Di tengah cerita panjang tentang konflik Rempang, harapan baru justru lahir dari wajah-wajah anak yang memimpikan sebuah ruang kelas. Salah satunya adalah Sika, siswi kelas V SD asal Rempang Cate.
Penulis: Engesti Fedro, BATAM
Binar mata Sika tak lepas dari layar besar yang menampilkan gambar sebuah sekolah megah. Di hadapannya tampak ilustrasi ruang kelas modern, perpustakaan, lapangan olahraga, asrama, hingga kolam renang. Sesekali ia tersenyum, seolah membayangkan dirinya menjadi salah satu murid di sana.
Siang itu, siswi kelas V SD asal Rempang Cate tersebut datang bersama ayahnya, Iksanudin (50) menghadiri kegiatan Rempang Ceria di lokasi rencana pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Pulau Rempang, Batam, Minggu 2 Juni 2026.
Bagi Sika, sekolah itu bukan sekadar gambar yang diproyeksikan di layar. Ia melihat sebuah harapan yang selama ini belum pernah sedekat itu.
Ia membayangkan suatu hari dapat mengenakan seragam sekolah, belajar di ruang kelas yang nyaman, bermain di lapangan yang luas, dan tinggal di asrama bersama teman-temannya.
“Saya senang kalau sekolahnya jadi dibangun. Saya ingin sekolah di sana,” ucap Sika.
Sika merupakan siswi kelas V yang bersekolah di Rempang Cate. Ia belajar di sekolah dengan fasilitas yang masih terbatas, sehingga proses belajar mengajar belum dapat berlangsung secara maksimal.
Ayahnya, Iksanudin, bekerja sebagai nelayan sekaligus buruh serabutan. Penghasilannya yang tidak menentu membuat keluarga mereka belum mampu menyekolahkan Siska ke sekolah yang memiliki fasilitas lebih baik di Kota Batam.
“Fasilitas di sekolah kami masih kurang, jadi belajarnya belum maksimal,” ujar Siska.

Meski hidup dengan segala keterbatasan, orang tuanya selalu berpesan agar ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk belajar sebaik-baiknya.
Mereka juga terus menyemangati Sika agar tidak menyerah mengejar cita-citanya, dengan harapan pendidikan kelak dapat mengubah masa depannya.
Di sampingnya, Iksanudin memandang putrinya dengan senyum tipis. Sebagai orang tua, ia berharap kehadiran sekolah itu benar-benar dapat membuka masa depan yang lebih baik bagi anak-anak Rempang.
Menurutnya, sekolah terintegrasi tersebut akan menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat terhadap akses pendidikan yang berkualitas.
“Kalau sekolah ini jadi dibangun tentu sangat membantu masyarakat sekitar. Kami berharap pembangunannya segera terlaksana supaya anak-anak di Rempang bisa memperoleh pendidikan yang lebih baik,” kata Iksanudin.
- Dukungan Tokoh Masyarakat
Harapan itu ternyata tidak hanya datang dari keluarga Siska. Di antara warga yang hadir, tampak pula Nenek Awe, tokoh masyarakat Rempang yang selama ini dikenal vokal memperjuangkan hak-hak warga terkait Proyek Strategis Nasional (PSN).
Namun, ketika berbicara mengenai pendidikan, sikapnya berbeda. Baginya, pembangunan sekolah merupakan investasi bagi masa depan anak-anak yang tidak boleh dipertentangkan dengan perjuangan mempertahankan hak atas tanah.
“Kalau pembangunan sekolah ini saya dukung. Tapi kalau soal PSN, saya tetap menolak,” ujarnya tegas.
Nenek Awe mengaku memiliki cucu yang kelak ingin ia sekolahkan di Sekolah Terintegrasi Merah Putih apabila pembangunan telah rampung.
Menurutnya, setiap anak Rempang berhak memperoleh pendidikan terbaik agar mampu menjadi generasi yang membangun Indonesia di masa depan.
- Ikhtiar Membangun Generasi dari Wilayah Hinterland
Badan Pengusahaan (BP) Batam mulai mematangkan persiapan pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Pulau Rempang, sebuah kawasan pendidikan berasrama yang digagas sebagai investasi jangka panjang untuk mencetak sumber daya manusia unggul dari wilayah hinterland sekaligus memutus rantai kemiskinan antargenerasi.
Sekolah yang menjadi bagian dari program strategis nasional Presiden RI Prabowo Subianto itu akan berdiri di atas lahan Hak Pengelolaan (HPL) BP Batam seluas 18,5 hektare dengan konsep pendidikan terpadu mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan pembangunan sekolah tersebut bukan sekadar menghadirkan gedung pendidikan, tetapi juga membangun optimisme masyarakat Rempang melalui masa depan anak-anak mereka.
Hal itu, menurut dia, tercermin dalam kegiatan “Rempang Ceria Bersama Sekolah Terintegrasi Merah Putih” yang menghadirkan ratusan anak dan warga setempat.
