BATAM (gokepri) — Anak-anak Indonesia kian menjadikan ruang digital sebagai bagian utama kehidupan sehari-hari. Namun, di balik tingginya intensitas penggunaan gawai, mereka menghadapi tekanan serius terhadap kesehatan mental dan perlindungan diri. Pada saat yang sama, krisis iklim yang semakin nyata turut menggerus pemenuhan hak-hak dasar anak.
Temuan tersebut disampaikan Save the Children Indonesia dalam diskusi media awal 2026. Organisasi kemanusiaan itu menyoroti dua tantangan besar yang dihadapi anak Indonesia, yakni risiko di ruang digital dan dampak krisis iklim.
Studi Save the Children Indonesia tahun 2025 tentang Penguatan Perlindungan Digital dan Kesejahteraan Anak menunjukkan hampir 40 persen anak usia SMP menghabiskan waktu tiga hingga enam jam per hari di depan gawai. Puncak penggunaan terjadi pada pukul 18.00 hingga 21.00 WIB, dengan anak perempuan tercatat memiliki durasi layar lebih panjang dibandingkan anak laki-laki.
Baca Juga: Yayasan Del Perkenalkan Rumah Faye, Organisasi yang Fokus Perlindungan Anak Indonesia
Temuan ini menegaskan bahwa dunia digital telah menjadi ruang hidup utama anak. Bahkan ketika sekolah melarang penggunaan ponsel, sebagian anak tetap berupaya mengakses gawai saat jam pelajaran.
Studi tersebut juga mengungkap bahwa peningkatan literasi digital tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan mental anak. Semakin tinggi tingkat kecanduan digital, semakin buruk kondisi kesehatan mental mereka. Meski sebagian besar anak telah memahami risiko di ruang digital, seperti penipuan, peretasan, pencurian data, dan perundungan siber, kesadaran tersebut belum diiringi dengan kemampuan merespons secara aman dan sehat.
“Anak-anak tahu risikonya di ruang digital, tetapi mereka bingung harus berbuat apa. Literasi digital saja tidak cukup. Anak membutuhkan penguasaan kompetensi digital yang utuh, pendampingan orang tua, serta dukungan kesehatan mental yang memadai,” kata CEO Save the Children Indonesia Dessy Kurwiany Ukar.
Di sisi lain, anak-anak juga menghadapi dampak krisis iklim yang semakin mengkhawatirkan. Laporan *Voluntary National Review* SDGs 2025 menunjukkan krisis iklim telah merampas sejumlah hak anak, mulai dari terganggunya pola makan dan kesehatan, menurunnya pendapatan keluarga, hingga meningkatnya risiko perlindungan, terutama dalam situasi bencana.
Kajian bersama Save the Children Indonesia dan Humanitarian Forum Indonesia pada Desember 2025 menemukan bahwa akses air bersih di lokasi pengungsian masih belum merata dan berpotensi menimbulkan masalah kesehatan bagi anak dan keluarga. Sejumlah fasilitas kesehatan terdampak dan tidak mampu beroperasi optimal, sementara kebutuhan balita, ibu hamil, dan ibu menyusui belum terpenuhi secara memadai.
Menghadapi kondisi tersebut, Save the Children Indonesia menekankan pentingnya pendekatan perlindungan anak yang komprehensif dan terintegrasi. Memasuki 2026, sejumlah prioritas mendesak perlu dilakukan, antara lain memperkuat keamanan digital anak melalui peningkatan keterampilan, sistem perlindungan, serta partisipasi anak, guru, dan orang tua.
Selain itu, organisasi tersebut juga mendorong peningkatan literasi adaptasi krisis iklim dan aksi iklim yang bermakna bagi anak, serta memastikan pemenuhan hak anak dalam masa transisi pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
“Menuju Indonesia Emas 2045, investasi terbesar kita adalah memastikan anak-anak tumbuh dengan aman, sehat, dan tangguh menghadapi krisis serta perubahan zaman. Tanpa perlindungan dan pemenuhan hak anak hari ini, cita-cita itu akan sulit tercapai,” kata Dessy.
Baca Juga: Arab Saudi Bantu Operasi Jantung Anak Indonesia Secara Gratis di RS Harapan Kita
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









