BATAM (gokepri) — Sebanyak 1.819 produk Indonesia berpeluang masuk Amerika Serikat tanpa tarif. Batam bersiap memperluas ekspor dan menarik investasi manufaktur.
Perjanjian dagang resiprokal Indonesia–Amerika Serikat memberi akses tarif nol persen untuk berbagai komoditas strategis. Produk tersebut meliputi minyak sawit, rempah-rempah, kopi, kakao, karet, komponen elektronik dan semikonduktor, komponen pesawat terbang, hingga tekstil dan apparel melalui skema Tariff Rate Quota (TRQ).
Bagi Batam, kebijakan ini menyasar sektor elektronik, semikonduktor, komponen pesawat, dan tekstil—empat industri utama penopang kawasan tersebut.
Baca Juga: Bagaimana Kolaborasi RI-AS Membangun Ekosistem Semikonduktor di Pulau Galang
Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary Djemy Francis mengatakan kesepakatan ini menjadi dorongan bagi transformasi industri Batam menuju manufaktur berteknologi tinggi.
“Ini momentum strategis untuk mempercepat transformasi Batam sebagai simpul manufaktur berteknologi tinggi di kawasan,” ujarnya, Senin 23 Februari 2026.
Menurut dia, akses pasar yang lebih kompetitif di Amerika Serikat akan memperkuat daya saing perusahaan yang sudah beroperasi sekaligus menarik investasi baru.
Data menunjukkan kebijakan ini berpotensi berdampak langsung pada sekitar 4 juta pekerja sektor tekstil dan memengaruhi sekitar 20 juta masyarakat Indonesia. Skema tarif nol persen dinilai membantu menjaga stabilitas harga bahan baku dan menekan tekanan inflasi sehingga harga mi, tahu, dan tempe tetap terjangkau.
Selain ekspor, perjanjian tersebut juga mengatur impor sejumlah komoditas dari Amerika Serikat yang belum diproduksi di dalam negeri, seperti gandum dan kedelai.
Di bidang investasi, kerja sama diarahkan pada pengembangan mineral kritis, hilirisasi silika untuk kebutuhan semikonduktor, pemulihan lapangan minyak, serta penjajakan pembangunan kawasan industri bersama Indonesia–Amerika.
Perjanjian ini juga memuat mekanisme perlindungan nasional. Pemerintah membentuk Council of Trade and Investment serta forum penyelesaian sengketa jika terjadi lonjakan impor atau ekspor. Evaluasi bersama tetap menghormati kedaulatan masing-masing negara.
BP Batam menyatakan fokus mereka kini pada kesiapan ekosistem investasi agar peluang tersebut segera berujung pada realisasi proyek dan peningkatan ekspor.
“Kami ingin memastikan peluang ini cepat terealisasi dalam bentuk investasi dan ekspor yang berkelanjutan,” kata Fary.
Diberitakan, Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump telah meneken kesepakatan dagang Agreement on Reciprocal Trade (ART) bertajuk Toward a New Golden Age for the U.S.-Indonesia Alliance di Washington DC pada Kamis (19/2/2026) waktu setempat.
Perjanjian ini membuahkan fasilitas tarif 0% untuk 1.819 pos tarif produk RI, termasuk produk yang banyak bergantung ke pasar AS seperti tekstil dan garmen bersyarat kuota, CPO, hingga semikonduktor.
Sebagai kompensasi, RI membebaskan tarif hampir semua barang asal AS dan wajib mengimpor barang-barang asal Negeri Paman Sam senilai US$33 miliar dalam lima tahun ke depan seperti produk energi, aviasi, hingga pertanian. Pemerintah Indonesia juga sepakat menghapus berbagai hambatan dagang non-tarif untuk AS seperti pengecualian aturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN), label halal, hingga lisensi impor.
Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan menilai kesepakatan dagang RI-AS tersebut bukan sekadar urusan potong-memotong tarif bea masuk. Menurutnya, perjanjian tersebut memadukan perdagangan, investasi, teknologi, dan keamanan ekonomi dalam satu kerangka strategis.
Dari sisi peluang, Deni mengamini bahwa akses ekspor Indonesia ke pasar AS menjadi jauh lebih stabil. Hilangnya ketidakpastian tarif resiprokal membuka keran ekspansi yang lebih lebar bagi produk unggulan domestik.
“Perjanjian ini juga diharapkan dapat memperdalam integrasi Indonesia dalam rantai pasok strategis dengan AS, terutama mineral kritis dan energi transisi seperti electric vehicle [EV], baterai, dan rare earth,” ujarnya dikutip dari Bisnis.com, Jumat (20/2/2026).
Menurutnya, di tengah tren perlambatan ekonomi global dan proteksionisme, kepastian hubungan dagang dengan AS memberikan keamanan tersendiri. RI, sambung Deni, kini memiliki momentum untuk mendiversifikasi pasar ekspor mineralnya agar tidak melulu bergantung pada China.
Transparansi regulasi dan penguatan hak kekayaan intelektual dalam ART juga berpotensi mendongkrak aliran penanaman modal asing langsung.
Baca Juga: Tekstil Indonesia Bebas Tarif Masuk ke AS
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








