BATAM (gokepri) – Ramon Magsaysay Award Foundation (RMAF), yang sering dijuluki sebagai “Nobel Asia,” kembali menganugerahkan penghargaan kepada lima individu dan satu kelompok pada tahun 2024.
Penghargaan bergengsi ini diberikan kepada mereka yang menunjukkan kepemimpinan, keberanian, dan komitmen luar biasa dalam bidang masing-masing. Sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1958, penghargaan ini telah menjadi simbol kehormatan tertinggi di Asia.
Tahun ini, penghargaan tersebut diberikan kepada Hayao Miyazaki, sutradara animasi legendaris dari Jepang; Farwiza Farhan, aktivis lingkungan dari Indonesia; Gerakan Dokter Pedesaan (Rural Doctors Movement) dari Thailand; Nguyen Thi Ngoc Phuong, dokter dari Vietnam yang memimpin perjuangan melawan dampak Agent Orange; dan Karma Phuntsho, cendekiawan serta mantan biksu Buddha dari Bhutan yang memimpin upaya pelestarian budaya tradisional Bhutan.
Cheche Lazaro, ketua yayasan RMAF, dalam pernyataannya menyampaikan para penerima penghargaan tahun ini mengingatkan dunia bahwa masa depan adalah milik mereka yang berani membayangkan dunia yang lebih baik dan berkomitmen untuk mewujudkan visi tersebut.
Cheche Lazaro, ketua yayasan, menggarisbawahi pentingnya visi yang dimiliki para penerima penghargaan tahun ini. “Mereka mengingatkan kita bahwa masa depan dibentuk oleh keberanian untuk membayangkan dunia yang lebih baik dan dedikasi untuk mewujudkannya,” ujar Lazaro, dilansir Tatler, Selasa, 3 September 2024.
Adapun, Presiden RMAF Susanna Afan menekankan bahwa seleksi yang dilakukan sangatlah ketat. Namun, dengan banyaknya kandidat hebat, memilih dan memeriksa kandidat menjadi tantangan tersendiri.
Mengutip Tatler, berikut adalah daftar lengkap penerima penghargaan Ramon Magsaysay untuk 2024:
- Hayao Miyazaki: Sang Maestro Animasi dari Jepang
Hayao Miyazaki, pendiri Studio Ghibli, dikenal luas atas kontribusinya dalam dunia animasi. Didirikan pada 1985, Studio Ghibli telah memproduksi film animasi yang sangat digemari, termasuk My Neighbor Totoro (1988), Princess Mononoke (1997), Spirited Away (2001), Howl’s Moving Castle (2004), Ponyo (2008), dan The Boy and the Heron (2023).
Hayao Miyazaki dikenal atas komitmen seumur hidupnya terhadap penggunaan seni, khususnya animasi, untuk kemanusiaan, dan memuji pengabdiannya kepada anak-anak sebagai pembawa obor imajinasi.
Film-film Studio Ghibli memiliki pengikut dewasa yang juga setia, tetapi Miyazaki tidak pernah kehilangan fokus orisinal dan utamanya. Baginya, anak-anak tetap menjadi audiens yang jelas dan kritis yang mampu menyerap isu-isu kompleks jika imajinasi mereka dapat diprovokasi dan diarahkan dengan tepat.
Film-filmnya tidak hanya menghibur tetapi juga membawa pesan-pesan kemanusiaan yang mendalam. Miyazaki dianugerahi penghargaan ini karena dedikasinya dalam menggunakan seni animasi untuk memajukan kemanusiaan dan menyebarkan nilai-nilai moral kepada anak-anak.
2. Farwiza Farhan: Pejuang Lingkungan dari Indonesia
Ekosistem Leuser di Indonesia di Sumatera, rumah bagi spesies yang sangat terancam punah, menghadapi ancaman berat dari penggundulan hutan, infrastruktur, dan penegakan hukum yang lemah meskipun berstatus sebagai Warisan Dunia UNESCO dan perlindungan nasional.
Situasinya memburuk pada 2013 ketika pemerintah Aceh menghapuskan Otoritas Pengelolaan Ekosistem Leuser, yang telah berjuang untuk melindunginya.
Alih-alih menyerah, beberapa mantan karyawan Badan Pengelola Kawasan Ekosistem Leuser (BPKEL) berkumpul untuk membentuk organisasi baru yang disebut Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA), yang didedikasikan untuk melindungi, melestarikan, dan memulihkan Ekosistem Leuser.
Pemimpin HAkA sejak awal adalah seorang wanita muda bernama Farwiza Farhan, yang dianugerahi penghargaan Kepemimpinan Baru dari yayasan tersebut atas pemahamannya yang mendalam tentang hubungan penting antara alam dan manusia.
“Dia juga dikenal karena komitmennya terhadap keadilan sosial dan kewarganegaraan yang bertanggung jawab melalui pekerjaannya dengan masyarakat hutan, dan kampanyenya untuk meningkatkan kesadaran akan perlunya melindungi jantung dan paru-paru sumber daya alam yang kaya tetapi terancam punah di negaranya dan Asia,” ungkap pihak Raymon Magsaysay.
3. Rural Doctors Movement (RDM): Penyedia Layanan Kesehatan di Thailand
Cakupan kesehatan universal Thailand, yang diterapkan pada 2002 setelah puluhan tahun diadvokasi oleh para dokter Thailand yang visioner, kini menyediakan perawatan medis gratis bagi warga negara, khususnya bagi masyarakat miskin di pedesaan.
