BATAM (gokepri) – Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) meningkatkan pemantauan pasokan bahan pokok setelah produksi pangan di sejumlah daerah di Sumatera terganggu akibat bencana alam. Sebagai wilayah kepulauan yang nyaris 90 persen kebutuhan pangannya bergantung pada kiriman luar, kondisi ini langsung mengancam stabilitas harga lokal.
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kepri, Luki Zaiman Prawira, mengatakan gangguan suplai dikhawatirkan memicu lonjakan inflasi. Beberapa komoditas utama, terutama bawang merah dan bawang putih, mulai menunjukkan penurunan pasokan dari sumber asalnya.
“Sumber-sumber itu berkurang, dan itu harus kita antisipasi segera,” ujar Luki, Jumat 28 November 2025. Ia menegaskan risiko terbesarnya adalah harga melambung tinggi. “Kalau bahan bakunya tidak ada, itu berbahaya. Kalaupun ada, risikonya inflasi,” katanya.
Luki menjelaskan, selama ini pasokan bawang Kepri mayoritas didatangkan dari Yogyakarta dan Sulawesi. Namun, gangguan produksi di wilayah Sumatera akibat hujan dan bencana telah memengaruhi rantai pasok secara keseluruhan.
Untuk memitigasi risiko tersebut, Kepri akan mengevaluasi secara menyeluruh neraca perdagangan pangan dan ketersediaan stok di setiap wilayah kabupaten/kota.
Meskipun demikian, Pemprov Kepri menjamin stok pangan secara umum saat ini masih dalam kondisi aman. Pemantauan lapangan akan terus diperketat untuk memastikan ketersediaan benar-benar terjamin hingga ke tingkat distributor.
Pemprov Kepri bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) juga sedang merancang langkah mitigasi lainnya untuk menjaga kelancaran pasokan dan stabilitas harga, terutama menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru.
Baca Juga: Indeks Ketahanan Pangan Vs Inflasi
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News









