Ketika Umar bin Khattab Murka Saat Ditawari Naik Gaji

ilustrasi (internet)

JAKARTA (gokepri.com) – Anggota DPR RI mendapat kenaikan tunjangan. Wakil Ketua DPR RI, Adies Kadir mengungkapkan, para wakil rakyat mendapatkan tambahan berupa tunjangan rumah sebesar Rp 50 juta per bulan.

Dia mengatakan, tambahan tunjangan itu menggantikan rumah dinas DPR RI yang kini sudah tidak ada. Dengan begitu, tunjangan rumah dinas itu diberikan dengan nominal yang disesuaikan tersebut.

“Jadi tunjangan perumahan DPR itu Rp 50 juta, tepatnya kurang lebih Rp58 juta dipotong itu mereka terima sekitar Rp 50 juta,” kata Adies di kompleks parlemen, Jakarta, Selasa.

HBRL

Selain tunjangan rumah dinas itu, dia menjelaskan bahwa Anggota DPR RI bisa menerima gaji hampir Rp 70 juta setiap bulannya. Angka itu, terdiri dari gaji pokok sekitar Rp 7 juta, tunjangan BBM sekitar Rp 7 juta, tunjangan beras Rp 12 juta, hingga komponen-komponen tunjangan lainnya.

“Jadi kalau dulu gaji kawan-kawan itu terima total bersihnya sekitar Rp 58 juta mungkin. Gaji tidak naik ya, saya tegas sekali gaji tidak naik. Tunjangan makan disesuaikan dengan indeks saat ini mungkin terima hampir Rp 69-70 juta,” kata dia.

Fenomena naiknya tunjangan anggota dewan di tengah sulitnya kehidupan ekonomi masyarakat pun menjadi sorotan publik. Tidak heran jika ada yang membanding-bandingkan dengan para khalifah ur rasyidin, kepala negara yang meneruskan tongkat kepemimpinan Rasulullah SAW yang memilih hidup sederhana.

Contoh yang paling nyata yakni Khalifah Umar bin Khattab. Sebelum terpilih menjadi khalifah, sosok bergelar al-Faruq itu biasa mencari penghasilan sehari-hari dari berdagang. Begitu didaulat menjadi pemimpin orang-orang beriman (amirul mukminin), sumber nafkahnya ialah gaji dari kas negara.

Beberapa hari setelah terpilih menjadi khalifah, Umar bin Khattab mengumpulkan anggota masyarakat untuk menyampaikan isi hatinya. Setelah mereka berkumpul, berkatalah Khalifah Umar, ”Dahulu saya berdagang, sekarang kalian memberiku kesibukan menangani urusan ini (mengurus negara). Oleh karena itu, sekarang bagaimana saya memenuhi kebutuhan hidup saya dan keluarga?”

Apa yang disampaikan Amirul Mukminin itu telah membuat para sahabat Rasulullah berpikir. Lalu di antara mereka mengusulkan agar Khalifah Umar mendapat uang tunjangan (gaji) dari Baitul Maal. Mendengar usulan itu, Umar hanya terdiam, hingga akhirnya bertanya kepada sahabatnya yang sekaligus menantu Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib. Kemudian, kata Ali, ”Ambillah uang (dari Baitul Maal) secukupnya untuk keperluan keluargamu.”

Mendengar pendapat sahabatnya Ali bin Abi Thalib, Khalifah Umar pun bersuka-cita menerimanya. Akhirnya uang tunjangan pun diberikan dengan pertimbangan saran tersebut.

Meski mendapatkan uang tunjangan, gaya hidup sang khalifah tetaplah seperti dahulu. Penuh kesederhanaan. Rumahnya seperti kebanyakan warga Madinah dari kalangan biasa. Bahkan, baju yang dikenakan Umar sering kali terdapat tambalan-tambalan.

Murkanya Umar
Uang tunjangan itu berjalan sekian lama, hingga para sahabat Rasulullah dikejutkan oleh jumlahnya yang sangat kecil buat seorang khalifah yang menjalankan kewajiban sebagai pemimpin dan pengurus masyarakat. Dalam pertemuan di sebuah majelis, mereka pun mengusulkan agar uang tunjangan khalifah ditambah.

Sekelompok sahabat senior seperti Ali, Utsman, dan Thalhah mendiskusikan untuk menaikkan gaji Umar. Namun, tak seorang pun yang berani mengusulkan itu kepada sang amirul mukminin. Akhirnya, mereka pergi menemui Hafshah, putri Umar dan juga seorang ummul mukminin.

Hafshah lantas pergi menemui Umar. Segera setelah mendengarkan usulan tersebut, ia naik pitam dan membentak. ”Siapa yang telah mengajukan usulan jahat ini!?”

Putrinya itu diam tak menjawab. Umar lantas berkata lagi, “Seandainya aku mengetahui siapa pengusul itu, niscaya aku akan memukulnya hingga babak belur!”

Setelah tenang, Umar lalu menjelaskan kepada anaknya itu, betapa dirinya ingin meniru kepribadian Rasulullah SAW, termasuk dalam hal memimpin.

“Wahai putriku, engkau bisa melihat di rumahmu sendiri pakaian-pakaian terbaik yang biasa dipakai Rasulullah SAW, makanan terbaik yang biasa dimakan Rasulullah SAW, dan ranjang terbaik yang biasa beliau gunakan untuk tidur. Apakah milikku lebih buruk dari semua itu?” tanya Umar.

”Tidak, ayah, tidak,” jawab Hafshah terbata.

“Sekarang, sampaikan kepada mereka yang telah mengirimmu. Bahwa Rasulullah telah menetapkan standar kehidupan seseorang dan aku tidak akan menyimpang dari standar yang beliau gariskan.” *

(sumber: republika.co.id)

Pos terkait