Oleh: Muhammad Ariq Al Habsyi, Mahasiswa Kewirausahaan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas

Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Batam terus menunjukan geliat. Salah satunya adalah usaha kuliner camilan yang dilabeli ‘Doyan Jajan’. Berlokasi di Perumahan Cendana, Batam Centre, Batam, usaha ini menawarkan berbagai jajanan gorengan homemade dengan harga terjangkau dengan kualitas yang selalu terjaga.
Doyan Jajan dimiliki oleh Domi, seorang mantan pegawai hotel di Batam yang memutuskan untuk beralih menjadi wirausaha. Sebelum kembali ke Batam akhir 2025-an, Domi telah lebih dulu menjalankan usaha katering di Banten – kampung halamannya – selama kurang lebih 10 tahun. Pengalaman panjang di dunia kuliner tersebut menjadi bekal kuat dalam membangun usahanya saat ini.
Dalam menjalankan bisnisnya, Domi tidak sendiri. Ia dibantu oleh sang istri, Ella, yang juga merupakan mantan pegawai hotel di Batam. Dengan pengalaman keduanya di bidang pelayanan dan kuliner, Doyan Jajan mampu menghadirkan produk yang tidak hanya lezat tetapi juga membuat konsumen jatuh hati.
Konter Doyan Jajan buka setiap hari Senin hingga Sabtu, mulai pukul 15.00 hingga 21.00 WIB. Dalam sehari, omzet yang dihasilkan bisa mencapai sekitar Rp400.000. Namun, pada Ramadan 2026 ini, omzet tersebut meningkat hingga dua kali lipat. Hal itu didorong oleh tingginya permintaan serta bertambahnya pelanggan baru terutama dari kalangan anak muda.
“Alhamdulillah, jajanan yang kami tawarkan mendapat tempat di lidah masyarakat, apalagi saat Ramadhan tahun ini,” ucap Domi.
Seluruh produk yang dijual di Doyan Jajan dibuat sendiri oleh pemilik alias homemade. Proses persiapan dilakukan sejak pagi hingga siang hari, sehingga saat dijual pada sore hari, jajanan tetap dalam kondisi segar. Setiap konsumen yang membeli, gorengan disajikan secara dadakan, sehingga pelanggan dapat menikmati makanan dalam keadaan hangat dan renyah.

Menu yang ditawarkan cukup beragam, mulai dari risol dengan berbagai varian seperti risol ayam suwir, ayam mayo, ayam pedas, hingga risol rogut. Tidak hanya itu, tersedia juga cireng isi serta tahu walik yang tergolong jarang ditemukan. Keunikan lainnya adalah saus pelengkap yang dibuat sendiri, seperti saus blackpepper dan chili oil, yang menambah cita rasa khas pada setiap produk.
Dari segi harga, jajan di Doyan Jajan sangat bersahabat di kantong. Produk dijual mulai dari Rp1.000, menjadikannya lebih terjangkau dibandingkan harga pasar pada umumnya saat ini. Hal ini menjadi salah satu daya tarik utama bagi pelanggan.
Selain melayani penjualan langsung, Doyan Jajan juga menerima pesanan dalam jumlah tertentu. Meski demikian, Domi tetap menjalankan penjualan harian seperti biasa.
“Kami tetap berjualan seperti biasanya walaupun sedang menerima pesanan, karena lumayan untuk meningkatkan omzet,” ujarnya.
Dalam hal pembayaran, Doyan Jajan telah mengikuti perkembangan teknologi dengan menyediakan metode pembayaran digital melalui QRIS. Fitur ini terbukti sangat membantu, terutama bagi pelanggan muda yang lebih terbiasa dengan transaksi non-tunai.
Nama ‘Doyan Jajan’ sendiri dipilih karena maknanya yang sederhana dan mudah diingat yaitu menggambarkan kebiasaan masyarakat yang gemar membeli camilan. Nama ini terbukti efektif dalam menarik perhatian pelanggan.
Kedepan, Domi dan Ella memiliki rencana untuk mengembangkan usaha mereka termasuk membuka outlet di lokasi lain serta menambah variasi menu gorengan agar semakin menarik minat konsumen.
Dengan kualitas produk, harga terjangkau, serta pelayanan yang konsisten, Doyan Jajan menjadi salah satu contoh UMKM kuliner yang potensial untuk terus berkembang di Batam.
“Dalam menjalankan bisnis ini, selain menawarkan produk yang murah, enak, dan berkualitas, kami juga memberikan pelayanan terbaik pada konsumen,” pungkas Domi. ***









