BATAM (gokepri) – Pengelolaan proyek pipa gas WNTS kembali ke PGN. Batam disiapkan menjadi kota berbasis gas dengan pasokan untuk PLN dan sektor industri hingga 2030.
Pemerintah mengembalikan pengelolaan proyek pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS) ke PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN). Keputusan ini memastikan proyek strategis pasokan gas Natuna–Pemping–Batam kembali berada di tangan BUMN gas tersebut.
Pada 2025, Kementerian ESDM mencabut penugasan PGN melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 20K/MG.01/MEM.M/2025, dengan pertimbangan tidak adanya kemajuan pembangunan fisik pipa WNTS–Pemping.
Alokasi gasnya tetap diperuntukkan bagi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI). Dengan skema ini, pembangunan infrastruktur dan distribusi gas berjalan di dua jalur berbeda: PGN mengurus pipa, PLN EPI memegang alokasi pasokan.
Baca Juga: PGN Targetkan 150 Ribu Sambungan Jargas di Batam, Subsidi LPG Bisa Hemat Rp79 Miliar per Bulan
Sebelumnya, penugasan proyek tersebut sempat dialihkan pada Januari 2026. Kini, PGN kembali menjadi pengelola utama pembangunan jaringan pipa WNTS yang mengalirkan gas dari Natuna ke Pulau Pemping hingga Batam.
Area Head PGN Batam, Wendi Purwanto, menjelaskan gas yang mengalir melalui jalur itu mencapai sekitar 10 BBTUD. Dari jumlah tersebut, sebagian besar dimanfaatkan untuk kebutuhan kelistrikan PLN, sementara sisanya menopang kebutuhan energi di Batam.
“Penugasan pembangunan pipanya kembali ke PGN, sedangkan alokasi gas tetap di bawah PLN EPI,” ujar Wendi.
Menurut dia, PGN kini memusatkan perhatian pada penguatan infrastruktur dan pengembangan hilir gas bumi di Batam dan sekitarnya. Langkah ini diarahkan untuk memperkuat pasokan energi di Sumatera bagian utara dan Kepulauan Riau serta menambah kapasitas distribusi.
Direktur Strategi dan Pengembangan Bisnis PGN, Riza Pahlevi, melihat Batam berpeluang menjadi model nasional kota energi bersih berbasis gas.
“Batam diarahkan menjadi kota berbasis gas, dari rumah tangga, komersial, industri hingga transportasi,” katanya.
Selain jaringan pipa, PGN menyiapkan distribusi non-pipa melalui Compressed Natural Gas (CNG). Skema ini menyasar restoran, hotel, dan pelaku usaha yang belum terjangkau jaringan pipa. Dengan pola tersebut, akses gas menjadi lebih fleksibel.
Pemanfaatan gas bumi di Batam kini meluas. Tidak hanya untuk rumah tangga, tetapi juga menopang industri dan sektor transportasi. Infrastruktur yang kian lengkap menjadi fondasi bagi transformasi energi di kota industri tersebut.
Riza menilai peralihan menuju kota berbasis gas membawa dampak ekonomi. Gas yang lebih efisien dapat menekan biaya energi pelaku usaha, mengurangi ketergantungan impor, serta membantu menahan beban subsidi nasional.
Sebagai kawasan industri dan perdagangan strategis, Batam membutuhkan sistem energi yang stabil dan terjangkau. PGN menargetkan pengembangan infrastruktur gas di wilayah ini berlanjut hingga 2030.
“Ini bukan hanya soal energi, tetapi masa depan ekonomi daerah,” ujar Riza.
Pipa WNTS-Pulau Pemping
Diberitakan, pembangunan pipa gas West Natuna Transportation System (WNTS)–Pulau Pemping senilai sekitar Rp1 triliun diproyeksikan menekan biaya pokok penyediaan listrik sekaligus menjaga daya saing kawasan industri Batam.

Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) Rakhmad Dewanto mengatakan, kepastian pasokan gas domestik menjadi kunci efisiensi pembangkitan listrik berbasis gas yang menopang sistem kelistrikan Batam.
Gas dari sumber yang lebih dekat dan stabil, kata Rakhmad, memberi ruang penghematan biaya logistik sekaligus menjaga struktur tarif listrik tetap kompetitif bagi industri. “Efisiensi pembangkit sangat bergantung pada kepastian pasokan gas,” ujarnya di sela-sela groundbreaking pipa gas WNTS-Pemping di Pulau Pemping, Batam, Selasa (10/2/2026).
Baca Juga: Mengapa Pipa Gas West Natuna-Pemping Penting bagi Batam
Selama ini, sebagian gas Natuna mengalir ke Singapura, sementara Batam bertumpu pada pasokan terbatas dengan biaya lebih tinggi. Melalui pipa WNTS–Pemping, gas diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri dengan kapasitas awal sekitar 33 juta standar kaki kubik per hari, lalu meningkat bertahap hingga 111 BBtud selama masa kontrak 11 tahun.
PLN EPI memastikan seluruh volume gas tersebut dialokasikan untuk pasar domestik. Kepastian jangka panjang ini dinilai penting bagi industri yang sangat sensitif terhadap fluktuasi biaya energi.
Proyek WNTS–Pemping diinisiasi Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia pada 31 Januari 2026. PLN EPI telah menyiapkan pengadaan peralatan utama, penunjukan kontraktor engineering, procurement, and construction (EPC), serta perizinan lingkungan.
Pipa ini terintegrasi dengan pengaliran gas dari Wilayah Kerja Duyung, seiring Perjanjian Jual Beli Gas Bumi antara PLN EPI dan West Natuna Exploration Limited yang diteken pada 11 Juli 2025.
Proyek pipa gas ini sejatinya telah lama direncanakan. Pada 2016, pemerintah menugaskan pembangunannya kepada PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), dengan target rampung pada 2017. Namun proyek itu tak kunjung berjalan.
Pada 2025, Kementerian ESDM mencabut penugasan PGN melalui Keputusan Menteri ESDM Nomor 20K/MG.01/MEM.M/2025, dengan pertimbangan tidak adanya kemajuan pembangunan fisik pipa WNTS–Pemping.
Pipa gas dari Blok A Natuna, khususnya Lapangan Gajah Baru, awalnya dirancang mengalirkan gas ke Batam melalui Pulau Pemping. Pemerintah ingin gas Natuna tak seluruhnya diekspor ke Singapura, melainkan dimanfaatkan untuk kebutuhan energi dalam negeri. Selama ini, keterbatasan infrastruktur dan ketiadaan pembeli domestik membuat gas Natuna belum terserap optimal.
Baca Juga: Pipa West Natuna-Pemping Mulai Dibangun, Batam Amankan Pasokan Gas hingga 2036
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






