BATAM (gokepri) – Politeknik Negeri Batam (Polibatam) setiap tahun meluluskan setidaknya 90 teknisi pesawat. Para teknisi ini dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di industri perawatan, perbaikan, dan overhaul (MRO) pesawat.
Industri MRO memegang peranan krusial dalam memastikan keselamatan dan kelaikan terbang pesawat, serta efisiensi operasional maskapai. Permintaan akan teknisi pesawat terus meningkat seiring pertumbuhan industri penerbangan di Indonesia dan dunia.
Priyono Eko Santoyo, Accountable Manager Polibatam Aero Training Center, menyampaikan keberadaan industri MRO pesawat di Batam, terutama Batam Aero Technic (BAT) yang merupakan bagian dari Lion Group, menjadi faktor penting dalam penyerapan lulusan Polibatam.
Keberadaan BAT sebagai salah satu pusat MRO terbesar di Asia Tenggara memberikan keuntungan bagi lulusan Polibatam. “Setiap tahun, kami meluluskan 90 orang dengan lisensi di bidang Airframe (A1), Piston Engine (A3), dan Gas Turbine Engine (A4),” ujarnya, Kamis 9 Januari 2025.
Ia menambahkan, kebutuhan di bidang avionik—sistem elektronik pada pesawat—diperkirakan akan meningkat pesat di masa mendatang seiring dengan perkembangan teknologi. Oleh karena itu, kebutuhan akan tenaga terampil di bidang tersebut juga akan sangat tinggi.
Baca Juga:
Politeknik Negeri Batam Jadi Pusat Pelatihan Teknisi Pesawat Vietjet
Program studi D3 Teknik Perawatan Pesawat Udara di Polibatam menerapkan sistem pembelajaran yang menggabungkan teori dan praktik. Total durasi pembelajaran mencapai 3.000 jam atau setara dengan empat semester. Jumlah jam ini memenuhi standar internasional untuk pelatihan teknisi pesawat.
“Model pembelajaran kami terdiri dari empat semester di Polibatam, yang mencakup 3.000 jam teori dan praktik, menghasilkan lulusan D3,” jelasnya.
Setelah lulus D3, mereka dapat melanjutkan pendidikan selama satu tahun di fasilitas MRO untuk memperoleh diploma lanjutan. Sesuai regulasi internasional, lisensi dasar hanya diberikan kepada lulusan perguruan tinggi.
Oleh karena itu, program Aircraft Maintenance Training Organization (AMTO) harus terintegrasi dengan program diploma. “Integrasi ini penting untuk memastikan lulusan memenuhi standar kompetensi yang diakui secara global,” ujar Priyono.
Eko menyebutkan bahwa hampir seluruh dari 90 lulusan Polibatam tersebut rata-rata menjalani magang atau praktik kerja di MRO BAT Batam. Hal ini memberikan pengalaman kerja yang berharga bagi para lulusan sebelum memasuki dunia kerja. Sebagian lulusan juga ditempatkan di perusahaan pemeliharaan pesawat lainnya.
“Kita tahu bahwa Batam memiliki MRO besar seperti BAT, yang merupakan bagian dari Lion Group. Perusahaan-perusahaan ini membutuhkan banyak teknisi. Dengan mendidik calon teknisi, kami membantu industri agar tidak perlu lagi mencari teknisi perawatan pesawat dari tempat yang jauh,” papar Priyono. ANTARA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









