BATAM (gokepri) — Dua negara penyumbang wisatawan terbesar Indonesia berbatasan langsung dengan Kepulauan Riau. Namun wilayah ini belum dijadikan pintu utama masuk turis asing.
Padahal, berdasarkan data kunjungan wisatawan mancanegara 2025 yang mencapai sekitar 13,95 juta orang, Malaysia menjadi kontributor terbesar, disusul negara-negara kawasan Asia Tenggara. Singapura berada di peringkat tiga. Dua negara itu bertetangga langsung dengan Kepulauan Riau.
Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pariwisata Bahari Indonesia (ASPABRI) Kepulauan Riau, Surya Wijaya, menilai kondisi ini semestinya menjadikan Kepri sebagai gerbang wisata paling strategis yang dimiliki Indonesia. “Ini border paling emas Indonesia,” kata Surya, Senin 26 Januari 2026.
Baca Juga: Deretan Destinasi Wisata di Bintan, Pantai hingga Desa Wisata
Selain Malaysia, Kepri berada sangat dekat dengan Singapura, pusat aktivitas ekspatriat dan pelaku perjalanan internasional. Kedekatan ini membuat Batam, Bintan, dan Tanjungpinang memiliki potensi kunjungan wisata harian yang tinggi, terutama untuk perjalanan singkat lintas negara.
ASPABRI mencatat sekitar 50 persen wisatawan mancanegara non-Bali masuk ke Indonesia melalui jalur perbatasan, termasuk pelabuhan internasional di Kepri. Namun arus besar itu belum ditopang strategi promosi dan pengelolaan yang terarah.
“Promosi pariwisata kita masih terlalu Bali-sentris,” ujar Surya. Menurut dia, Kepri sudah memiliki pasar nyata, akses mudah, dan jarak geografis yang jauh lebih dekat dibanding destinasi lain.
Ia menjelaskan, karakter pariwisata perbatasan berbeda dengan destinasi jarak jauh seperti Bali atau Labuan Bajo. Wilayah seperti Kepri lebih cocok dikembangkan dengan pendekatan kuantitas: akses dipermudah, biaya ditekan, dan kunjungan dibuat berulang.
Wisatawan perbatasan, kata Surya, datang untuk belanja, makan, dan berwisata singkat. Dampaknya cepat terasa karena langsung menggerakkan ekonomi lokal, dari transportasi hingga usaha kecil.
Jika dikelola serius, Kepri berpeluang menjadi penopang utama kenaikan wisatawan mancanegara nasional. Pendapatan jangka pendek dari wisata perbatasan juga dapat membantu menutup biaya promosi dan pembangunan destinasi jangka panjang.
Surya menilai pembangunan destinasi unggulan baru tetap penting sebagai visi masa depan. Namun untuk hasil yang cepat dan terukur, Kepri seharusnya menjadi prioritas kebijakan saat ini.
Ia berharap pemerintah pusat dan daerah memperkuat peran Kepri sebagai gerbang wisata barat Indonesia, melalui konektivitas yang lebih baik, harga yang kompetitif, serta promosi yang fokus ke negara-negara sekitar.
“Kalau aksesnya dipermudah dan ekosistemnya ditata, Kepri bisa menjadi mesin utama pariwisata nasional,” ujarnya.
Baca Juga: Pariwisata Bali setelah Tertatih-Tatih
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