Gerakan Dokter Pedesaan (Rural Doctors Movement/RDM), yang terdiri dari Masyarakat Dokter Pedesaan (RDS) dan Yayasan Dokter Pedesaan (RDF), muncul sebagai kekuatan terpadu para dokter Thailand yang mengadvokasi layanan kesehatan di daerah pedesaan.
RDS beroperasi secara informal, sedangkan RDF adalah LSM formal para dokter di rumah sakit umum.
Pada saat yang sama, pada awal 1970-an, gerakan pro-demokrasi melanda Thailand, yang mengadvokasi kebebasan yang lebih besar dan keadilan sosial-ekonomi. Banyak dokter muda yang idealis bergabung dengan gerakan ini, dan melihatnya sebagai kesempatan untuk memperbaiki ketidakadilan yang mereka lihat di masyarakat Thailand.
Mereka mengorganisir tim medis untuk para mahasiswa yang berunjuk rasa, dan pada 1974, para mahasiswa dikirim ke pedesaan untuk mempelajari kemiskinan dan layanan kesehatan yang tidak memadai.
Dikenal karena kontribusinya yang bersejarah dan berkelanjutan terhadap kesehatan masyarakat, RDM terus mengadvokasi reformasi kebijakan, seperti program perawatan kesehatan yang progresif. RDF juga berjejaring dengan LSM lain, seperti LSM perawat dan apoteker, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan lembaga internasional lainnya.
4. Nguyen Thi Ngoc Phuong: Pejuang Kemanusiaan dari Vietnam
Perang Vietnam, yang berlangsung dari 1955 hingga 1975, meninggalkan trauma mendalam dengan lebih dari tiga juta kematian, sebagian besar warga sipil. Warisan mematikannya masih ada karena bahan kimia beracun TCDD dari Agent Orange, yang digunakan secara luas oleh pasukan Amerika.
Bahan kimia tersebut masih terus menyebabkan masalah kesehatan yang parah selama empat generasi, yang memengaruhi jutaan orang Vietnam.
Nguyen Thi Ngoc Phuong, yang menjadi dokter selama Perang Vietnam, sangat terpengaruh setelah menyaksikan cacat lahir yang parah pada bayi baru lahir, awalnya tanpa memahami penyebabnya.
Hal ini mendorongnya untuk mendedikasikan hidupnya untuk mengungkap kebenaran tentang Agent Orange, mencari keadilan bagi para korbannya, dan membantu mereka yang terdampak melalui penelitian dan pekerjaannya dengan Asosiasi Korban Agent Orange/Dioksin Vietnam (VAVA).
Dikenal karena semangat pelayanan publiknya dan pesan harapan yang terus disebarkannya di antara rakyatnya, Phuong bertekad untuk mencari tahu kebenaran tentang Agent Orange, mencari keadilan bagi para korbannya, dan membantu mereka yang terdampak dengan segala cara yang memungkinkan.
Phuong dan rekan-rekannya menetapkan bahwa orang-orang di daerah yang disemprot dengan Agent Orange menderita cacat lahir tiga kali lebih banyak daripada di tempat lain. Dia menerbitkan penelitiannya dan bergabung dengan Asosiasi Korban Agent Orange/Dioksin Vietnam (VAVA).
Dengan lebih dari 4.000 anggota, VAVA berupaya meminta pertanggungjawaban atas kerusakan yang disebabkan oleh Agent Orange dan memberikan bantuan kepada para korbannya.
5. Karma Phuntsho: Pelestari Budaya dari Bhutan
Bhutan adalah negara berpendapatan rendah yang menghadapi banyak masalah dan tantangan yang dihadapi negara-negara berkembang lainnya seperti pengangguran, layanan sosial yang tidak memadai, dan terkikisnya nilai-nilai tradisional.
Meskipun terkenal dengan “Kebahagiaan Nasional Bruto”, sebuah filosofi pembangunan holistik yang mendapat perhatian di beberapa negara, Bhutan terus menghadapi banyak tantangan. Sekitar 12 persen penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, dan banyak pemuda mencari padang rumput yang lebih hijau di luar negeri. Dengan perubahan yang cepat akibat modernisasi dan globalisasi, Bhutan juga mengalami ketegangan yang parah.
Realitas ini telah menjadi yang terpenting dalam pikiran Karma Phuntsho, seorang pemimpin pemikiran Bhutan yang, sebagai mantan biksu Buddha, memiliki pemahaman yang mendalam tentang tradisi Bhutan.
Phuntsho yang lahir di Bhutan pada 1968 juga merupakan seorang sarjana lulusan Oxford yang merasa perlu membawa Bhutan ke abad ke-21 dengan cara yang penuh perhatian dan peka terhadap budaya.
Baca: Marlin Agustina Raih Penghargaan Seven Media Asia Awards 2024
Karya akademisnya tentang agama Buddha serta sejarah dan budaya Bhutan berfokus pada pengambilalihan kembali pengetahuan tradisional Bhutan dan membuatnya relevan dengan masa kini dan masa depan.
Pada 1999, Phuntsho mendirikan Loden Foundation, sebuah lembaga amal pendidikan yang berkomitmen untuk mempromosikan pendidikan, memelihara kewirausahaan sosial, dan mendokumentasikan warisan budaya dan tradisi Bhutan. Karya-karya Loden Foundation mencerminkan aspirasi dan minat Phuntsho sendiri sebagai seorang ilmuwan dan pembawa perubahan. TATLER ASIA
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News








