Karimun (gokepri.com) – Keputusan bijak yang diambil Muhammad Ikhsan Hasibuan (36), mantan honorer di Pemkab Karimun mampu menjadi pelaku UMKM sukses di Karimun.
Ikhsan, berani mengambil langkah untuk berhenti jadi tenaga honor di Disdagkop UMKM dan ESDM Karimun pada 2020 silam demi mengembangkan usaha kerupuknya, Kenara.
Kerupuk Kenara merupakan kerupuk berbahan baku ikan tenggiri dengan berbagai jenis varian yang dibungkus dalam kemasan yang sangat menarik.
Usaha kerupuk Kenara sebenarnya sudah dirintis Ikhsan bersama istrinya, Tirta Damayanti yang juga honorer di PKK Kabupaten Karimun sejak 2018 silam.
Namun, usaha yang mereka geluti saat itu masih bersifat sampingan, sehingga hasil yang didapat juga belum memuaskan.
Kemudian, pada 2020 ketika pandemi Covid-19 mulai melanda, pasangan suami-istri makin bingung mencari tambahan pendapatan.
Akhirnya, dengan kebulatan tekad mereka memutuskan berhenti jadi tenaga honorer dan totalitas dalam membangun usahanya.
“Dengan bismillah, saya berani mengajukan surat resign ke dinas. Saya berfikir bisnis ini harus fokus, gak bisa setengah-setengah,” ujar Ikhsan di Pabrik Kerupuk Kenara miliknya di Komplek Bukit Tembak Asri, Kecamatan Meral.
Setelah fokus, Ikhsan bersama istrinya mulai membenahi manajemen, mulai dari perizinan, kemasan hingga market yang harus diperluas.
Mereka kemudian mengikuti kompetisi dari Kementerian Pariwisata berupa lomba bisnis plan. Dari 8.000 peserta, Kenara berhasil menjadi salah satu pemenang yakni 10 UMKM terbaik dan mendapat hadiah uang tunai Rp20 juta.
Uang hasil pemenang lomba itu kemudian digunakan Ikhsan untuk menambah modal usaha kerupuknya.
Pelan-pelan Ikhsan dan istrinya terus mengembangkan pasarnya dengan mendatangi gerai Indomaret di Batam.
Waralaba ini kemudian mengharuskan Ikhsan mensuplai 18 ribu bungkus kerupuk Kenara untuk 196 gerai Indomaret yang ada di Batam.
“Alhamdulillah, kami masih konsisten hingga saat ini,” sebutnya.
Selain itu, Ikhsan bersama para pelaku UMKM di Karimun lainnya kemudian mengikuti Festival Majestic Johor, Malaysia selama 10 hari.
Di negeri jiran itu, mereka diberi fasilitas stand gratis. Hanya uang transportasi dan akomodasi mereka tanggung sendiri.
“Kami sepakat mengambil peluang ini. Dari sana kami bisa tahu apakah produk Karimun diminati oleh masyarakat sana. Alhamdulillah, 90 persen produk terjual dengan nominal transaksi 6.000 ringgit penjualan,” ungkapnya.
Sepulang Malaysia, Ikhsan bertekad makin mengembangkan usahanya lagi. Dirinya kemudian memberanikan diri untuk mendapatkan pinjaman modal kepada BRI Tanjungbalai Karimun melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR).
Saat itu, dia hanya meminjam Rp25 juta dengan agunan BPKB sepeda motor.
Dengan tambahan modal itu, Ikhsan makin mensuplai bahan baku lebih banyak sekaligus menambah jumlah karyawannya.
Seiring bisnisnya makin berkembang, Ikhsan makin berani menambah pinjaman kepada BRI Tanjungbalai Karimun sebesar Rp90 juta, tanpa agunan.
Tambahan modal itu dia gunakan untuk membeli mesin penggoreng otomatis, freezer yang makin besar, mesin pengering, bahkan kendaraan roda empat sebagai moda transportasi pendukung usaha.
Bukan hanya itu, dengan modal yang besar kini dirinya mampu membeli bahan baku berupa ikan tenggiri dengan jumlah yang besar, bahkan sekali pembelian mencapai Rp9 juta.
Kepala BRI Unit Tanjungbalai Karimun, Herbeth Nababan mengatakan, ada beberapa bentuk usaha yang bisa dibantu dengan KUR diantaranya pelaku usaha nelayan, perdagangan, jasa dan industri rumah tangga.
Menurut dia, KUR juga dibagi atas kategori KUR mikro dan KUR super mikro.
“KUR super mikro dengan plafon Rp1 juta hingga Rp10 juta dan KUR mikro dari Rp11 juta sampai Rp100 juta,” jelasnya.
Menurut dia, berdasarkan aturan terbaru dari Kementerian Koperasi dan UKM, untuk mendapatkan KUR tidak harus pakai agunan.
“Agunan utama yang dinilai itu adalah usaha,” pungkasnya.
Penulis: Ilfitra








