Batam (gokepri) – Industri jasa keuangan di Provinsi Kepulauan Riau mencatatkan pertumbuhan positif dan menunjukkan stabilitas serta profil risiko yang terjaga sepanjang 2023. Pertumbuhan ini juga dibarengi dengan likuiditas yang berada dalam tingkat aman.
Menurut Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), Rony Ukurta Barus, pertumbuhan aset bank umum di Kepri secara year-to-date (ytd) hanya tumbuh sebesar 0,69 persen, namun pertumbuhan aset bank secara year-on-year (yoy) tercatat tumbuh 16,35 persen menjadi Rp106,78 triliun (April 2022: Rp91,77 triliun).
“Pertumbuhan aset bank umum di Kepri ini terbilang melampaui pertumbuhan aset bank umum yoy secara nasional yaitu sebesar 7,47 persen,” ujar Rony pada Jumat, 16 Juni 2023.
Selain itu, penyaluran kredit bank umum di Kepri juga mengalami pertumbuhan sebesar 11,71 persen yoy menjadi Rp46,19 triliun (April 2022: Rp41,34 triliun), begitu juga dengan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang mengalami pertumbuhan positif dengan tumbuh sebesar 13,48 persen yoy menjadi Rp75,65 triliun (April 2022: Rp66,66 triliun).
Pertumbuhan penyaluran kredit dan DPK di Kepulauan Riau posisi April 2023 juga tumbuh di atas pertumbuhan nasional yang mencapai 8,08 persen dan 6,82 persen.
“Pertumbuhan positif dari intermediasi bank umum juga didukung dengan perbaikan tingkat risiko kredit. Dimana Non Performing Loan (NPL) bank umum posisi April 2022 sebesar 2,14 persen, yang juga lebih baik dari NPL bank umum secara nasional yaitu sebesar 2,53 persen,” tambahnya.
Namun demikian, terdapat peningkatan tingkat risiko kredit Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPR/S) di Kepulauan Riau, di mana NPL/NPF tercatat sebesar 5,74 persen (Desember 2022: 4,74 persen).
Peningkatan NPL/NPF BPR/S di Kepulauan Riau antara lain disebabkan adanya penyesuaian kebijakan restrukturisasi kredit terdampak Covid-19, sehingga BPR/S melakukan asesmen terhadap debitur terdampak Covid-19 terkait keberlanjutan pemberian restrukturisasi atau dilakukan penetapan kualitas kredit secara normal mengacu pada POJK Kualitas Aktiva Produktif dan Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) BPR.
“Terkait hal tersebut, KOJK Kepri secara intensif akan melakukan pemantauan untuk memastikan perbaikan NPL/F BPR/S di Kepulauan Riau,” kata Rony.
Pasar Modal
Sementara industri pasar modal di Kepulauan Riau hingga April 2023 mencatat pertumbuhan. Jumlah investor tumbuh sebesar 22,78 persen yoy menjadi 110.822 investor.
Persentase pertumbuhan investor terbesar tercatat di Kabupaten Natuna dengan peningkatan jumlah investor sebesar 37,3 persen menjadi 2.194 investor, diikuti Kabupaten Kepulauan Anambas yang meningkat 28,2 persen menjadi 1.023 investor, dan Kabupaten Bintan yang meningkat 27,34 persen menjadi 5.696 investor.
“Adapun investor terbanyak berada di Kota Batam dengan jumlah 75.142 investor dengan tingkat pertumbuhan sebesar 22,43 persen. Kepemilikan saham oleh investor di Kepulauan Riau juga tercatat meningkat signifikan, di mana pada posisi April 2023 tercatat sebesar Rp4,76 triliun, atau meningkat sebesar 71,62 persen yoy,” kata Rony.
Persentase pertumbuhan kepemilikan saham terbesar tercatat di Kabupaten Bintan dengan pertumbuhan sebesar 221,74 persen yoy menjadi Rp105 miliar, diikuti Kota Batam dengan pertumbuhan sebesar 81,73 persen yoy menjadi Rp4,10 triliun, dan Kabupaten Anambas dengan pertumbuhan sebesar 35,64 yoy menjadi Rp2,46 miliar.
Hingga saat ini, terdapat lima perusahaan terbuka (emiten) yang berkantor pusat di Provinsi Kepulauan Riau yang sahamnya dapat dimiliki oleh publik.
“Sehingga, demi keamanan dana masyarakat, para calon investor diimbau untuk memastikan terlebih dahulu legalitas Perusahaan Efek atau Manajer Investasi sebelum melakukan transaksi,” kata Rony.
Baca Juga: Resesi di Depan Mata, OJK Kepri Pantau Likuiditas dan Risiko Kredit Perbankan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








