Karimun (gokepri.com) – Selesai Tarawih, Randi menerima pesan WhatsApp dari Ivan, sohib kentalnya. Dia menagih janji Randi dua hari yang lalu yang mengajaknya hang out. Dua anak muda berambut gondrong itu sepakat ngopi bareng ke kafe.
Keduanya, kemudian meluncur ke Kafe Potocoffee Milkshake di kawasan Teluk Air, Tanjungbalai Karimun, Jumat, 5 April 2024. Mereka sengaja memilih meja yang agak ke tengah, biar leluasa untuk nongkrong.
Di sana, rupanya telah menunggu Nanda dan Faritz. Mereka berempat sudah kompak berteman sejak di bangku SMA. Bahkan, tempat tinggalnya pun berdekatan di Kampung Tengah.
Nanda dan faritz sudah duduk santai dengan dua cangkir minuman ngetem di meja.
Ivan kemudian memanggil waitress dan memesan secangkir cappucino hangat, sementara Randi memilih segelas ice milkshake.
Jadilah, empat orang anak muda Karimun itu duduk santai sambil cerita-cerita dan tertawa lepas.
Sekitar pukul 23.00 WIB, mereka sepakat bubar. Kali ini, giliran Faritz yang membayar ke meja kasir.

Anak muda dengan stelan kaos hitam lengan panjang ini memang sengaja tak bawa uang tunai. Dia lebih memilih membayar tagihan minuman
kawan-kawannya menggunakan kartu debit.
Kasir kafe pun menggesek kartu debit Faritz menggunakan mesin EDC yang sudah tersedia di konter kasir.
“Kalau dibilang tak bawa uang, ada sih cuma uang kecil aja untuk bayar parkir,” ujar Faritz tertawa sambil berlalu.
Oki Rizkianto Hadibroto (36), selaku owner Kafe Potocoffee Milkshake menuturkan, rata-rata anak muda yang nongkrong di kafenya melakukan transaksi dengan cara non tunai.
“Sekarang ini kebanyakan transaksi pakai non tunai sih, apalagi anak-anak muda malasa bawa uang tunai banyak-banyak,” kata Oki.
Pria yang dipercaya sebagai Ketua HIPMI Karimun ini mengaku, Kafe Potocoffee Milkshake miliknya itu sudah lama melayani transaksi menggunakan non tunai.
“Transaksi non tunai udah lama, kalau gak QRIS BRI atau gak pakai pakai mesin EDC BRI,” ungkapnya.
Oki menyebut, jika dipersentasekan sebenarnya perbandingan antara tunai dan non tunai sudah berbanding 50 persen.
“Kalau dinominalkan, transaksi non tunai itu semalam kisaran 500 ribu an. Kalau weekend di atas satu juta,” tuturnya.
Selain melakukan transaksi non tunai, Oki mengaku juga mendapat pinjaman KUR dari BRI dengan besaran Rp100 juta.
“Saya juga pinjam KUR BRI sebanyak 100 juta. Dana itu saya gunakan untuk membeli mesin racikan kopi. Biasalah, mesin itu kan harus terus diperbarui,” terang Oki.

Kepala BRI Unit Tanjungbalai Karimun, Herbeth Nababan di kantornya mengatakan, hampir seluruh minimarket dan sejumlah kafe di Karimun sudah menggunakan merchant BRI sebagai transaksi.
Kata dia, transaksi pembayaran menggunakan uang tunai dengan non tunai di sejumlah retail di Karimun masih seimbang.
“Hanya saja, masyarakat sekarang lebih banyak menimimalkan uang tunai dalam berbelanja,” ujar Herbeth.
Dikatakan, pembayaran merchant bisa berupa mesin EDC, QRIS (programnya BI) namun dapat digunakan untuk pembayaran BRI.
Bukan hanya itu, sejumlah kafe di Karimun seperti Nadira Cafe dan Potocoffee Milkshake dan beberapa kafe lainnya juga sudah menggunakan mesin EDC.
“Pelanggan kafe kan biasanya anak-anak muda, dan mereka sudah terbiasa membayar tagihan menggunakan merchant BRI,” ungkapnya.
Herbeth mengatakan, ada istilah di kalangan anak muda yang menyebut kalau dompet hanya lah tempat untuk menyimpan kartu dan uang recehan untuk bayar parkir.
“Anak-anak muda sekarang sudah tak lagi menyimpan uang dalam dompet dengan jumlah banyak, mereka hanya menyimpan uang recehan sekedar untuk bayar parkir,” katanya.
Penulis: Ilfitra








