TANJUNGPINANG (gokepri) – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau mulai mengantisipasi ancaman musim kemarau yang diprakirakan lebih kering dan panjang pada 2026. Fokus diarahkan pada optimalisasi waduk sebagai sumber utama air baku di wilayah yang sebagian besar mengandalkan tampungan air hujan.
Penjabat Sekretaris Daerah Kepri Luki Zaiman Prawira mengatakan pemerintah daerah sudah menyiapkan langkah mitigasi, meski kondisi cuaca di wilayah ini belum sepenuhnya memasuki fase kering. “Secara nasional diperkirakan mulai April, tapi Kepri masih berpotensi hujan dalam waktu dekat,” ujarnya, Kamis (16/4).
Karakteristik waduk di Kepri menjadi tantangan utama. Sebagian besar merupakan waduk tadah hujan yang sangat bergantung pada curah hujan untuk menjaga volume air.
Baca Juga: Tiga Waduk Menyusut, BP Batam Pastikan Pasokan Air Aman hingga Lima Bulan
Dalam kondisi normal, sistem ini cukup memadai. Namun saat musim kering berkepanjangan, kapasitas tampung cepat menyusut. Dampaknya langsung terasa pada distribusi air bersih ke masyarakat.
Data terbaru menunjukkan kondisi waduk di Pulau Bintan masih bervariasi. Waduk Sei Pulai dan Bintan Timur relatif stabil setelah beberapa kali hujan, dengan ketinggian air di atas 50 sentimeter. Namun, Waduk Gesek mulai menunjukkan penurunan, sementara Waduk Tanjung Uban berada dalam kondisi kritis.
Situasi ini menempatkan pemerintah pada posisi siaga. Distribusi bantuan air masih berlangsung di sejumlah wilayah yang terdampak.
Selain faktor alam, persoalan infrastruktur turut mempengaruhi ketahanan air. Kebocoran pipa dan keterbatasan jaringan distribusi kerap memperparah krisis saat kemarau.
Pemprov Kepri menyebut perbaikan jaringan pipa menjadi salah satu langkah awal. Sambungan dari Waduk Sei Pulai hingga Kilometer 6 telah diperbaiki. “Sekarang sudah tidak ada kebocoran,” kata Luki.
Namun perbaikan ini bersifat jangka pendek. Dalam jangka menengah dan panjang, pemerintah mengandalkan proyek interkoneksi antarwaduk.
Bersama Badan Wilayah Sungai Sumatera IV Batam dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Pemprov Kepri tengah membahas penguatan sistem air baku. Salah satu rencana utama adalah interkoneksi pipa antara Waduk Gesek dan Waduk Kawal.
Proyek yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ini ditargetkan rampung pada 2027. Interkoneksi diharapkan mampu menyeimbangkan pasokan air antarwilayah, terutama untuk Tanjungpinang dan Bintan.
Di sisi lain, Waduk Bintan Buyu juga masuk dalam rencana optimalisasi. Waduk ini dinilai memiliki potensi untuk meningkatkan kapasitas suplai di tengah kebutuhan air yang terus meningkat.
Fenomena kemarau panjang bukan hal baru bagi wilayah kepulauan. Dalam beberapa tahun terakhir, pola cuaca cenderung tidak menentu. Intensitas hujan tinggi dalam waktu singkat, lalu berganti periode kering yang lebih panjang.
Kondisi ini menuntut perubahan pendekatan. Ketergantungan pada waduk tadah hujan tanpa diversifikasi sumber air berisiko menimbulkan krisis berulang. ANTARA
Baca Juga: Kemarau Mengintai Anambas, Damkar Turun Tangan Atasi Krisis Air
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








