Mojtaba Khamenei ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran setelah ayahnya tewas dalam serangan udara AS dan Israel. Suksesi ini berlangsung di tengah ancaman terbuka dari Washington dan Tel Aviv.
TOKYO (gokepri) – Langit Teheran belum lama tenang setelah ledakan mengguncang kompleks kediaman keluarga Khamenei pada akhir Februari lalu. Serangan udara yang dilepas oleh Amerika Serikat dan Israel itu menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, tokoh yang selama lebih dari tiga dekade menjadi pusat kekuasaan politik dan keagamaan di Iran.
Beberapa hari setelah insiden itu, lingkar kekuasaan di Republik Islam bergerak cepat. Pada Senin, 9 Maret 2026, media pemerintah Iran melaporkan Mojtaba Khamenei, putra kedua Ali Khamenei, resmi ditetapkan sebagai Pemimpin Tertinggi Iran.
Baca Juga: Mojtaba Khamenei Ditunjuk Sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
Penetapan itu menjadikan Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi ketiga sejak Revolusi Islam 1979, setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini dan Ayatollah Ali Khamenei. Ia mengambil alih posisi yang tidak hanya menentukan arah politik Iran, tetapi juga mengendalikan institusi militer, yudikatif, serta kebijakan strategis negara, termasuk program nuklir. Suksesi ini terjadi dalam situasi yang jauh dari stabil.
Serangan udara pada 28 Februari 2026 tidak hanya menewaskan ayahnya. Dalam laporan media Iran, sejumlah anggota keluarga Khamenei juga menjadi korban, termasuk Zahra Haddad-Adel, istri Mojtaba. Beberapa anggota keluarga lain, termasuk ibunya dan kerabat dekat, juga dilaporkan tewas dalam serangan yang menargetkan kompleks keluarga tersebut di Teheran. Mojtaba selamat dari serangan itu. Namun, saat ia muncul sebagai penerus kekuasaan, ancaman baru langsung menyusul.
Transisi Kekuasaan
Menurut laporan media pemerintah Iran, penunjukan Mojtaba diputuskan oleh Majelis Ahli, lembaga beranggotakan 88 ulama yang memiliki kewenangan konstitusional memilih dan mengawasi Pemimpin Tertinggi. Keputusan itu diambil melalui mufakat dalam sidang tertutup.
Tak lama setelah pengumuman tersebut, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC)—kekuatan militer elite Iran—menyatakan dukungan terhadap kepemimpinan Mojtaba. Dukungan ini dianggap penting karena IRGC memainkan peran besar dalam keamanan nasional, kebijakan luar negeri, hingga ekonomi Iran.
Dalam struktur politik Iran, Pemimpin Tertinggi berada di atas seluruh lembaga negara. Ia memiliki kewenangan atas militer, sistem peradilan, lembaga penyiaran negara, serta menentukan garis besar kebijakan strategis negara.
Karena itu, pergantian figur di posisi ini selalu memiliki implikasi besar, baik di dalam negeri maupun dalam hubungan Iran dengan dunia.
Mojtaba Khamenei lahir pada 8 September 1969 di kota Mashhad, salah satu pusat keagamaan terpenting di Iran. Ia tumbuh dalam keluarga ulama yang berpengaruh.
Ayahnya, Ali Khamenei, merupakan tokoh penting dalam Revolusi Islam yang menggulingkan Shah Mohammad Reza Pahlavi pada 1979. Setelah revolusi, Ali Khamenei menjabat sebagai presiden Iran sebelum kemudian menjadi Pemimpin Tertinggi sejak 1989.
Sejak muda, Mojtaba berada dekat dengan lingkaran kekuasaan religius dan politik Iran. Ia menempuh pendidikan keagamaan dan dikenal memiliki hubungan kuat dengan kalangan ulama konservatif serta jaringan politik yang berpengaruh di Teheran.
Mojtaba juga memiliki hubungan keluarga dengan elite politik Iran. Ia menikah dengan Zahra Haddad-Adel, putri Gholam-Ali Haddad-Adel, seorang politikus konservatif dan mantan ketua parlemen Iran.
Hubungan ini memperkuat posisinya di dalam jaringan elite konservatif yang selama ini mendominasi politik Iran.
Namun hingga beberapa tahun lalu, kemunculan Mojtaba sebagai calon pemimpin tertinggi sempat menuai kontroversi. Sebagian kalangan di Iran menilai proses suksesi yang melibatkan anggota keluarga berpotensi memunculkan kesan dinasti politik—sesuatu yang secara historis ingin dihindari oleh sistem republik Islam. Kini, di tengah krisis geopolitik, perdebatan itu seolah tersisih oleh urgensi stabilitas politik.
Suksesi Mojtaba berlangsung di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat tajam. Hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan Israel telah lama berada dalam posisi konfrontatif. Namun ketegangan itu mencapai titik baru setelah serangan udara yang menewaskan Ali Khamenei.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan bahwa siapa pun yang menjadi Pemimpin Tertinggi Iran tanpa “persetujuan” Washington tidak akan bertahan lama.
Pernyataan yang lebih keras datang dari Israel. Kepala Pertahanan Israel Israel Katz menyatakan bahwa siapa pun pemimpin Iran yang melanjutkan kebijakan yang dianggap mengancam Israel akan menjadi target pembunuhan.
“Setiap pemimpin yang dipilih oleh rezim Iran untuk melanjutkan rencana penghancuran Israel, mengancam Amerika Serikat dan dunia bebas, akan menjadi target pasti untuk dibunuh,” kata Katz melalui media sosial X. Pernyataan itu memperlihatkan betapa posisi Mojtaba kini berada di pusat konfrontasi geopolitik kawasan.
Banyak pengamat memperkirakan Mojtaba akan mempertahankan garis kebijakan yang selama ini dijalankan ayahnya—terutama sikap keras terhadap Amerika Serikat dan dukungan terhadap kelompok-kelompok sekutu Iran di kawasan Timur Tengah.
Namun kepemimpinannya juga akan diuji oleh kondisi domestik Iran. Negara itu dalam beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan ekonomi akibat sanksi internasional, serta gelombang protes sosial yang muncul secara sporadis. KYODO-OANA/ANADOLU
Baca Juga: AS-Israel Invasi Iran, Warga Kepri di Timur Tengah Diminta Tunda Perjalanan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








