BOGOR (Gokepri.com) – Selama dua bulan terakhir, Dimas Anwar Putra (15) dan teman-temannya memutar otak supaya bisa belajar online. Mereka mengumpulkan sampah plastik di Bogor sampai kota tetangganya, Jakarta lalu ditukar dengan akses wifi.
Tanpa akses internet di rumah, kedua siswa tersebut perlu mengumpulkan satu kg sampah plastik untuk ditukar dengan akses internet sehingga mereka dapat melakukan pembelajaran online selama sekitar tiga jam hingga tiga kali seminggu.
“Kalau kami mengumpulkan sampah itu seperti amal buat saya dan selain itu juga dapat data internet gratis,” kata Dimas kepada Reuters, Selasa (15/9/2020).
Jaringan wifi itu gagasan dari Iing Solihin. Ia yang menjual sampah dari sampah plastik yang dikumpulkan oleh siswa. Dengan sampah itu, mereka lalu membeli data seharga Rp340.000 sebulan sehingga siswa-siswa itu bisa belajar online.
“Masalahnya adalah saat data internet habis sebelum akhir bulan … dan mereka tidak bisa belajar lagi,” kata Iing.
Jutaan siswa Indonesia belajar dari jarak jauh sejak atau belajar onlinese telah sekolah tutup sejak Maret akibat pandemi.
Di Bogor, ada juga relawan membawa mobil yang dilengkapi pemancar jaringan seluler setiap minggu ke desa-desa terpencil sehingga siswa dapat menggunakan internet. Relawan itu menyediakan laptop dan ponsel.
“Saya jarang menggunakan ponsel, saya bergantian dengan orang tua saya,” kata Dafa Mahesa Sudirman, (14), yang bersama dengan sekitar 30 siswa lainnya belajar online di sebuah gudang kayu di desa mereka.
Berdasarkan Asosiasi Penyedia Layanan Internet Indonesia (APJII), hanya sekitar satu dari enam dari sekitar 60 juta rumah tangga di Indonesia yang memiliki koneksi internet pada pertengahan 2019. (Cg)
Editor: Candra
Sumber: Reuters.com
Baca Juga:








