TANJUNGPINANG (gokepri.com) – Badan Karantina Indonesia (Barantin) melalui Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Kepulauan Riau (Karantina Kepri) memperketat pengawasan di jalur strategis Segitiga Emas yang menghubungkan Indonesia (Kepri), Singapura, dan Malaysia (Johor Bahru).
Jalur ini menjadi prioritas karena perannya dalam perdagangan bebas dan risikonya terhadap sumber daya alam serta ketahanan pangan nasional.
“Kawasan ini memiliki peran penting bagi pertumbuhan ekonomi dan ketersediaan pangan nasional, namun juga menghadirkan ancaman besar bagi Indonesia,” ujar Kepala Karantina Kepri, Herwintarti, Minggu (22/12/2024).
Baca Juga: Terminal Tanjung Uban Disiapkan Jadi Hub Perdagangan Energi di Asia Tenggara
Herwintarti menjelaskan wilayah Batam, Bintan, dan Karimun yang masuk dalam Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone/FTZ) memiliki risiko tinggi terhadap penyebaran hama dan penyakit dari luar negeri.
Ancaman tersebut mencakup potensi gangguan pada sumber daya hayati, ketahanan pangan, serta risiko zoonosis yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
Selama 2024, Karantina Kepri mencatat 196 pelanggaran lalu lintas komoditas yang tidak memenuhi persyaratan karantina. Herwintarti menyebutkan bahwa Kepri memiliki 31 pelabuhan resmi sebagai tempat pemasukan dan pengeluaran komoditas karantina. Namun, sebanyak 198 pelabuhan lain yang tidak resmi berpotensi menjadi jalur masuk komoditas berisiko.
“Risiko ini memerlukan pengawasan ketat dan sinergi antarinstansi untuk melindungi sumber daya hayati dan kesehatan masyarakat,” tegasnya.
Selain pengawasan, Karantina Kepri terus memperkuat sinergi dengan berbagai instansi, termasuk Bea Cukai, Imigrasi, dan Otoritas Pelabuhan, untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan pelabuhan. Inisiasi seperti pengajuan bersama, pemeriksaan terpadu, dan operasi gabungan terus dioptimalkan demi mencegah penyelundupan komoditas berisiko.
“Melalui kerja sama ini, kami berharap tercipta tata kelola pelabuhan yang efisien, dengan biaya rendah, yang mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujar Herwintarti.
Ia menekankan pentingnya komitmen bersama untuk melindungi sumber daya hayati Indonesia dan menjamin keamanan masyarakat, baik di Kepulauan Riau maupun secara nasional. ANTARA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








