Pilwako Batam Sarat Politik Kartel, Pengamat Beberkan Bahaya Lawan Kotak Kosong

pilwako lawan kotak kosong
Pengamat politik Kepri, Zamzami A Karim. Foto: Gokepri.com/Engesti

BATAM (gokepri.com) – Arah dukungan partai politik dalam Pilwako Batam kini makin menguat pada satu bakal calon, yakni Amsakar Achmad-Li Claudia Chandra. Pasangan ini diprediksi bakal menang mudah alias melawan kotak kosong.

Dukungan parpol untuk Amsakar-Li Claudia lantas memutus harapan bagi bakal calon (bacalon) lainnya lainnya, termasuk bacalon yang sempat digadang-gadang menjadi petarung Amsakar-Li Claudia, yakni Marlin Agustin-Jefridin.

Pengamat politik Kepri, Zamzami A Karim mengatakan, kondisi peta politik pada Pilwako Batam dapat digambarkan sebagai politik kartel. Sebab, sebagian partai mendukung salah satu paslon untuk maju pada Pilwako Batam.

HBRL

Baca Juga: Koalisi Gemuk Pendukung Amsakar-Li Claudia

“Banyak narasi yang bisa menggambarkannya, partai gemuk, persekongkolan partai. Kalau saya bilang ini politik kartel,” ujar Zam-zami.

Sebutan politik kartel, kata Zamzami bukan tanpa alasan. Menurut pandangannya, politik kartel dapat menyebabkan rusaknya demokrasi karena tidak adanya dinamika. Selain itu, tingkat kepercayaan publik dan partisipasi pemilih akan berkurang.

“Jadi buat apa memilih. Pasti masyarakat berpikir begitu. Nanti ada pula gerakan memenangkan kotak kosong, ini bahaya kalau lawan kotak kosong saja kalah,” kata dia.

Menurut pandangan dia, melihat arah dukungan partai saat ini, hanya akan ada satu paslon. Sebab, partai yang tersisa belum memutuskan rekomendasi tak lagi memenuhi syarat pencalonan.

Secara hitung-hitungan politik, lanjut dia maka bisa dipastikan hanya ada satu calon dan lawan kotak kosong jika tak terjadi perubahan sampai batas waktu pendaftaran bacalon.

Zamzami mengatakan saat ini partai politik sudah mengarah pada pragmatisme. Semua partai menyatu untuk merebut peluang kekuasaan. Ditambah lagi poros partai pendukung yang tergabung dalam koalisi Indonesia Maju satu arah dukungan hingga ke bawah.

“Ini merupakan politik kartel. Gabungan partai politik membentuk poros sehingga tidak ada peluang bagi partai oposisi untuk bertarung,” tuturnya.

Menurutnya akan menjadi preseden buruk pada pesta demokrasi jika akhirnya pemilihan melawan kotak kosong. Fungsi pendidikan politik dan pengkaderan partai politik tak lagi berjalan.

“Ini merupakan kemerosotan demokrasi, bahkan dari indeks kita sekarang sudah mengarah pada demokrasi cacat. Kita lihat, semua partai politik sudah memanipulasi hasil sehingga tak ada persaingan politik,” kata Zamzami.

Memang, kata dia Pilwako tetap dapat berjalan jika harus lawan kotak kosong. Sebab hasil akhir nantinya akan ditentukan masyarakat..

Zamzami mengatakan, dari informasi yang ia dapat, sejumlah ketua DPC mengaku telah mengikuti koalisi pusat. Pusat menutup peluang di tingkat daerah.

“Kadang beberapa partai ini merapat pada partai calon pemenang biar mereka dapat jatah kursi dan kue. Tapi ini kan belum final. Bisa saja arah dukungan partai dapat berubah sampai nanti batas waktu pendaftaran,” kata dia.

Belum lama ini ia juga mendengar informasi salah satu bacalon yang namanya santer menjadi penantang Amsakar-Li Claudia yaitu Marlin Agustina mengaku pupus, berat untuk maju setelah melihat dukungan partai banyak ke salah satu pihak. Apalagi partai besar sudah menentukan arah dukungan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis: Engesti

Pos terkait