalam laporan yang dikutip Selasa (2/6/2026).
Menurut JLL, permintaan kapasitas pusat data yang didorong AI dan layanan komputasi awan diperkirakan tumbuh rata-rata 19 persen per tahun dalam lima tahun mendatang. Pertumbuhan itu meningkatkan kebutuhan energi dalam jumlah besar untuk mendukung operasional pusat data.
Dalam industri ini, listrik menjadi komponen strategis karena pusat data harus beroperasi tanpa henti selama 24 jam. Karena itu, negara atau daerah yang mampu menyediakan pasokan energi memadai memiliki peluang lebih besar menarik investasi baru.
Meski mencatat pertumbuhan tertinggi sepanjang sejarah kawasan, sektor ini tetap menghadapi sejumlah risiko. Salah satunya adalah ketidakpastian geopolitik global yang dapat memengaruhi harga energi dan biaya pembangunan infrastruktur digital.
“Ekonomi Asia Pasifik masih rentan terhadap gejolak harga energi akibat perkembangan geopolitik terbaru,” kata Stuart.
Ia menambahkan, kenaikan biaya konstruksi akibat fluktuasi harga energi berpotensi membatasi pasokan ruang baru di pasar yang telah matang. Kondisi tersebut diperkirakan mendorong investor lebih selektif dalam memilih lokasi yang mampu memberikan stabilitas operasional dan imbal hasil jangka panjang.
Bagi Indonesia, perkembangan ini membuka peluang untuk memperkuat posisi dalam rantai ekonomi digital Asia Tenggara. Keterbatasan energi di negara-negara seperti Singapura dan Jepang memberi ruang bagi daerah yang memiliki cadangan lahan dan pasokan energi lebih besar, termasuk Batam.
Country Head JLL Indonesia Farazia Basarah menilai Indonesia masih menjadi tujuan menarik bagi investor karena didukung pasar domestik yang besar dan pertumbuhan ekonomi digital yang terus berkembang.
“Indonesia terus menarik minat investor yang kuat, didukung fundamental pasar yang solid serta tren struktural jangka panjang seperti ekonomi digital yang besar dan terus berkembang, populasi usia produktif yang besar, serta adopsi AI yang semakin luas,” ujar Farazia.
Menurut dia, minat investor tidak hanya mengarah ke pusat data, tetapi juga sektor logistik, manufaktur, dan perhotelan yang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang.
“Kami melihat minat investor yang tetap tinggi terhadap sektor-sektor dengan potensi pertumbuhan yang kuat, termasuk logistik dan manufaktur, data center, dan perhotelan,” kata Farazia.
Selain pusat data, sektor perkantoran masih menjadi kontributor terbesar transaksi properti komersial di Asia Pasifik dengan nilai mencapai US$ 24 miliar. Sementara itu, sektor industri dan logistik tumbuh 53 persen menjadi US$ 8,5 miliar, didorong ekspansi manufaktur dan perdagangan regional.
Laporan tersebut menunjukkan transformasi ekonomi digital tidak lagi menjadi isu teknologi semata. Persaingan kini bergeser pada kemampuan daerah menyediakan energi, infrastruktur, dan kepastian regulasi untuk menarik investasi bernilai tinggi. BISNIS.COM
Baca Juga: Potensi Besar Kepri untuk Kawasan AI dan Data Center
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









