Mengenal Terapi Plasma, Donor Penyelamat Pasien Corona

terapi plasma konvalesen
Agus Turbiantoro, pendonor pertama plasma konvalesen di Batam. Penyintas COvid-19 ini mendonasikan plasma darahnya saat pencanangan gerakan donor plasma di gedung PMI Kota Batam, Senin (25/1/2021). (foto: gokepri/cg)

Batam (gokepri.com) – Batam akhirnya bisa melayani donor plasma konvalesen. Antibodi dalam plasma darah penyintas Covid-19 dimanfaatkan untuk mengobati pasien corona dalam kondisi kritis. Perlu gencar menggugah penyintas menyumbangkan darahnya demi menyelamatkan jiwa.

Agus Turbarianto, 50 tahun, kembali berurusan dengan tenaga medis setelah dinyatakan sembuh dari penyakit akibat virus corona. Senin (25/1/2021) pagi, warga Tiban Indah itu berangkat ke gedung PMI Kota Batam di Batam Center untuk mendonorkan plasma darahnya.

Sekitar 600 cc darahnya diambil untuk mengobati pasien para pasien Covid-19. “Saya menderita Covid pada bulan November 2020 dengan gejala cukup berat,” kata Agus saat pencanangan donor plasma konvalesen di Gedung PMI Kota Batam, Senin (25/1/2021).

Agus mendonasikan plasma darahnya di Gedung PMI Kota Batam, usai seremoni pencanangan donor plasma. Ada dua selang yang terpasang di lengan kiri Agus. Selang tersambung ke sebuah mesin yang berfungsi untuk memisahkan plasma darah dan trombosit. Plasma berwarna kuning yang terpisah akan masuk ke dalam kantong transparan yang terpasang di mesin. Proses pengambilan plasma darah ini bisa memakan waktu 30 menit hingga 60 menit.

Agus menjadi orang pertama di Batam yang menjadi donor plasma untuk pengobatan pasien Covid-19. Dia tertarik membantu para pasien. Total ada tiga orang pendonor saat pencanangan. Dua lagi mendonasikan plasmanya pada sore hari.

Tidak semua calon penyintas yang mau mendonasikan plasma darahnya diterima karena harus memenuhi syarat.

Tiga pendonor pertama di Batam hasil seleksi dari 45 penyintas. Ada satu calon yang belakangan sampelnya tidak lulus di Jakarta. Sampel dikirim ke Jakarta melalui cara Nucleic Acid Test (NAT) untuk memastikan apaka pendonor bebas dari penyakit menular.

Penyintas Covid-19 seperti Agus memiliki antibodi di plasma darahnya yang bisa menetralkan virus corona. Antibodi itulah yang ditransfusikan ke tubuh pasien dalam terapi plasma konvalesen. Terapi ini dijalankan bersamaan dengan pengobatan standar yang sudah diterima pasien. “Hanya terapi tambahan. Sama halnya seperti imunisasi pasif,” kata Kepala Unit Donor Darah PMI Kota Batam Dokter Novia.

PMI Kota Batam menjadi lembaga pertama di Batam yang melayani terapi plasma. Pekan ini setidaknya ada delapan kantong plasma. Layanannya dibuka setiap Senin di Gedung PMI Kota Batam di Batam Center. Pencanangan donor plasma di Batam ini banyak dihadiri pejabat.

PMI Batam menjadi salah satu dari 31 unit donor darah di Indonesia yang bisa menjalankan donor plasma konvalesen. Pemerintah sudah mencanangkan Gerakan Nasional Donor Plasma Konvalesen di markas pusat PMI, Jakarta Pusat, Senin pekan lalu. Mesinnya khusus dan canggih karena dapat memilah komponen darah. Indonesia punya 64 mesin.

Susah Mencari Pendonor

Setelah berhasil menjalankan terapi plasma kovalesen, Dokter Novia memikirkan bagaimana mendorong penyintas menjadi donor plasma. Selain meyakinkan penyintas, banyak juga syarat untuk menjadi pendonor.

terapi plasma kovalesen
Dokter Novia MBiomed, Kepala Unit Donor Darah PMI Kota Batam. (foto: Benews)

PMI berkolaborasi dengan Rumah Sakit dan pemerintah daerah agar mensosialisasikan donor plasma ini. “Cari pendonor tidak gampang karena screening awal ketat sekali,” ujar Novia.

Ia menjelaskan, terdapat sejumlah syarat bagi penyintas COVID-19 untuk mendonorkan plasma konvalesen.

Penyintas harus sudah dinyatakan sembuh dan melalui karantina selama 28 hari. “Plasma boleh diambil setelah dia dinyatakan sembuh, tanpa gejala dan diutamakan pria,” sambung Novia.

Adapun syarat donor plasma yakni, pernah terkonfirmasi positif Covid-19 melalui hasil swab RT-PCR dan/atau swab antigen, mendapatkan surat keterangan sehat atau sembuh dari dokter/rumah sakit setempat, telah bebas gejala Covid-19, usia 18-60 tahun, laki-laki, berat badan minimal 55 kilogram dan tidak memiliki penyakit penyerta yang bersifat kronis seperti gagal ginjal, jantung, kanker, kencing manis, diabetes, darah tinggi tidak terkontrol.

Namun, tak semua penyintas yang memenuhi kriteria di atas bisa langsung mendonorkan plasmanya. Ada beberapa kriteria plasma darah yang ditentukan secara medis yang harus dipenuhi.

Pada tahap selanjutnya, penyintas harus terlebih dahulu melakukan screening lanjutan di Palang Merah Indonesia (PMI) atau rumah sakit yang memiliki fasilitas donor plasma konvalesen. Screening dilakukan untuk mengetahui kelayakan plasma darah yang sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan. Jika dinyatakan cocok, maka penyintas Covid-19 bisa mendonorkan plasma darahnya.

Sedang peluang Kepri memperoleh plasma kovalesen cukup besar karena jumlah penyintas Covid-19 saat ini mencapai 6.979 orang.

Berdasarkan catatan, terapi plasma kovalesen sudah digunakan di banyak negara. Meski masih dalam tahap riset, banyak pasien yang pulih dengan cepat setelah menjalani terapi ini.

China menjalankan terapi ini pada Januari-Maret 2020. Jepang, Korea Selatan, Belanda, Spanyol , Amerika Serikat dan Perancis juga melakukan pengobatan ini.

(can)

|Baca Juga: Tingkat Kesembuhan Pasien Covid-19 di Batam di Atas Nasional

BAGIKAN