BATAM (gokepri) – Penjualan mobil listrik di dunia mencapai rekor baru pada 2022. Meningkat sekitar 55 persen melebihi 10,5 juta unit untuk pertama kalinya.
Menurut laporan terbaru dari Badan Energi Internasional (IEA), satu dari tujuh mobil penumpang yang dibeli secara global pada tahun 2022 adalah mobil listrik, dibandingkan dengan satu dari 70 pada tahun 2017. Hingga akhir 2022, total mobil listrik di seluruh dunia mencapai 28 juta unit.
Tren ini seiring dengan penurunan penjualan mobil konvensional dengan mesin pembakaran internal atau bahan bakar fosil hingga 25 persen dalam lima tahun terakhir. Kesadaran akan dampak lingkungan kendaraan bertenaga gas versus kendaraan listrik menjadi faktor kunci dalam keputusan pembelian mobil.
Baca Juga: Dapat Subsidi Mobil Listrik, Berapa Harga Wuling Air EV?
Penjualan mobil listrik meningkat di setiap wilayah dunia seiring dengan peningkatan produksi, kenaikan harga minyak, dan kebijakan yang ditargetkan untuk mendukung penjualan mobil listrik di pasar.
Dikutip dari World Economic Forum, Pasar mobil listrik yang menonjol adalah di Cina. Satu dari setiap empat mobil yang dibeli pada tahun 2022 adalah mobil listrik; Uni Eropa dengan satu dari lima; dan Amerika Serikat, di mana hampir satu dari sepuluh mobil yang dibeli tahun lalu adalah mobil listrik.
Namun, meski peningkatan penjualan mobil listrik menunjukkan tren untuk mengelektrifikasi kendaraan, itu tidak cukup untuk mengimbangi emisi CO2 global. IEA memperkirakan emisi CO2 dari SUV, jenis mobil paling populer yang dibeli, di seluruh dunia mencapai hampir satu miliar ton pada tahun 2022.
Meski demikian, peningkatan penjualan mobil listrik menginspirasi produsen mobil untuk meningkatkan produksi kendaraan bertenaga listrik dan memberikan lebih banyak opsi kepada konsumen. Hal ini juga memacu pemerintah di seluruh dunia untuk memperkenalkan kebijakan dan insentif yang mendorong konsumen untuk memilih mobil listrik sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.
Sementara itu, total penjualan semua jenis mobil turun hampir 0,5 persen, menjadi sekitar 75 juta pada 2022 setelah tumbuh pada tahun 2021. Pasar mobil mengecil paling banyak di AS dan UE, masing-masing sebesar 8 persen dan 4 persen. Ini disebabkan sebagian oleh kekurangan komponen, serta inflasi yang meningkat dan suku bunga yang lebih tinggi. Namun, di tempat seperti Cina, penjualan mobil penumpang meningkat lebih dari 10%.
Meski peningkatan ini menunjukkan tren dalam dorongan untuk mengelektrifikasi kendaraan, tidak cukup untuk mengimbangi emisi CO2 global. IEA memperkirakan bahwa emisi CO2 dari SUV, jenis mobil paling populer yang dibeli, di seluruh dunia mencapai hampir satu miliar ton pada tahun 2022.
Bagaimana dengan penjualan mobil listrik di Indonesia?
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pertumbuhan jumlah kendaraan yakni mobil dan motor di Indonesia meningkat tahun lalu. Namun penjualan mobil listrik masih minim.
Airlangga menerangkan pembelian mobil baru domestik 1,48 juta unit atau naik 18 persen. Sedangkan ekspor mobil CBU 473 ribu unit plus CKD totalnya mendekati 600 ribu unit.
Adapun penjualan motor 5,2 juta unit selama 2022 atau bertumbuh 3,2 persen. Sedangkan yang diekspor 743 ribu unit sehingga totalnya hampir 6 juta unit pada 2022.
Di sisi lain, penjualan mobil listrik sangat sedikit, yakni hingga saat ini baru 10.180 unit yang terjual. “Ini menjadi tantangan bagaimana kita menargetkan angka ratusan ribu (penjualan) mobil listrik bisa dicapai,” ujar Menko Perekonomian Airlangga Hartarto dalam pidato pembukan pameran otomotif GJAW 2023 di JCC, Senayan, Jakarta Pusat, hari ini, Jumat, 10 Maret 2023.
Salah satu cara pemerintah mendorong penjualan kendaraan listrik dengan memberikan insentif tahun ini. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengumumkan insentif mobil listrik dan motor listrik akan berlaku mulai 20 Maret hingga Desember 2023.
Insentif tersebut untuk mobil listrik, motor listrik baru, motor listrik konversi, serta bus listrik hingga Desember 2023. Namun pemerintah baru mengumumkan besaran insentif motor listrik yakni Rp 7 juta per unitnya.
Subsidi motor listrik hanya untuk buatan dalam negeri dengan Tingkat Komponen Dalam Negeri atau TKDN minimal 40 persen. Kuota subsidi motor listrik tahun ini 200 ribu motor listrik baru dan 50 ribu motor listrik konversi hingga Desember 2023.
Khusus untuk sepeda motor konversi, insentif akan diberikan kepada pelaku UMKM, khususnya penerima KUR (Kredit Usaha Rakya), BPUM (Bantuan Produktif Usaha Mikro), serta pelanggan listrik 450-900 VA. Pemerintah belum mengumumkan berapa rupiah subsidi mobil listrik. Menurut Kemenperin kuotanya 35.900 unit dan 138 unit untuk bus listrik.
Simak Videonya:
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Baca Juga: IIMS 2023: Leasing Pamerkan Promo Pembiayaan Mobil Listrik









