Rontgen AI untuk Mempercepat Skrining TBC

alat diagnostik TBC
Dokter menunjukan hasil rontgen thorax warga saat pelaksanaan skrining Tuberculosis (TBC) gratis di RPTRA Gondangdia, Jakarta, Selasa (12/8/2025). ANTARA FOTO/Bayu Pratama S

Kemenkes menambah alat pemeriksaan TBC di puskesmas. Perluasan ini mempercepat penemuan pasien di berbagai daerah.

BALI (gokepri) – Penemuan kasus menjadi tantangan penting dalam penanggulangan tuberkulosis. Pemerintah memperluas skrining hingga puskesmas dengan alat diagnostik molekuler dan rontgen berbasis kecerdasan buatan.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menargetkan penyediaan 10.600 alat diagnostik molekuler pada 2027. Pemerintah menyiapkan sekitar 4.000 unit hingga akhir 2026. Budi menyampaikan target tersebut dalam forum The 40th Stop TB Partnership Board Meeting 2026 di Kabupaten Badung, Bali, Kamis (5/11/2026).

Alat diagnostik molekuler near point of care (NPOC) itu akan menjangkau fasilitas kesehatan tingkat pertama, termasuk puskesmas. Pemerintah menargetkan layanan tersebut menjangkau masyarakat di sekitar 7.000 pulau. “Perangkat ini akan didistribusikan ke puskesmas untuk melayani 290 juta penduduk Indonesia,” kata Budi.

Baca Juga: Tiban Baru dan Tiban Lama Jadi Pelopor Kelurahan Siaga TBC

Perluasan fasilitas pemeriksaan bertujuan mendekatkan layanan diagnosis kepada masyarakat. Dengan begitu, warga tidak selalu harus pergi ke fasilitas kesehatan yang lebih besar untuk menjalani pemeriksaan awal.

Selain menambah alat, pemerintah berupaya menekan biaya pemeriksaan molekuler. Dukungan Global Fund telah menurunkan biaya pemeriksaan menjadi 3,6 dollar AS per tes.

Pemerintah menargetkan biaya tersebut turun menjadi kurang dari 3 dollar AS mulai 2027. Penurunan biaya diharapkan mendukung perluasan akses pemeriksaan TBC.

Pemerintah juga memperluas penggunaan mesin rontgen untuk skrining. Sepanjang 2026, sebanyak 800 unit mesin rontgen portabel dan bergerak telah terpasang.

Pada 2027, pemerintah berencana menambah 4.000 unit mesin rontgen. Selanjutnya, pemerintah menargetkan 10.000 puskesmas memiliki fasilitas rontgen berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) pada 2028.

Ads bp batam 2026 baru

“Tahun ini, kita telah memasang 800 unit mesin sinar-X, baik portabel maupun bergerak,” ujar Budi.

Teknologi AI pada mesin rontgen membantu membaca hasil pencitraan untuk menemukan indikasi TBC. Hasil skrining tersebut dapat membantu tenaga kesehatan menentukan siapa yang memerlukan pemeriksaan lanjutan.

Skrining ditargetkan menjangkau 10 juta orang

Kemenkes mengandalkan kombinasi mesin rontgen berbasis AI dan alat diagnostik molekuler untuk memperluas penemuan kasus. Kedua teknologi itu memiliki fungsi berbeda dalam proses pemeriksaan.

Rontgen membantu mengidentifikasi orang dengan indikasi TBC. Sementara itu, pemeriksaan molekuler membantu mendeteksi bakteri penyebab penyakit tersebut.

Budi menargetkan kapasitas skrining mencapai sekitar 10 juta orang. Jumlah itu setara 10 kali estimasi beban TBC Indonesia.

“Kami berharap dapat melakukan skrining terhadap sekitar 10 juta orang melalui mesin sinar-X dan diagnostik molekuler di puskesmas,” kata Budi.

Pemerintah berharap perluasan skrining meningkatkan penemuan pasien TBC aktif. Pemeriksaan juga diharapkan membantu mengidentifikasi orang yang memerlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.

Budi menilai penemuan kasus menjadi langkah penting agar pasien segera memperoleh pengobatan. Karena itu, pemerintah memperluas pemeriksaan melalui fasilitas kesehatan tingkat pertama di berbagai wilayah. ANTARA

Baca Juga: 95 Persen Pasien TBC Batam Telah Jalani Pengobatan

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Pos terkait