Batam menjadi salah satu pasar pusat data dengan pertumbuhan tercepat di Asia Pasifik. Kapasitasnya masih jauh di bawah Singapura dan Johor.
BATAM (gokepri) – Batam mencatat pertumbuhan kapasitas pusat data yang tercepat pada paruh pertama 2026. Laporan Cushman & Wakefield Asia Pacific Data Centre Update H1 2026 mencatat kapasitas operasional Batam mencapai 82 megawatt (MW), naik 89 persen dari 43 MW.
Pertumbuhan itu menempatkan Batam sebagai salah satu pasar pusat data dengan laju perkembangan paling agresif di Asia Pasifik. Meski begitu, Batam masih masuk kategori pasar “Emerging” dan skalanya jauh di bawah pusat data di Singapura maupun Johor, Malaysia.
Baca Juga: Investasi Pusat Data Batam Ditaksir Sentuh Rp500 Triliun hingga 2028
Laporan Cushman & Wakefield melihat perubahan besar dalam peta pusat data Asia Pasifik. Keterbatasan lahan dan pasokan listrik di sejumlah pasar yang sudah matang mendorong pengembang pusat data mencari lokasi baru untuk memenuhi kebutuhan komputasi awan dan kecerdasan buatan (AI).
Batam ikut mendapat manfaat dari perubahan tersebut. Letaknya yang dekat dengan Singapura, ketersediaan lahan, konektivitas internasional, serta kebijakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di Nongsa menjadi sejumlah faktor yang meningkatkan daya tarik.
Salah satu pendorong utama pasar Batam ialah kebutuhan infrastruktur untuk AI. Laporan tersebut mencatat proposal proyek pusat data AI dengan nilai sekitar US$5 miliar sebagai salah satu investasi besar yang memperkuat prospek Batam.
Firmus Technologies juga masuk dalam perkembangan tersebut. Perusahaan asal Australia itu berencana memasang hingga 170.000 GPU Nvidia hingga 2034.
GPU atau graphics processing unit merupakan komponen penting dalam pusat data AI karena mampu memproses banyak perhitungan secara bersamaan. Permintaan terhadap komputasi AI membuat pusat data membutuhkan kapasitas listrik, ruang, dan sistem pendingin dalam skala besar.
Batam juga mendapat keuntungan dari konektivitas lintas negara. Laporan Cushman & Wakefield mencatat kemitraan strategis untuk membangun infrastruktur digital yang menghubungkan Jepang, Singapura, dan Indonesia.
Salah satu contoh yang disebut ialah kemitraan Ishikari Data Center dengan NeutraDC milik Telkom. Infrastruktur seperti ini memperkuat posisi Batam sebagai bagian dari jaringan pusat data regional, bukan hanya sebagai pasar untuk kebutuhan digital Indonesia.
Perkembangan itu ikut mengubah pembagian peran pusat data di Indonesia. Cushman & Wakefield menggambarkan Indonesia sebagai pasar “Dual Hub”, dengan Jakarta sebagai pusat utama kebutuhan domestik dan Batam sebagai lokasi strategis untuk kebutuhan lintas negara.
Jakarta saat ini memiliki kapasitas operasional 356 MW. Selain itu, terdapat 395 MW kapasitas dalam konstruksi dan pipeline proyek mencapai 1.304 MW.
Batam memiliki posisi yang berbeda dari Jakarta. Kedekatannya dengan Singapura membuat pasar Batam lebih terkait dengan kebutuhan perusahaan internasional dan infrastruktur digital yang melayani konektivitas kawasan.
Perbandingan dengan Singapura menunjukkan besarnya peluang sekaligus tantangan Batam. Singapura sudah memiliki kapasitas operasional 1.068 MW, tetapi laporan Cushman & Wakefield mencatat kapasitas yang masih berada dalam tahap perencanaan hanya 207 MW karena keterbatasan lahan dan daya.
Kondisi Singapura membuat pasar di sekitarnya mendapat perhatian pengembang pusat data. Batam dapat menyediakan ruang untuk kebutuhan komputasi berskala besar yang membutuhkan lahan dan energi lebih banyak, meski laporan lebih tepat menggambarkan Batam sebagai hub cross-border daripada sekadar “pelimpahan” kapasitas Singapura.
Persaingan yang lebih langsung terjadi dengan Johor, Malaysia. Kedua wilayah sama-sama berada dekat Singapura dan sama-sama mengembangkan pusat data untuk menangkap permintaan digital regional.
Namun, skala Johor jauh lebih besar daripada Batam. Cushman & Wakefield mencatat Johor memiliki kapasitas operasional 1.110 MW dan kapasitas terencana 2.486 MW, dengan total pipeline yang melampaui 4 gigawatt.
Dengan kapasitas operasional 82 MW, Batam masih berada jauh di belakang Johor. Status Batam dalam Maturity Index juga masih “Emerging”, sedangkan Johor sudah berkembang menjadi salah satu pasar pusat data terbesar di Asia Pasifik.
Johor juga menghadapi perubahan dalam pengembangan pusat data. Laporan mencatat persyaratan keberlanjutan, termasuk ukuran efisiensi penggunaan energi dan air melalui metrik PUE (Power Usage Effectiveness) serta WUE (Water Usage Effectiveness), semakin ketat di pasar tersebut.
Pengembang di Johor juga menghadapi kenaikan biaya utilitas. Kondisi itu menjadi bagian dari dinamika persaingan pusat data di kawasan, tetapi belum berarti investasi otomatis berpindah ke Batam.
Bagi Batam, faktor lahan dan kebijakan tetap menjadi bagian penting dari daya tarik investasi. Insentif jangka panjang serta kebijakan KEK yang berpusat di Nongsa Digital Park menjadi salah satu faktor yang disebut Cushman & Wakefield dalam perkembangan pasar Batam.
Perkembangan tersebut menunjukkan perubahan posisi Batam dalam industri pusat data. Batam tidak lagi hanya muncul sebagai lokasi potensial, tetapi sudah memiliki kapasitas pusat data yang beroperasi dan terus menarik rencana investasi berbasis AI serta konektivitas internasional.
Meski pertumbuhannya tinggi, angka kapasitas menunjukkan Batam masih berada pada tahap awal dibandingkan pusat-pusat data utama di Asia Tenggara.
Baca Juga: Deretan Investasi Data Centre Ratusan Triliun di Batam
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News







