Malaysia meningkatkan penggunaan biodiesel berbasis sawit untuk menekan subsidi energi, impor bahan bakar, dan emisi karbon.
KUALA LUMPUR (gokepri) — Malaysia mempercepat pemanfaatan biodiesel untuk meredam lonjakan biaya energi dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar. Kebijakan ini didorong beban subsidi energi yang mencapai lebih dari 1,8 miliar dollar AS per bulan.
Dengan dukungan industri kelapa sawit yang besar, pemerintah mendorong peningkatan campuran biodiesel dalam solar sebagai solusi jangka menengah menghadapi volatilitas harga energi global.
Saat ini, Malaysia menerapkan campuran B10, yakni 10 persen biodiesel dan 90 persen solar. Pemerintah menargetkan peningkatan bertahap menuju B15, bahkan hingga B20 atau B30 dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: Gandeng Toyota, Pemerintah Bangun Pabrik Bioetanol di Lampung
Namun, transisi tersebut menghadapi kendala infrastruktur. Dari 34 depo pencampuran biodiesel yang ada, sebagian besar masih dirancang untuk kapasitas B10.
“Langkah pertama adalah meningkatkan infrastruktur. Proses ini membutuhkan waktu satu hingga dua tahun dan investasi besar,” ujar Sang Yew Ngin, pejabat Kementerian Perkebunan dan Komoditas Malaysia.
Pemerintah memperkirakan kebutuhan investasi sekitar 600 juta ringgit atau setara 151 juta dollar AS untuk menyiapkan fasilitas menuju campuran B30.
Di sisi pasokan, pelaku industri menilai kapasitas produksi mencukupi. Asosiasi Biodiesel Malaysia mencatat kapasitas produksi mencapai 2,4 juta ton per tahun, sementara realisasi produksi tahun lalu sekitar 1,3 juta ton.
“Kapasitas produksi masih cukup untuk memenuhi tambahan kebutuhan biodiesel sekitar 400.000 ton,” ujar Ketua Asosiasi Biodiesel Malaysia Tee Lip Teng.
Faktor biaya turut memperkuat dorongan penggunaan biodiesel. Harga biodiesel lebih rendah dibandingkan solar konvensional, seiring gangguan pasokan global akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
“Harga biodiesel sekitar 4,5 ringgit per liter, lebih rendah dibandingkan solar yang mendekati 6,2 ringgit per liter,” kata Chief Executive Officer SumWin Group Unnikrishnan Ramachandran Unnithan.
Meski demikian, penggunaan biodiesel Malaysia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga. Indonesia, misalnya, telah menerapkan campuran hingga B50 di pasar domestik.
Perbedaan ini dipengaruhi tingkat ketergantungan energi. Data International Energy Agency menunjukkan impor minyak mentah Malaysia sekitar 15,6 persen pada 2023, lebih rendah dibandingkan Indonesia yang mencapai 35,2 persen.
Di sisi lain, potensi bahan baku masih besar. Dari sekitar 20 juta ton produksi minyak sawit per tahun, hanya 1,3 juta ton atau sekitar 6,5 persen yang dimanfaatkan untuk biodiesel.
“Kami memiliki potensi besar untuk meningkatkan pemanfaatan minyak sawit bagi kepentingan nasional,” ujar Tee.
Sejumlah tantangan tetap muncul, termasuk kekhawatiran pengguna kendaraan terhadap dampak campuran biodiesel tinggi terhadap mesin. Pemerintah menilai edukasi dan kesiapan teknologi menjadi kunci untuk mengatasi hambatan tersebut.
Dalam jangka panjang, biodiesel diproyeksikan menjadi bagian penting strategi Malaysia mencapai target emisi nol bersih pada 2050. Selain memperkuat ketahanan energi, biodiesel juga mampu menekan emisi gas rumah kaca hingga 80 persen dibandingkan solar konvensional. CHANNEL NEWS ASIA
Baca Juga: Indonesia Bangun Pabrik Metanol, Tak Lagi Impor Solar pada 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