“Kalau selama ini terbentuk persepsi bahwa Rempang sedang tidak baik-baik saja, pertemuan hari ini menjadi jawaban bahwa masyarakat Rempang sesungguhnya baik-baik saja. Kami ingin memulihkan kondisi psikologis anak-anak sekaligus menumbuhkan semangat mereka menyongsong masa depan,” kata Amsakar di Rempang.
Momentum kegiatan tersebut juga bertepatan dengan peringatan Hari Anak Nasional serta menyambut Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia.
Karena itu, kata Amsakar, anak-anak sengaja menjadi pusat perhatian dalam kegiatan tersebut sebagai simbol harapan bagi masa depan Rempang.
Menurut dia, Sekolah Terintegrasi Merah Putih dirancang secara khusus untuk menghasilkan generasi yang unggul, tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga karakter dan keterampilan.
“Anak-anak harus kita motivasi, kita semangati, agar tumbuh menjadi generasi yang hebat yang nantinya menjaga dan mengawal pembangunan Batam,” ujarnya.
Ia menjelaskan konsep sekolah terintegrasi memungkinkan peserta didik menempuh pendidikan dari SD, SMP hingga SMA dalam satu kawasan yang saling terhubung.
Kawasan pendidikan itu nantinya didukung tenaga pendidik profesional dengan sistem pembelajaran yang dirancang untuk meningkatkan kapasitas intelektual sekaligus membentuk karakter peserta didik.
Amsakar mengatakan, apabila pembangunan berjalan sesuai rencana, sekolah tersebut ditargetkan selesai pada akhir 2028 dan diharapkan dapat diresmikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto.
- Pendidikan Gratis Berasrama
Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Chandra menjelaskan Sekolah Terintegrasi Merah Putih merupakan program Presiden Prabowo untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan berkualitas, gratis, dan berasrama.

Sekolah itu memiliki daya tampung sekitar 1.000 siswa mulai dari jenjang SD, SMP hingga SMA.
Seluruh peserta didik akan memperoleh fasilitas pendidikan lengkap dalam satu kawasan, mulai dari ruang belajar, perpustakaan, asrama siswa, rumah susun guru, gedung serbaguna, masjid, gereja, hingga berbagai fasilitas olahraga seperti lapangan sepak bola, lapangan basket, kolam renang dan area kegiatan luar ruang.
Selain itu, kawasan pendidikan juga dilengkapi botanic garden, area peternakan, budidaya hasil laut, hingga arena outbound sebagai bagian dari pembelajaran berbasis praktik dan penguatan pendidikan vokasi.
“Anak-anak nantinya tidak hanya belajar di dalam kelas, tetapi juga dibekali keterampilan praktis agar siap menghadapi dunia kerja dan perkembangan industri,” kata Li Claudia.
Sekolah tersebut diprioritaskan bagi anak-anak Rempang. Sementara peserta didik dari luar wilayah dapat diterima melalui seleksi berdasarkan kompetensi.
*Seluruh Perizinan Rampung
BP Batam memastikan seluruh persiapan administrasi pembangunan telah memasuki tahap akhir.
Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang (PKKPR), Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL), hingga Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) telah diselesaikan.
Saat ini pekerjaan di lapangan difokuskan pada pemagaran kawasan dan penanganan awal untuk mencegah potensi banjir sebelum pembangunan fisik dimulai.
Sekolah tersebut dibangun oleh sebuah yayasan dengan dukungan pendanaan dari kalangan pelaku usaha, sehingga seluruh proses pembangunan tidak menggunakan anggaran pemerintah.
Amsakar menegaskan BP Batam sengaja menuntaskan seluruh aspek hukum dan teknis sebelum memulai konstruksi agar pembangunan berjalan sesuai regulasi.
“Kami tidak ingin pembangunan dimulai sebelum seluruh aspek hukum dan teknis selesai. Sekolah ini bukan sekadar membangun gedung, tetapi membangun masa depan generasi Batam agar mampu bersaing menghadapi tantangan pembangunan nasional,” katanya.
Menurutnya, keberadaan Sekolah Terintegrasi Merah Putih akan menjadi salah satu fondasi penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di wilayah hinterland Batam sekaligus memastikan tidak ada lagi anak yang kehilangan kesempatan memperoleh pendidikan hanya karena keterbatasan ekonomi.
Bagi pemerintah, sekolah itu merupakan investasi jangka panjang bagi pembangunan sumber daya manusia. Namun bagi Sika, maknanya jauh lebih sederhana.
Ia hanya ingin memiliki sekolah yang dekat dengan rumahnya.Tempat di mana mimpi seorang anak dari Rempang dapat tumbuh setinggi cita-citanya.
Di pulau yang selama ini kerap menjadi sorotan karena berbagai dinamika pembangunan, Sekolah Terintegrasi Merah Putih kini membawa harapan baru: menyalakan kembali mimpi anak-anak Rempang untuk menatap masa depan dengan lebih percaya diri. *








