Mangrove Menyusut, Buaya Makin Dekat ke Permukiman

Penangkaran Buaya Batam
Lokasi penangkaran buaya di Pulau Bulan, Batam, 31 Januari 2025. GOKEPRI/Engesti Fedro

BINTAN (gokepri) – Kemunculan buaya di kawasan permukiman Bintan diduga berkaitan dengan kebiasaan warga membuang sisa makanan di pesisir. Limbah nasi hingga potongan ayam disebut dapat menarik satwa predator itu mendekati aktivitas manusia.

Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya laporan kemunculan buaya di sejumlah wilayah Bintan. BPBD mencatat titik rawan kini tersebar hampir di seluruh kecamatan, sementara tekanan terhadap habitat mangrove dinilai ikut memperbesar potensi konflik manusia dan satwa liar.

Loka Pengelolaan Kelautan (LKP) Pekanbaru melalui Satuan Pelaksana Tanjungpinang meminta warga menghentikan kebiasaan membuang limbah makanan ke kawasan pesisir. Fungsional Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir LKP Pekanbaru Satpel Tanjungpinang, Ronald Raditya Kesatria Sinaga, menyebut sisa makanan dapat mengubah perilaku buaya karena satwa itu terbiasa mencari sumber pakan di dekat permukiman.

Baca Juga: Buaya Liar Makan Korban, Pemkab Bintan Bentuk Satgas

“Meningkatnya kemunculan buaya di permukiman warga dapat dipicu oleh pembuangan limbah makanan, seperti nasi hingga potongan daging atau ayam,” kata Ronald di Bintan, Kamis 21 Mei 2026.

Pernyataan itu menyoroti pola interaksi baru antara manusia dan buaya yang sebelumnya lebih banyak ditemukan di habitat alami seperti muara dan kawasan mangrove.

Menurut Ronald, persoalan tidak berhenti pada limbah makanan. Kerusakan hutan mangrove akibat ekspansi permukiman di sepanjang sungai dan pesisir juga berpotensi mempersempit habitat buaya. Hilangnya area berburu dan sumber makanan alami mendorong satwa itu bergerak ke wilayah yang lebih dekat dengan manusia.

Buaya bintan
Fungsional Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir (PELP) LKP Pekanbaru Satpel Tanjungpinang Ronald Raditya Kesatria Sinaga memberikan edukasi antisipasi serangan buaya kepada warga di Kabupaten Bintan, Kamis (21/5/2026). ANTARA/Ogen

Ia mendorong pemetaan tata ruang dan penguatan perlindungan kawasan pesisir. “Kita harus sama-sama ikut memelihara lingkungan pesisir guna meminimalisir konflik buaya dan manusia,” ujarnya.

Ronald menambahkan terdapat dua jenis reptil perairan yang hidup di Bintan, yakni buaya muara dan senyulong. Keduanya masuk kategori satwa dilindungi dan memiliki fungsi penting dalam rantai ekosistem. Karena itu, warga diminta tidak menangkap, melukai, membunuh, atau memindahkan satwa tersebut tanpa prosedur resmi.

Di sisi lain, BPBD Kabupaten Bintan mencatat populasi buaya di wilayah itu terus meningkat. Kepala Bidang Darurat dan Logistik BPBD Bintan, Wiryawan Wira, menyebut lokasi rawan tersebar di Tambelan sebanyak 18 titik, Teluk Bintan 13 titik, Teluk Kijang-Toapaya 13 titik, dan Bintan Timur tiga titik.

“Warga mengklaim buayanya jinak, padahal itu dalam kondisi kenyang. Kalau tak ada makanan lagi atau lapar, justru buaya bisa memangsa manusia,” kata Wira.

Ia mencontohkan praktik pembuangan potongan ayam sisa jualan ke laut di Kecamatan Tambelan. Sisa makanan itu dimakan buaya berukuran hingga empat meter dan diduga membuat satwa tersebut terbiasa mendekati area aktivitas warga.

BPBD mengingatkan masyarakat menghindari berenang, memancing, atau mencuci di kawasan rawan buaya, terutama saat subuh, menjelang pagi, sore, hingga malam hari ketika aktivitas satwa meningkat. ANTARA

Baca Juga: Endipat Wijaya: SOP Penangkaran Buaya di Pulau Bulan Harus Diperbaiki

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait