Oleh: Dr.Cand. Utrianto, S.Pd., M.Pd., Dosen di Institut Teknologi Indobaru Nasional dan pengurus MUI Kota Batam Bidang Ukhuwah Islamiyah
Di tengah riuhnya kehidupan modern yang penuh kompetisi, manusia berlomba dalam banyak hal: kekayaan, jabatan, popularitas, bahkan pengaruh di ruang digital. Namun, ada satu pertanyaan mendasar yang sering luput dari kesadaran kita: dalam hal apa sebenarnya kita berlomba?
Islam telah memberikan jawaban tegas melalui firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 148: “Fastabiqul khairat”—berlomba-lombalah dalam kebaikan. Sayangnya, konsep ini sering berhenti pada tataran slogan. Ia dikutip dalam ceramah, ditulis dalam spanduk keagamaan, tetapi belum sepenuhnya menjelma menjadi budaya hidup umat.
Krisis Orientasi: Dari Kebaikan ke Kepentingan
Realitas hari ini menunjukkan adanya pergeseran orientasi. Kompetisi yang seharusnya melahirkan kebaikan justru kerap berubah menjadi ajang saling menjatuhkan. Di media sosial, misalnya, tidak sedikit yang lebih sibuk berlomba dalam sensasi daripada substansi. Kebaikan kalah cepat dari kontroversi.
Padahal, dalam perspektif Islam, Fastabiqul Khairat bukan sekadar ajakan moral, tetapi merupakan perintah peradaban. Ia mengarahkan manusia untuk menjadikan kebaikan sebagai pusat dari seluruh aktivitas hidup. Penelitian kontemporer dalam kajian keislaman menunjukkan bahwa nilai ini memiliki dimensi luas—mulai dari spiritualitas, sosial, hingga transformasi digital umat. Artinya, Fastabiqul Khairat sangat relevan dengan tantangan zaman modern.
Makna Mendalam: Kompetisi yang Membangun, Bukan Menghancurkan
Berbeda dengan kompetisi duniawi yang sering melahirkan egoisme, Fastabiqul Khairat justru melahirkan kolaborasi. Dalam Islam, ketika seseorang berbuat baik, ia tidak sedang mengalahkan orang lain, tetapi sedang mengajak orang lain untuk ikut dalam kebaikan.
Inilah keindahan konsep ini: kompetisi tanpa permusuhan, keunggulan tanpa kesombongan, dan prestasi tanpa menjatuhkan.
Dalam kehidupan sosial Indonesia yang majemuk, nilai ini sangat penting. Ia menjadi fondasi bagi terciptanya harmoni, toleransi, dan solidaritas. Tradisi gotong royong, kepedulian sosial, dan semangat berbagi sejatinya adalah manifestasi nyata dari Fastabiqul Khairat.
Pendidikan yang Menghidupkan Nilai, Bukan Sekadar Menghafal
Salah satu tantangan terbesar dunia pendidikan hari ini adalah bagaimana mentransformasikan nilai menjadi karakter. Fastabiqul Khairat seharusnya tidak hanya diajarkan sebagai ayat yang dihafal, tetapi sebagai budaya yang dihidupkan.
Sekolah dan lembaga pendidikan Islam perlu mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kompetitif dalam kebaikan. Generasi yang berlomba dalam kejujuran, kedisiplinan, dan kontribusi sosial.
Studi terbaru dalam pendidikan Islam menunjukkan bahwa internalisasi nilai Fastabiqul Khairat mampu membentuk etos kerja, integritas, dan semangat berprestasi yang sehat. Ini adalah modal penting dalam membangun generasi emas umat.
Etika Profesional: Bekerja sebagai Ibadah
Dalam dunia kerja, konsep ini menemukan relevansinya yang sangat kuat. Fastabiqul Khairat mengajarkan bahwa bekerja bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga ladang amal.
Seorang profesional Muslim tidak hanya dituntut untuk unggul, tetapi juga jujur, adil, dan bertanggung jawab. Ia tidak hanya ingin menjadi yang terbaik, tetapi juga menjadi yang paling bermanfaat.
Dalam konteks ini, Fastabiqul Khairat melahirkan etos kerja profetik—kerja yang dilandasi iman, dijalankan dengan integritas, dan diarahkan untuk kemaslahatan.
Dakwah di Era Digital: Berlomba dalam Konten Kebaikan
Era digital membuka peluang sekaligus tantangan baru. Hari ini, siapa pun bisa menjadi “produsen informasi”. Namun, tidak semua informasi membawa kebaikan. Di sinilah Fastabiqul Khairat menemukan medan barunya: ruang digital.
Umat Islam dituntut untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen konten yang membawa nilai kebaikan. Dakwah tidak lagi terbatas di mimbar, tetapi hadir di layar-layar gawai.
Pertanyaannya, apakah kita sudah ikut berlomba dalam menyebarkan kebaikan, atau justru menjadi bagian dari arus informasi yang merusak?
Dari Slogan Menuju Gerakan
Sudah saatnya Fastabiqul Khairat tidak lagi berhenti sebagai jargon. Ia harus menjadi gerakan nyata—di rumah, di sekolah, di tempat kerja, dan di ruang digital.
Kita membutuhkan perubahan paradigma dari sekadar menjadi “baik” menjadi aktif berlomba dalam kebaikan. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya pada apa yang ia miliki, tetapi pada seberapa besar kebaikan yang ia sebarkan.
Kembali pada Spirit Al-Qur’an
Fastabiqul Khairat adalah panggilan Al-Qur’an yang melampaui ruang dan waktu. Ia relevan kemarin, hari ini, dan esok. Dalam dunia yang semakin kompetitif, Islam tidak menolak kompetisi—tetapi mengarahkannya. Bukan berlomba menjadi yang paling kaya, bukan yang paling terkenal,tetapi yang paling banyak berbuat kebaikan.
Maka, pertanyaan reflektif untuk kita semua, sudahkah kita benar-benar berlomba dalam kebaikan, atau justru tertinggal dalam perlombaan yang salah arah? **







