Oleh: Dr. C. Utrianto,S.Pd.,M.Pd., Dosen PAI di Institut Teknologi Indobaru Nasional dan Guru PAI di SMK Negeri 1 Batam
Mudik merupakan fenomena sosial-budaya khas Indonesia menjelang Idul Fitri. Dalam perspektif Islam, mudik bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan psikologis yang berkaitan dengan ibadah shaum. Artikel ini menganalisis mudik dalam konteks psikologis shaum dengan menyoroti dimensi spiritual, emosional, dan sosial.
Mudik telah menjadi tradisi tahunan masyarakat Indonesia, terutama menjelang Idul Fitri setelah bulan Ramadan. Dalam konteks ini, mudik bukan hanya mobilitas sosial, tetapi juga refleksi spiritual setelah menjalani ibadah puasa.
Shaum melatih pengendalian diri, kesabaran, dan empati. Secara psikologis, individu mengalami proses penyucian diri (tazkiyatun nafs). Mudik kemudian menjadi sarana katarsis emosional, mempertemukan kembali individu dengan keluarga dan lingkungan asal.
Secara psikologi modern, mudik berkaitan dengan teori attachment, stress recovery, dan meaning-making. Kampung halaman menjadi ruang aman yang memulihkan kondisi mental.
Dalam perspektif sosial, mudik memperkuat silaturahim, solidaritas, dan integrasi sosial. Tradisi saling memaafkan memperkuat kohesi masyarakat.
Mudik dalam konteks shaum adalah perjalanan spiritual dan psikologis menuju fitrah. Ia memperkuat hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama serta menjadi sarana rekonstruksi diri. *







