Upah Murah dan Sistem Kontrak Kerja Galangan Kapal Batam Rugikan Pekerja

Galangan kapal Batam
Foto: Getty Images

BATAM (gokepri) – Upah murah dan kontrak kerja singkat menyebabkan tenaga kerja tidak tertarik bekerja di galangan kapal sehingga Batam kekurangan juru las atau welder.

Ketua FSPMI (Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia) Yafet Ramon mengungkapkan banyak tenaga ahli yang lebih memilih bekerja di luar negeri daripada di Batam. Risiko kerja dan ketidakjelasan hubungan kerja di Batam juga menjadi faktor penyebabnya.

“Sekarang ini melalui outsourcing. Kan ini sama saja tidak dihargai,” ujarnya saat dihubungi pada Jumat, 24 Februari 2023. Selain itu, upah yang diterima oleh welder atau juru las juga tidak sebanding dengan risiko kerja yang dihadapi, ditambah lagi dengan standar keselamatan kerja yang masih belum memenuhi standar yang seharusnya.

HBRL

“Sekarang ini skill mereka berbeda dengan yang bekerja di manufaktur, harusnya itu juga dibedakan, yang banyak terjadi itu apa? Upah mereka ditekan makanya mereka enggan dan lebih memilih mencari kerja di luar negeri,” jelas Ramon. Oleh karena itu, FSPMI mengajak pemerintah daerah untuk bekerja sama dengan perusahaan untuk menyelenggarakan pelatihan welder dan fitter agar kebutuhan pengusaha galangan dapat terpenuhi. “Kalau ada pelatihan, di Disnaker pun pernah diselenggarakan pelatihan tetapi hasilnya juga tidak ada,” tambahnya.

Supriyadi, 26 tahun, salah satu pekerja galangan kapal di wilayah Sagulung, juga mengeluhkan hal yang sama. Menurut dia, bekerja di galangan kapal tidak seindah yang dibayangkan orang. Hal ini bukan hanya masalah gaji tetapi juga soal kepastian kerja. Pekerja di galangan kapal seringkali dipermainkan oleh pengusaha melalui kontrak kerja yang hanya berlaku selama tiga bulan.

“Kalau gaji sama saja. Tapi soal kepastian kerja di kontrak per tiga bulan, setelah itu kami dipanggil untuk sambung lagi. Namun, jika disambung biasanya perusahaan memutuskan begitu saja,” ujarnya. Selain itu, para pekerja di galangan kapal juga sering mendapatkan beban kerja yang tidak sesuai dengan porsinya. Supriyadi bahkan sempat jatuh sakit karena tekanan kerja yang berlebihan. “Jujur saja, sudah tidak ada yang betah bekerja di galangan. Jika mereka diterima di industri, lebih baik dari pada bekerja di perusahaan galangan kapal,” keluhnya.

Ia menilai bahwa sistem kerja kontrak per tiga bulan sangat merugikan para pekerja. Meskipun menurutnya hal tersebut bukanlah pelanggaran, ia berharap sistem seperti itu dapat diubah sehingga peminat kerja di galangan semakin meningkat.

“Kalau gaji di galangan tidak usah dibahas. Tiga bulan pertama oke kita anggap training. Tetapi habis itu dikontrak lagi tiga bulan seterusnya begitu, ya kacau. Tak ada kepastian,” kata dia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Baca Juga Topik ‘Galangan Kapal Batam’  yang lain:

Penulis: Engesti

Pos terkait